Hikayat Radio Rusak

Posted by Nasyithun Izzah Kamis, 12 Juli 2012 0 komentar
Apa yang anda lakukan jika tiba-tiba radio Anda rusak? Apakah Anda akan memukul-mukul radio tersebut sembari berharap bisa hidup kembali? Saya yakin kebanyakan kita akan melakukan hal seperti itu. Permasalahannya jika kita melakukan itu setiap kali radio rusak apakah radio bertambah baik atau semakin rusak?
Jika radio sudah mati barulah dibawa ke tukang reparasi untuk dicari penyakitnya. Kenapa kita memukul-mukul radio kita saat radio itu rusak ketimbang mencari tahu dimana letak kerusakannya? Ada beberapa alasan, diantaranya:
1.       Tidak tahu penyebab kerusakannya
2.       Ingin cara mudah dan cepat
3.       Terbawa emosi dan rasa kesal karena terjadi berulang-ulang.
4.       Tidak ingn repot mencari penyebab masalah dan menemukan solusinya
Tanpa sadar seringkali para orang tua memperlakukan anaknya mirip radio rusak. Ketika anak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan orang tua, mereka serta merta dipukul baik dengan tangan atau kata-kata kasar. Jarang ada orang tua yang mau menyempatkan diri mencari tahu kenapa anaknya melakukan hal yang dalam pandangan orang tua dikategorikan ‘nakal’ tersebut.
Setelah si anak tidak dapat diperbaiki barulah dikirim ke pusat rehabilitasi atau penampungan remaja bermasalah, pesantren, bahkan ada yang singgah di Lembaga Pemasyarakatan.  Mudah-mudahan diantara anak kita tidak ada yang mengalami demikian.
Alasan yang mendasari pun hampir sama:
1.       Kebanyakan orang tua tidak tahu kenapa anaknya melakukan hal seprti itu.
2.       Setiap orang tua ingin cara cepat dan mudah untuk mengatasi perilaku anak.
3.       Sebagian besar orang tua didorong perasaan emosi dan marah.
4.       Sedikit orang tua yang mau bersusah payah mencari solusi.
Seperti radio rusak, awalnya akan memberikan reaksi ‘seolah-olah sembuh’. Tetapi lama kelamaan akan muncul tekanan kejiwaan pada diri anak yang berujung pada perlawanan anak pada orang tua. Jika orang tua mengeluh anaknya saat remaja susah diatur dan suka melawan, coba flash back kebelakang bagaimana orang tua selama ini meperlakukan anak mereka.
Alangkah sedihnya hati para anak jika orang tua terus-menerus memperlakukan mereka seperti radio rusak. Bagaimana jadinya masa depan mereka kelak? Anak yang mengalami tekanan kejiwaan apakah bisa berhasil dalam hidupnya?
Bukti-bukti sudah banyak, bukan hanya di kalangan remaja,  anak-anak pun sudah melakukan tindak kekerasan. Bahkan, beberapa waktu lalu kita melihat budaya kekerasan sudah masuk ke dalam rapat anggota dewan yang terhormat.
Anak adalah buah cinta kasih kedua orang tuanya, laksana permata yang begitu berharga. Saking berharganya sekaya apapun kita tak akan pernah bisa membuat seorang anak. Sungguh ironi jika kita memperlakukan sesuatu yang berharga ini seperti barang rusak yang sewaktu-waktu bisa dibuang ke tong sampah.
Seringkali orang tua menganggap sepele tindak kekerasan yang dilakukan pada anaknya, padahal hal itu akan terekam di otaknya dan akan membetuk perilakunya  saat dewasa.
Mari kita belajar mengelola anak secara tepat, memanajemen anak agar kelak anak tidak menjadi ‘radio rusak’ yang banyak ditemui di rumah-rumah negeri ini. Agar orang tua tidak terkaget-kaget bila suatu hari anaknya tumbuh menjadi pembangkang dan gemar bertindak kekerasan.
Disarikan dari: Indonesian Strong From Home, by Ayah Edy

Baca Selengkapnya ....

Ibu Rumah Tangga? Hebat!

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 10 Juli 2012 0 komentar

Halooo... akhirnya bisa nulis lagi. Sudah lama tangan ini nggak menyentuh keyboard. Lumayan kaku juga sih. Yah, beginilah kalau dihinggapi rasa malas, rasanya nggak ingin ada di depan komputer. Pinginnya tuh tiduuuur aja, mumpung ada waktu dan kesempatan.
Raihan yang sekarang sudah berusia 1,5 tahun, begitu menguras tenaga. Siang harus stand by menemani bermain padahal aku juga masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah, yang seringkali harus dilakukan saat raihan tidur. Tidur pagi/siang sekitar 2 jam diisi dengan mencuci, nyapu, beres-beres. Pas giliran selesai kerjaannya pas juga raihan bangun dan acara bermain pun dimulai lagi, nah kapan istirahatnya?
Malam tak pernah tidur nyenyak, harus bangun beberapa kali. Seringkali minta mimik, atau merengek digigit nyamuk. Tau-tau sudah subuh dan kesempatan tidur malam sudah berakhir.
Pernah beberapa kali sambil mengawasi bermain saya tertidur, tapi lima menit kemudian bangun tergagap-gagap karena Raihan nangis atau ditarik-tarik Raihan yang ingin main kuda-kudaan.
Menjadi ibu ternyata tidak mudah. Meski seringkali dianggap tidak produktif, menjadi Ibu rumah tangga lebih berat dari kerja diluar. Saat seorang wanita memutuskan menjadi ibu dan menjalani perannya di rumah maka pekerjaan 24 jam nonstop telah menanti. Pekerjaan-pekerjaan ibu rumah tangga terlihat sepele tapi sangat menguras tenaga dan waktu. Mencuci, mengepel, memasak, membersihkan kaca, mengasuh anak, menyiapkan sarapan, setrika, melipat pakaian adalah contoh agenda rutin ibu rumah tangga.
Apa sih hebatnya pekerjaan seperti itu? Dilihat sekilas memang tidak ada yang perlu dibanggakan apalagi diapresiasi. Seolah-olah pekerjaan itu memang sudah sewajarnya dan tidak perlu dibesar-besarkan. Tapi seperti kebanyakan hal yang ada di dunia ini, baru terasa penting kalau sudah kehilangan. Seandainya si ibu rumah tangga tidak mau lagi menyelesaikan segala macam tetek bengek itu dan memilih pekerjaan lain di luar rumah apa yang terjadi?
Bisa dipastikan rumah jadi kotor, berantakan, dan sangat tidak nyaman untuk dihuni. Si ayah tidak akan menemukan apa-apa di meja makan. Pakaian kotor akan menggunung. Lantai kotor dan licin, rumah berbau tak sedap. Barang-barang berserakan dimana-mana dan si anak akan lebih senang bermain diluar dari pada duduk manis di rumah.
Lalu langkah apa yang akan diambil untuk mengatasi tragedi terbengkalainya pekerjaan rumah? Kalau punya dana lebih pembantu rumah tangga jadi pilihan utama, tak lupa baby sitter untuk mengasuh anak, terkadang ditambah tukang kebun untuk merawat tanaman, potong rumput, dan naik-naik ke atas genting kalau ada yang bocor. Coba hitung berapa uang yang harus dikeluarkan?
Kalau tak ada uang yah terpaksa semua dilakukan sendiri, kebayang nggak sih para ayah harus bangun pagi buta untuk masak dan menyiapkan sarapan? Atau melihat laki-laki pemimpin keluarga menyapu, mengepel, dan mencuci pakaian? Ditambah menggendong anak kesana-kemari demi menyuapi anaknya yang susah makan? Ih, nggak banget deh, jawab para suami dan ayah.
Penilaian yang tidak adil seringkali membuat ibu rumah tangga bukanlah sebagai profesi. Seolah-olah, wuss, ada begitu saja dan tidak perlu diperhatikan. Padahal ibu rumah tangga berarti menghemat pengeluaran keluarga untuk gaji pembantu dan baby sitter. Selain itu ada hal yang lebih penting yang tidak bisa digantikan dengan uang, yaitu kasih sayang bagi anak-anaknya.
Seprofesional apapun, sebaik apapun, sesayang apapun pembantu atau baby sitter pada anak-anak tidak akan pernah menyamai kasih sayang ibu pada anaknya. Ada ikatan batin yang tidak bisa diganti oleh siapapun. Kelembutan dan kasih sayang seorang ibu dalam mengasuh, menyayangi, dan menegur putra-putrinya tidak akan sama dengan orang lain, bahkan oleh sang kakek atau nenek.
Kalau kita memposisikan diri sebagai anak-anak tentu lebih memilih bersama ibu daripada baby sitter. Kenapa? Karena antara anak dan ibu ada ikatan emosi yang kuat. Anak cenderung merasa nyaman dipelukan ibunya bukan orang lain.
Seringkali kita tidak menyadari ini, hingga suatu saat banyak orang tua terperanjat dan bertanya-tanya, kenapa anak saya jadi susah diatur? Kenapa anak saya tidak mau mendengar perkataan orang tuanya? Anak yang tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh cenderung menjadi anak yang bermasalah dalam perliaku dan kehidupan sosialnya.
Seorang teman pernah ‘nekat’ menitipkan anaknya pada tetangga demi melamar kerja. Persoalannya kelihatan sepele tapi bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga, teman saya itu menderita kebosanan dan kejenuhan. Sebelum menikah dia memang aktif bekerja dan menduduki jabatan penting di beberapa organisasi. Setelah menikah dan hamil ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan kegiatan organisasi.
Setelah sang buah hati lahir lambat laun dia mulai merasakan kejenuhan. Dia yang sebelumnya aktif kesana-kemari dengan kegiatan yang padat harus mengurus anak 24 jam. Tahun-tahun pertama seorang anak memang sangat merepotkan, apalagi dia merantau keluar pulau mengikuti suami, tanpa dukungan keluarga dekat. Bisa dibayangkan betapa menderitanya teman saya itu.
Si suami seringkali harus lembur di akhir pekan, sementara menggaji pengasuh bukan pilihan yang memungkinkan. Teman saya yang lain sering memberi semangat padanya agar bersabar sebab anak adalah amanah yang harus dijaga. Penghasilan suami masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup jadi tidak ada hal yang mendesak agar istri ikut bekerja.
 Namun, suatu hari (mungkin saat itu bosannya sudah mencapai ubun-ubun) dia menitipkan anaknya yang berumur 7 bulan ke tetangga agar bisa melamar kerja. Banyak lamaran yang diajukan tapi selalu kandas karena perusahaan tidak mau menerima wanita yang sudah memiliki anak.
Apakah Anda pernah mengalami hal serupa? Merasa jenuh dan tak berarti karena hanya sibuk berkutat di rumah hari ke hari? Ya, saya pernah. Sempat terlintas untuk kerja agar bisa mengurangi kejenuhan. Tapi suami saya melarang dan berkata bahwa saya sebaiknya menekuni wirausaha yang bisa menjalankan bisnis di rumah sekaligus mengasuh anak kami.
Apakah usaha saya berhasil? Yah, sempat jalan sih, tapi harus berhenti karena ternyata mengurus balita sangat-sangat merepotkan. Tiap kali saya di depan komputer (saya berjualan jilbab online) Raihan selalu ikut nimbrung dan membanting keyboard. Dia itu aktif sekali, sementara kami sudah berkomitmen tidak akan menyerahkan pengasuhan Raihan pada baby sitter.
Lalu terpikir kuliah lagi, kan lumayan saat selesai kuliah (kira-kira saat itu Raihan sudah masuk SD) saya bisa menjadi guru seperti cita-cita saya. Tapi keinginan itu harus ditunda karena (lagi-lagi) Raihan tidak bisa berpisah dari saya. Jadi, sementara ini saya bersabar dan menikmati setiap momen perkembangan Raihan sambil sesekali menulis kalau sempat dan tidak malas hehe.. siapa tau juga Allah berkenan memberikan adik buat Raihan.
Memang tidak mudah menjadi seorang ibu tapi jika ingin memiliki anak yang hebat dan sesuai dengan harapan orang tua ada harga yang harus dibayar. Tenaga, waktu, dan pikiran harus dicurahkan penuh demi anak. Tidak orang hebat atau sukses tiba-tiba muncul begitu saja. Ada proses panjang pendidikan dalam kehidupannya, yang bersumber pada bagaimana cara orang tua mendidiknya.
Kebanyakan para ilmuwan, pengusaha sukses, tokoh-tokoh dunia ber-ibu-kan seorang ibu rumah tangga. Ibu mereka memberikan amunisi yang tak bisa diberikan orang lain dan tidak ada di buku-buku, yaitu kasih sayang, semangat, dan harapan. Anak bisa mendapatkan pelajaran, ilmu, uang, dan pengalaman dari luar. Tapi kasih sayang orang tua hanya bisa didapatkan dari orang tuanya sendiri bukan orang lain.
Orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Karena itu, bersemangatlah para mommy yang sedang mengawal perkembangan putra-putrinya, percayalah menjadi ibu adalah pilihan yang mulia.

Baca Selengkapnya ....

Ketika Kita tak Sejalan dengan Mertua

Posted by Nasyithun Izzah Rabu, 16 November 2011 0 komentar
Zaman terus berkembang dan berubah, begitu pula dengan pola pengasuhan anak. cara mendidik anak zaman sekarang sudah tentu berbeda dengan pendidikan saat kita masih kecil. Sehingga tak jarang hal ini menjadi konflik antara kita dan orang tua sebagai kakek neneknya. Bila tak di tangani dengan tepat bisa-bisa berdampak pada renggangnya hubungan kita dengan orang tua, lebih-lebih bila kita diposisi sebagai menantu. Sudah bukan rahasia lagi bahwa hubungan antara menantu dan mertua rawan menimbulkan konflik. hal-hal sepele bisa berdampak besar jika tidak pandai-pandai menyikapinya.
Berikut adalah cuplikan konsultasi yang di muat di majalah mother & baby edisi november 2011.

Pertanyaan:
Ibu mertua saya kerap berbeda pendapat soal pengasuhan anak saya yang baru berusia tiga bulan. saya selalu berusaha menghindari konflik dengan tersenyum saat menerima sarannya. namun, jika ia tahu saran itu tidak saya jalankan, ia akan protes kepada suami saya. bagaimana ya menyelesaikan konflik ini?

Jawaban:
Memang pola asuh Anda seringkali bertentangan dengan cara orang tua Anda atau mertua. Dan, seringkali pertentanga itu menjadi kendala bagi hubungan baik antara anak dengan orangtuanya atau mertua. Sebenarnya bila dipandang dari sisi kakek-nenek, mereka melihat si Kecil sebagai anak dari anaknya yang tercinta. Si kakek-nenek ini hanya ingin menunjukan cinta mereka dan ingin selalu dekat dengan cucunya.
Namun bisa terjadi bhawa cara mereka ini berbeda dengan cara Anda. ini bisa terjadi karena perbedaan generasi, pengetahuan dan zaman. Anda mendidik Si Kecil dengan cara yang Anda anggap benar. Sementara orang tua, yang merasa telah mendidik Anda, juga merasa bahwa caranya benar. Mereka pasti berpikir, toh anak-anaknya tumbuh dewasa dengan baik.
Bila kejadian ini terjadi pada orang tua Anda, mungkin Anda akan lebih mudah membicarakannya. Mungkin awalnya mereka marah dan menentang, namun mereka akan memaklumi alasana Anda. Tetapi kalau terjadi pada mertua, tentu lebih rumit. Karena bila salah berbicara, kemungkinan terjadinya masalah akan lebih besar. Ini terjadi karena beliau belum mengenal Anda dengan baik, dibanding mengenal anaknya sendiri.
Jadi, langkah paling aman adalah dengan membicaraknnya dengan suami. Sepakatlah dulu dengan suami mengenai pola asuh Si Kecil. Apa yang boleh, apa yang tidak serta nilai-nilai apa yang Anda dan suami ingin tanamkandalam keluarga. Kesepakatan bersama, yang diyakini bersama pasti akan lebih ingin dipertahankan. suami pun akan lebih mudah mendukung Anda saat konflik terjadi. Karena keputusannya merupakan keputusan bersama.
Mintalah suami bicara pelan-pelan pada ibunya, dalam suasana tenang, dengan alasan yang dapat diterima oleh ibu mertua Anda. Apapun masalah Anda dengan mertua, suami adalah orang yang paling tepat untuk membantu menyelesaikan. Jangan menaruh suami di tengah-tengah atau pada posisi serba salah dan harus memilih antara Anda atau ibunya.
Kalau Anda tidak serumah dengan mertua dan hanya bertemu sesekali, biarkan saja masalah itu bila tidak terlalu mengganggu. Toh Anda selalu bisa memperbaikinya saat Anda pulang ke rumah sendiri.

Baca Selengkapnya ....

Gaya Menyusu Bayi Anda

Posted by Nasyithun Izzah Rabu, 26 Oktober 2011 0 komentar
Gaya bayi menyusu bermacam-macam. Ada yang rakus, heboh, skeptis, si penikmat, hingga si madam yang menyusu dengan gaya tenang dan santai. Termasuk yang mana bayi Anda? Apapun gayanya, Bunda harus bisa menyesuaikannya. Simak triknya!

1. Si Rakus
Gaya menyusui: Dengan enerjik, bayi akan menjejalkan puting susu ibunya ke dalam mulut kecilnya. Setelah itu, dia menyedot seperti vacuum, cepat, mantap, dan tidak butuh waktu lama untuk mengosongkan payudara. Dengan konsentrasi penuh dan penggunaan waktu yang sangat efektif, bayi hanya butuh 10 menit untuk mengosongkan kedua payudara. Sayangnya, gaya menyusu ini membuat bayi rentan tersedak karena minum terburu-buru. Pada ibu, kerap menyebabkan puting susu sakit karena dihisap keras dan cenderung kasar.
Tips menyusui:
- Susui sebelum dia lapar. Jangan menunda menyusui karena akan membuatnya semakin panik menyusu.
- Susui bayi dalam posisi bayi setegah berdiri agar ASI yang deras - karena dihisap cepat - dapat langsung        mengalir ke dalam perutnya.
- Jangan pecah konsentrasinya, misalnya dengan mengajaknya mengobrol saat ia menyusu, karena akan membuat bayi tersedak.
- Pastikan ia cukup disendawakan, karena minum ASI dengan bergegas membuatnya banyak udara tertelan.
- Bila puting Anda luka, oles dengan tetesan ASI dan biarkan luka mengering sendiri.

2. Si Penikmat
Gaya menyusui: Baginya, ASI adalah menu super istimewa. Itu sebabnya ia merayakan setiap momen menyusui. Di awal menyusui, dia hanya mencicipi ASI sedikit, setelah itu ada jeda istirahat untuk "menghayati" rasanya. Berikutnya, dimulailah sedotan sesungguhnya, seolah-olah dia tengah menikmati main course. Minum ASI bagi bayi tipe ini, lebih dari sekadar memenuhi rasa dahaga. Ketika menikmati ASI, dia akan membuat kontak mata dengan bunda, menikmati sentuhan lembut bunda, dan banyak tersenyum.
Tips menyusui:
- Karena waktu yang dibutuhkan untuk membuat bayi kenyang, sangat lama, pilih posisi menyusui yang nyaman bagi Anda, misalnya menggunakan bantal menyusui. Dengan cara ini, Anda terhindar dari rasa pegal pada tangan, pundak dan leher.
- Pusatkan perhatian pada bayi, seperti, membalas kontak matanya dan tersenyum saat dia tersenyum.

3. Si Sibuk
Gaya menyusu: Bayi ini terlihat heboh sejak sebelum disusui. Meski pun tidak sedang lapar, ketika melihat ibu membuka bra, dia sudah bergerak-gerak dengan antusias. Begitu diletakkan pada posisi menyusu, dia akan menyambar puting. Sambil menyusui, tubuhnya - kaki atau tangan - bergerak-gerak atau menggeliat. Mulutnya banyak bersuara. Bila ada bebunyian dari arah lain yang menarik hatinya, dia akan menoleh ke arah tersebut, sambil tetap mengisap puting. Setelah kenyang, puting dilepaskan dalam satu hentakan.
Tips menyusui:
- Tenangkan dia sebelum menyusuinya, misalnya, dengan mengajaknya berjalan-jalan sejenak.
- Susui sebelum bayi lapar.
- Pilih posisi menyusui yang membuat bayi sulit untuk menggeliat-geliat, contohnya, posisi menyusui sambil memegang punggungnya.

4. Si Skeptis
Gaya menyusui: Malas-malasan, seperti enggan menyusu. Dia pun sering menguap dan mengantuk saat menyusu - memberi kesan bosan, tidak tertarik dan tidak bersemangat. Itu sebabnya, terkadang Anda tergoda untuk memaksanya minum ASI, meski pun dia tidak menginginkan. Padahal, cara itu membuat keadaan semakin parah, karena bayi merasa dipaksa.
Tips menyusui:
- Jangan menyerah atau tergoda memberinya susu dari botol yang mengalirkan cairan lebih deras daripada puting.
- Bila dia kurang minum ASI - salah satu indikatornya adalah berat badan yang kurang - berilah ASI perah dengan cara disuapi pakai sendok, menggunakan gelas minum khusus atau menggunakan pipet, sehingga bayi termotivasi untuk minum ASI lagi.
- Belaian, belaian, belaian. Penting bagi bayi tipe ini karena kontak kulit dengan ibu akan merangsang produksi hormon yang membuatnya merasa dekat dengan ibu.
- Buatlah jadwal menyusui yang lebih sering meski sebentar-sebentar, misalnya, setiap jam sekali.

5. Si Madam
Gaya menyusui: Makhluk kecil yang anggun, tenang dan berkelas. Pembawaan itu tampak pula dalam gayanya menyusu, yaitu, tenang, santai (terkadang terasa lamban!), pokoknya, tidak mau diburu-buru. Pola menyusu misalnya, menelan ASI seteguk, istirahat, mengisap dua teguk, istirahat. Di tengah menyusu, sesekali dia berhenti untuk siesta - tidur sejenak!
Tips menyusui:
- Karena bayi tidak mau menyusu dengan cepat dan tidak mau diburu-buru, sisihkan waktu yang lebih lama untuk menyusuinya.
- Bila dia tertidur sebelum selesai menyusu, tepuk lembut bokongnya atau tarik puting sedikit untuk membangunkan dan membuatnya menyusu lagi. Jangan dikagetkan, karena dia akan marah dan menangis.
- Posisi yang tepat akan membuatnya lebih konsentrasi saat menyusu, misalnya, menyusu dengan tubuh bayi ditegakkan.
- Tempat tidur bukan lokasi menyusu yang tepat - kecuali saat menyusu di malam hari. Lebih baik, susui dia di atas sofa, posisi Anda duduk tegak dan kaki menyentuh lantai.

Sumber: www.ayahbunda.co.id

Baca Selengkapnya ....

Gordyn jam karet

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 25 Oktober 2011 0 komentar

Sejak awal menikah suami sudah memutuskan akan menjadi kontraktor. Bukan kontraktor yang berkutat pada pembangunan gedung atau rumah, tapi sesuai dengan namanya yang mengandung kata kontrak maka kami akan hidup dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain. Bukan karena kami tak ingin membeli rumah, atau tidak suka punya rumah. Bukan pula karena kami terinspirasi gaya hidup manusia purba yang nomaden. Namun lebih karena kami belum memutuskan akan membuat home base dimana. Suami yang bekerja di kantor pelayanan pajak, atau teman-teman saya menyebutnya “anak buah gayus”, tidak memungkinkan untuk menetap di salah satu kota. Psst… tapi suami saya tidak korupsi lho.. bener deh nggak korupsi hehe…

Karena menempati rumah kontrakan pula sehingga kami tidak berniat untuk menghias rumah dengan berbagai macam perabotan ataupun mendekor ulang rumah agar tampak cantik (begitulah watak sebagian besar pengontrak). Kalau sudah habis masa kontrak kami juga akan pindah, jadi tidak perlu repot dengan desain-desain yang rumit. Praktis-praktis aja lah. Itu pula sebabnya kami tidak memiliki kursi dan meja di ruang tamu. Jika ada tamu yang kebetulan mau duduk cukup kami hamparkan karpet seperti di rumah makan lesehan.

Begitu pula dengan jendela. Awalnya kami tidak berniat memesan gordyn atau tirai, karena nanti juga pindah. Kalau pindah sayang rasanya kalau si gordyn tidak ikut dibawa, tapi dibawa pun bingung juga, kan tidak pasti di rumah kontrakan yang baru ada jendelanya, kalaupun ada belum tentu ukurannya pas, kalau ukurannya pas belum tentu juga jumlah jendelanya sama. Jadi jalan pintasnya suami menutup jendela dengan kertas warna-warni, sekedar menghalangi pemandangan dari luar rumah.

Namun ternyata lambat laun kami merasa perlu juga memesan gordyn dan ini disebabkan tingkah laku anak pertama kami, Raihan, yang sedang belajar jalan. Daun jendela yang rendah menjadi tempat favorit untuk pegangan saat berdiri. Sementara tangan kecilnya sibuk menarik-narik kertas minyak penutup jendela sehingga menyisakan lubang yang besar.

 Akhirnya suami memesan gordyn pada tanggal 17 Agustus dan dijanjikan akan selesai tanggal 27 Agustus. Berhubung ada cuti lebaran kami mudik ke rumah orangtua suami tanggal 27 Agustus, gordynnya diambil habis lebaran aja deh, pikir kami. Hari sabtu atau H+3 kami sudah melakukan arus balik, kan senin suami ngantor lagi. Tapi satu minggu setelah lebaran tokonya tutup, apa masih liburan ya? Hari demi hari kami menunggu, akhirnya tanggal 10 september si toko gordyn buka juga. Dengan perasaan yakin suami menemui empunya toko. Tapi apa dikata, ternyata gordyn yang kami pesan belum jadi sodara-sodara. What? Bukannya ini sudah 2 minggu dari tanggal yang dijanjikan. Alasannya sih karena lebaran jadi pesanan belum bisa diselesaikan. Lalu si pemilik toko, yang masih muda, mengatakan 10 hari lagi gordyn baru bisa diambil.
Bagaimana ini padahal seharusnya sebelum hari raya gordyn kami sudah selesai, tapi nyatanya belum kelar juga. Dan yang paling membuat tidak habis pikir (katanya) alasannya adalah lebaran jadi pesanan belum bisa diproses ke tukang jahit. Alhasil berkuranglah kredibilitas toko gordyn ini di mata saya, bagaimana bisa mendapat kepercayaan konsumen jika pesanan molor sampai lebih dari 3 minggu?

Suami bilang, biasalah pengusaha muda masih merintis jalan. Hmm.. mungkin ada benarnya. Mungkin si pemilik toko sedang berusaha menjadi entrepreneur sukses, dan ini adalah prosesnya. Apalagi saya juga bercita-cita menjadi seorang pengusaha wanita, jadinya kekesalan saya berhasil diredam. Kalau saya sampai marah-marah pada si pemilik toko bisa saja suatu hari nanti ganti saya yang akan dimarahi oleh pelanggan yang tidak puas. Saya termasuk penganut paham bahwa semua perbuatan akan memperoleh balasannya. Mudah-mudahan gordyn saya cepat jadi ya..

Baca Selengkapnya ....
TEMPLATE CREDIT:
Tempat Belajar SEO Gratis Klik Di Sini - Situs Belanja Online Klik Di Sini - Original design by Bamz | Copyright of Ummi Raihan.