Tampilkan postingan dengan label mendidik anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mendidik anak. Tampilkan semua postingan

Mendidik Anak Itu... Penting!

Posted by Nasyithun Izzah Kamis, 17 Januari 2013 0 komentar

Meski anak adalah harta yang sangat berharga sebagian orang menganggap memilki anak adalah sebuah kewajaran. Ketika dua orang menikah selanjutnya pastilah punya momongan. Apalagi kalau setelah satu dua bulan menikah si istri langsung hamil, jadi tidak perlu merasakan penantian panjang. Bahagia itu pasti, tidak ada orang yang tidak bahagia dengan kehamilan pertama dalam sebuah pernikahan.
Namun seperti yang dikatakan diawal punya anak tidak lebih dari konsekuensi logis sebuah pernikahan. Orang tua lalu melakukakan hal-hal yang biasa dilakukan orang-orang misalnya memeriksakan kandungan setiap bulan, mengikuti pantangan-pantangan yang sering kali tidak terbukti kebenaranannya, melakukan tigabulanan, tujuh bulanan yang semua itu tidak ada dalam syariat islam. Tapi mereka justru melupakan hal yang penting yaitu pendidikan anak.
Pendidikan anak sangat penting untuk direncanakan, bukan hanya menikah. Pola asuh seperti apa yang akan diterapkan pada anak-anak dan bagaimana menyikapi bakat-bakat alami mereka. Sangat tidak adil jika kehidupan mereka—anak-anak yang luar biasa ini—terabaikan, mengubur bakat mereka dan menjadikan mereka manusia-manusia yang hanya menunggu pagi saat malam dan menunggu malam saat pagi.
Banyak yang mengatakan let it flow sajalah atau biarkan mengalir mengikuti air atau arus kehidupan tapi tidaklah sesuatu itu yang mengikuti arus itu kecuali berakhir di comberan.  Jika ingin menjadi pemenang maka yang harus dilakukannya adalah tidak mudah terbawa arus, karena arus itu melenakan dan sedikit demi sedikit membawa pada kehancuran.
Melelahkan memang namun tidak ada keberhasilan tanpa usaha. Setiap usaha tidak selalu berujung keberhasilan, tapi keberhasilan mutlak memerlukan usaha. Demikian juga dalam mengasuh anak, tanpa perencanaan maka anak akan tumbuh apa adanya, tanpa punya prinsip hidup, terhanyut dalam budaya permisif (serba membolehkan) dan pragmatis (mengutamakan kepraktisan tanpa memikikan akibat jangka panjang). Kondisi ini hanya akan melahirkan generasi ‘buruh’ yang mengharapkan mendapatkan pekerjaan, konsumtif, dan mati kreativitasnya.
Saat ditanya apa harapan orang tua bagi anaknya? Banyak yang berkata ingin anaknya menjadi anak yang soleh, berbakti pada orang tua, dan bermanfaat bagi masyarakat. Tapi berapa banyak yang bersungguh-sungguh mewujudkannya? Berapa banyak orang tua yang mau bersusah payah belajar, mempelajari dengan kesabaran bakat-bakat anaknya?
Contoh kecil saja apa yang Anda lakukan jika tiba-tiba anak Anda menumpahkan makanannya, lalu mengacak-ngacaknya dan terakhir mengusapkan pada rambutnya seolah-olah sedang keramas? Berteriak? Marah? Atau panik? Mengatakan bahwa makanan itu tidak boleh dibuat mainan sambil melotot dan mengeluarkan gerutuan sepanjang kereta api?
 Raihan pernah melakukannya. Saat terlepas dari pengawasan dia memasukkan kedua tangannya dalam mangkok menumpahkannya lalu dengan mengusap-usap rambutnya. Terkejut tentu saja, tapi sebenarnya hal itu tidak perlu memancing reaksi berlebihan. Makanan yang tumpah bisa dibersihkan, rambut yang kotor bisa keramas, mudah bukan? Tak perlu mengeluarkan energi lebih dengan marah dan menyalahkan anak, karena hatinya bisa terluka. Ih, masa sih anak dua tahun bisa sakit hati? Tentu saja bisa sodara-sodara! Memang tidak kelihatan tapi itu akan tersimpan dalam alam bawah sadar karena anak usia 0-5 tahun gelombang otaknya berada dalam kondisi alfa. Artinya semua yang Anda lakukan dan katakan direkam tanpa proses penyaringan dan itu baru akan muncul saat pikiran sadarnya mendominasi otak. Jadi jangan heran bila saat SD anak suka membantah dan pemarah pada adiknya, Andalah yang mengajarkan pertama kali padanya.
Salah satu modal utama bagi orang tua dalam mendidik anak adalah jangan marah. Rasulullah bersabda, “Janganlah marah, maka bagimu surga.” Ternyata marah adalah induk semua kejelekan, saat marah seseorang tidak bisa mengontrol dirinya dan melakukan tindakan yang seringkali disesali saat kemarahan reda. Kemarahan orang tua bisa menghancurkan harga diri anak, melukai hatinya, dan menimbulkan dendam. Padahal salah satu amalan yang bisa mengantarkan pada surga adalah doa anak yang shalih, tapi bagaimana bisa mendapatkan doa anak jika anak merasa kecewa pada orang tua?
Mungkin orang tua merasa tidak adil, sebab orang tua sudah melahirkan, membesarkan, menyekolahkan, memberikan pakaian, makanan, perlindungan masa hanya karena dimarahi tidak mau mendoakan orang tua, tidak mau berbakti? Seperti kata pepatah cinta orang tua sepanjang jalan, cinta anak sepanjang galah. Cinta orang tua selalu lebih besar dari anak, demikian juga yang terjadi antara kita dan orang tua kita serta kita dan anak-anak kita. Coba tanya pada diri sendiri saat dimarahi orang tua dulu bagaimana perasaan kita?
Sebenarnya semua anak tidak pernah punya keinginan membuat orang tua marah (betul,kan? Apakah kita sebagai anak punya keinginan membuat orang tua marah?). Marah itu muncul saat anak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan orang tua. Bisa saja orang tua yang benar dan anak yang salah, atau sebaliknya. Tapi meskipun salah tidak sepantasnya orang tua memarahi secara berlebihan (tapi tidak usah mengingat-ingat perlakuan orang tua dulu karena pendidikan yang belum semaju sekarang sehingga berimbas pada ketidak tahuan mereka, sekarang saatnya kita merubah kebiasaan itu). Ketika menjatuhkan piring contohnya seringkali orang tua langsung naik pitam dan mencela anaknya macam-macam, padahal berapa sih harga piring? Apakah sebanding dengan perasaan anak yang kita cintai terluka?
Tapi tentu tidak berarti orang tua menjadi lemah dan memanjakan anak. Menuruti semua keinginan anak dan membiarkannya melakukan kesalahan justru akan menghancurkan hidupnya. Pada hal-hal yang prinsip bersikap tegas itu penting. Misalnya saat anak usia 10 tahun tidak mau solat, tidak mau mengaji dan melalaikan kewajibannya pada agama. Tapi tentu ada caranya, tegas bukan berarti kasar atau marah. Jelaskan padanya kenapa itu dilarang, kenapa harus melakukan ini, kenapa bersikap demikian, bicarakan dengan baik-baik. Anak juga merasa bahagia bila dihargai, dan tidak perlu merasa terpaksa dalam mengikuti perintah orang tua.
 Mendidik anak tidaklah mudah, apalagi bila bakat anak tidak sesuai dengan harapan orang tua. Orang tua ingin anaknya meneruskan bisnis keluarga tapi ternyata dia lebih suka menulis. Seorang ibu ingin anaknya menjadi guru tapi si anak ternyata lebih betah berkutat di dapur, bila tidak ada kesabaran tentu ini bisa menjadi sumber masalah. Bahkan anak dengan bakat khusus yang luar biasa seringkali memilki perilaku yang luar biasa pula, kalau orang tua tidak pandai menyikapi justru akan menghancurkan anak selain kepala yang pusing menghadapi tingkahnya. Mungkin saja seorang anak yang punya kemampuan khusus dalam teknik akan sering membongkar barang-barang di rumah,mainan baru beli dibongkar, jam dibongkar, radio dipreteli, sepeda dilepas satu persatu, bisa Anda bayangkan apa yang terjadi jika orang tua tidak mengerti bakat anaknya?
Anak tidak bisa tumbuh menjadi pribadi yang hebat dengan sendirinya, ada peran orang tua dan lingkungan yang membentuknya. Maka jadilah orang tua yang mengerti, kurangi marah, dan luangkan waktu sejenak untuk mendengarkan keluh-kesahnya, harapan-harapannya, dan ketidaksukaannya. Setelah itu carikanlah lingkungan yang baik, yang menunjang bakatnya, dekatkan denga orang-orang yang berkualitas, sebab seseorang sangat dipengaruhi dengan siapa ia bergaul.
Salam hangat.

Baca Selengkapnya ....

Anak, Pekerjaan, dan Pengasuhan

Posted by Nasyithun Izzah Kamis, 03 Januari 2013 1 komentar

Apakah Anda mencintai anak Anda? Tentu saja! Tidak diragukan lagi setiap orang tua secara fitrah akan mencintai anaknya. Andai perasaan seperti ini tidak ada maka manusia tidak akan ada di dunia ini. orang tua tidak akan sabar memelihara anak-anak mereka, tidak peduli terhadap kebutuhan hidup mereka, cuek saja saat anak sakit. Bahkan kecintaan orang tua begitu besarnya sampai tak pernah terpikir untuk meminta imbalan atau ganti rugi pada anaknya.
Apalagi bagi pasangan yang sudah lama mengharapkan kehadiran buah hati, anak adalah harta yang tak ternilai, jauh lebih berharga dari emas, rumah, tanah, atau mobil. Mereka melakukan berbagai macam cara dari yang realistis sampai mistis. Ada yang menempuh jalan sesuai syariat ada juga yang malah terjerumus pada kemusyrikan. Sungguh luar biasa arti seorang anak, anak yang lahir dari darah daging sendiri.
Lalu ketika sang buah hati lahir apa yang dilakukan orang tua? Pastilah mereka akan merawat dengan sebaik-baiknya, memberikan susu terbaik, membelikan pakaian yang lucu-lucu, mainan berlimpah, hingga mendesain kamar khusus bagi anak. Saat orang tua melihat anaknya tumbuh sehat, gemuk, lincah, berjalan tertatih, belajar bicara, dan bisa menghitung satu –dua-tiga betapa bahagianya. Seolah celotehan balita yang tidak jelas bicaranya lebih merdu dari suara penyanyi terbaik manapun.
Namun sayangnya banyak orangtua yang ‘menelantarkan’ anaknya dalam hal pendidikan dan kasih sayang. Pendidikan dipandang cukup oleh orang tua jika sudah bisa memasukkan anaknya ke TK mahal, SD prestisius, SMP favorit sampai universitas terkenal. Tidak ada yang lebih baik daripada menempatkan anaknya diantara anak-anak pintar dan sekolah terbaik. Salahkah? Tentu tidak, sekolah yang baik tentu sedikit banyak akan membawa pengaruh dalam kehidupannya.
Tapi sebenarnya sekolah pertama dan utama adalah keluarganya, namun disinilah anak tidak mendapat pendidikan yang semestinya. Sekarang ini jamak kita lihat para ibu keluar rumah untuk bekerja, memberikan pengasuhan anak pada sang nenek, baby sitter, atau pembantu. Bahkan kalau dihitung-hitung gaji tiap bulan bila dibayarkan pada baby sitter dan pembantu ternyata hampir impas.
Meski dianggap kuno, secara kodrat ayahlah yang bertugas mencari nafkah. Itu karena para ayah diberikan kelebihan fisik yang kuat, pemikiran yang stabil, tidak mudah terpengaruh emosi, dan bila pulang malam lebih bisa menjaga dirinya (kebayang kan bila wanita pulang larut malam? Jalanan adalah tempat kejahatan). Selain itu ayah cenderung bersifat keras, kurang sabar, dan kasar sangat tidak cocok dalam mengasuh anak-anak. Apalagi anak-anak selalu punya tingkah ‘ajaib’ yang menurut orang tua seringkali tidak masuk akal.
Lalu kalau keadaan ekonomi kurang apakah istri tidak boleh bekerja? Bekerjanya istri harus mendapat ijin suami, dalam syariat islam seorang istri hanya bertugas melayani suami dan mengasuh anak-anaknya. Bahkan jika mampu suami harus mencarikan orang untuk membantu urusan rumah tangga  agar istri lebih fokus mengasuh anak. Kalau seandainya mengalami kekurangan dalam penghasilan lebih utama istri bekerja di rumah, sesuai dengan keterampilannya. Sehingga anak tetap ada dalam pengawasan, karena semua yang terjadi pada anak-anak akan menjadi landasan kehidupannya kelak dewasa.
Kalau tidak punya keterampilan? Tidak mungkin! Allah pasti memberikan kelebihan pada setiap hambaNya. Ada yang pintar masak, menulis, membuat kerajinan, menyulam, merajut, membuat kripik, merias, dan berbagai keterampilan lain. Kalau merasa tidak punya juga coba lihat pendidikan Anda, bagi sarjana psikologi  bisa membuka klinik konsultasi di rumah, bagi yang SMA nilai matematikanya bagus bisa memberi les pada anak SD (secara matematika SD kan belum seruwet matematika SMA hehe), kalau yang prestasi akademik dan keterampilan pas-pasan masih cara lain. Misalnya jadi makelar barang-barang, jadi reseller baju, sepatu, buku, lalu promosi ke komunitas arisan, ibu-ibu tetangga, milis, facebook, twitter, pokoknya banyak cara untuk menambah penghasilan tanpa perlu bekerja di kantor, toko, bank, yang pasti menyita waktu yang amat berharga bagi perkembangan anak.
Kalau dipikir-pikir sebenarnya Allah tidak akan lupa memberi rejeki pada hambaNya, tinggal kita mau bersyukur atau tidak. Bila seorang istri tidak bekerja Allah akan memberikan rejeki itu lewat suaminya. Misalnya suami jadi sering dapat bonus, suami naik jabatan, suami dapat pekerjaan yang lebih baik, atau dagangan suami jadi tambah laris, bisnis maju, karier melesat. Terus karena istri fokus dirumah melayani suami maka suami merasa tenang dan bahagia berdekatan dengan istri, nah pada saat itu biasanya suami jadi loyal, apa yang diminta istri diberikan (asal mintanya nggak keterlaluan ya). Enak kan nggak kerja tapi tetep dapat uang buat beli baju, jajan, sepatu, tas, dll hehe...
Banyak teman saya yang mengeluh betapa repot dan capeknya saat mengasuh anak terutama balita. Mereka lebih nyaman bekerja karena merasa lebih eksis, percaya diri, dan bisa melepaskan kepenatan di rumah. Memang tantangan utama menjadi ibu rumah tangga adalah lelah dan bosan. Bagaimana tidak bosan bila dari membuka mata sampai menutup mata yang dikerjakan sama, bahkan tengah malam harus siap-siap bangun bila anak rewel. Berbeda bila bekerja, bisa bertemu orang-orang, bercanda, makan siang bersama rekan, perjalanan dinas, bahkan rasanya pekerjaan seberat apapun di kantor lebih baik daripada seharian mendekam di rumah bersama anak.
Padahal saat hamil mereka terlihat sangat bahagia, berbagai status berbunga-bunga di jejaring sosial seolah ingin berkata pada dunia “Woi, sebentar lagi gue akan punya bayi!”. Tak sabar menunggu jadwal kunjungan dokter untuk mengintip si dedek yang sedang tumbuh di rahim. Namun ketika anak yang ditunggu-tunggu lahir, tiba-tiba mereka merasa kelelahan, kerepotan, kebosanan, hingga akhirnya bersyukur bisa kembali bekerja.
Saya yakin tidak semua ibu demikian, tapi yang perlu disadari bahwa pengalaman pernah bekerja secara tidak sadar menjadi pembanding dalam mengasuh anak. Sehingga para ibu menjadi tidak sabar dan telaten. Saya pun mengalaminya, saat menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga maka hal yang paling membuat saya tertekan adalah lelah, bosan, dan merasa tidak berguna. Seolah menjadi ibu rumah tangga sangat tidak ada harganya, apalagi bila melihat teman yang kerja di kantor-kantor berpakaian rapi, cantik, dan modis. Sangat berbeda dengan saya yang sering memakai pakaian rumahan, itupun baunya sudah tidak karu-karuan campur baur antara bumbu masakan, keringat, dan ompolnya Raihan. Rambutpun lebih banyak berantakan karena sering jadi ajang mainan anak saya yang luar biasa kelakuannya.
Tapi saya tidak mau lama-lama hanyut dalam perasaan yang membuat saya semakin jatuh. Ketika menikah maka saya sudah siap untuk total di rumah, apalagi ada hadist yang mengatakan bila istri meninggal dan suami ridha kepadanya maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga. Kemudian saya mencoba menikmati peran saya, mengisi waktu disela-sela pekerjaan rumah tangga dan mengasuh Raihan dengan melakukan hobi contohnya menulis di blog seperti ini. Selain itu saya juga suka membuat kue-kue, saya yakin suatu saat kemampuan ini akan berguna dan insya Allah dicatat sebagai amal kebaikan.
Sepertinya tulisan ini sudah terlalu panjang, meski tidak pas lebih baik dipotong di sini saja. Insya Allah dilanjutkan lagi. Apalagi ini adalah kesempatan berharga untuk tidur, karena Raihan pun sedang tidur, lumayanlah merebahkan badan barang setengah jam, sebelum dia bangun dan menguasai laptop untuk main game dan nonton upin ipin.
Salam hangat.

Baca Selengkapnya ....

Hikayat Radio Rusak

Posted by Nasyithun Izzah Kamis, 12 Juli 2012 0 komentar
Apa yang anda lakukan jika tiba-tiba radio Anda rusak? Apakah Anda akan memukul-mukul radio tersebut sembari berharap bisa hidup kembali? Saya yakin kebanyakan kita akan melakukan hal seperti itu. Permasalahannya jika kita melakukan itu setiap kali radio rusak apakah radio bertambah baik atau semakin rusak?
Jika radio sudah mati barulah dibawa ke tukang reparasi untuk dicari penyakitnya. Kenapa kita memukul-mukul radio kita saat radio itu rusak ketimbang mencari tahu dimana letak kerusakannya? Ada beberapa alasan, diantaranya:
1.       Tidak tahu penyebab kerusakannya
2.       Ingin cara mudah dan cepat
3.       Terbawa emosi dan rasa kesal karena terjadi berulang-ulang.
4.       Tidak ingn repot mencari penyebab masalah dan menemukan solusinya
Tanpa sadar seringkali para orang tua memperlakukan anaknya mirip radio rusak. Ketika anak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan orang tua, mereka serta merta dipukul baik dengan tangan atau kata-kata kasar. Jarang ada orang tua yang mau menyempatkan diri mencari tahu kenapa anaknya melakukan hal yang dalam pandangan orang tua dikategorikan ‘nakal’ tersebut.
Setelah si anak tidak dapat diperbaiki barulah dikirim ke pusat rehabilitasi atau penampungan remaja bermasalah, pesantren, bahkan ada yang singgah di Lembaga Pemasyarakatan.  Mudah-mudahan diantara anak kita tidak ada yang mengalami demikian.
Alasan yang mendasari pun hampir sama:
1.       Kebanyakan orang tua tidak tahu kenapa anaknya melakukan hal seprti itu.
2.       Setiap orang tua ingin cara cepat dan mudah untuk mengatasi perilaku anak.
3.       Sebagian besar orang tua didorong perasaan emosi dan marah.
4.       Sedikit orang tua yang mau bersusah payah mencari solusi.
Seperti radio rusak, awalnya akan memberikan reaksi ‘seolah-olah sembuh’. Tetapi lama kelamaan akan muncul tekanan kejiwaan pada diri anak yang berujung pada perlawanan anak pada orang tua. Jika orang tua mengeluh anaknya saat remaja susah diatur dan suka melawan, coba flash back kebelakang bagaimana orang tua selama ini meperlakukan anak mereka.
Alangkah sedihnya hati para anak jika orang tua terus-menerus memperlakukan mereka seperti radio rusak. Bagaimana jadinya masa depan mereka kelak? Anak yang mengalami tekanan kejiwaan apakah bisa berhasil dalam hidupnya?
Bukti-bukti sudah banyak, bukan hanya di kalangan remaja,  anak-anak pun sudah melakukan tindak kekerasan. Bahkan, beberapa waktu lalu kita melihat budaya kekerasan sudah masuk ke dalam rapat anggota dewan yang terhormat.
Anak adalah buah cinta kasih kedua orang tuanya, laksana permata yang begitu berharga. Saking berharganya sekaya apapun kita tak akan pernah bisa membuat seorang anak. Sungguh ironi jika kita memperlakukan sesuatu yang berharga ini seperti barang rusak yang sewaktu-waktu bisa dibuang ke tong sampah.
Seringkali orang tua menganggap sepele tindak kekerasan yang dilakukan pada anaknya, padahal hal itu akan terekam di otaknya dan akan membetuk perilakunya  saat dewasa.
Mari kita belajar mengelola anak secara tepat, memanajemen anak agar kelak anak tidak menjadi ‘radio rusak’ yang banyak ditemui di rumah-rumah negeri ini. Agar orang tua tidak terkaget-kaget bila suatu hari anaknya tumbuh menjadi pembangkang dan gemar bertindak kekerasan.
Disarikan dari: Indonesian Strong From Home, by Ayah Edy

Baca Selengkapnya ....

Ibu Rumah Tangga? Hebat!

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 10 Juli 2012 0 komentar

Halooo... akhirnya bisa nulis lagi. Sudah lama tangan ini nggak menyentuh keyboard. Lumayan kaku juga sih. Yah, beginilah kalau dihinggapi rasa malas, rasanya nggak ingin ada di depan komputer. Pinginnya tuh tiduuuur aja, mumpung ada waktu dan kesempatan.
Raihan yang sekarang sudah berusia 1,5 tahun, begitu menguras tenaga. Siang harus stand by menemani bermain padahal aku juga masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah, yang seringkali harus dilakukan saat raihan tidur. Tidur pagi/siang sekitar 2 jam diisi dengan mencuci, nyapu, beres-beres. Pas giliran selesai kerjaannya pas juga raihan bangun dan acara bermain pun dimulai lagi, nah kapan istirahatnya?
Malam tak pernah tidur nyenyak, harus bangun beberapa kali. Seringkali minta mimik, atau merengek digigit nyamuk. Tau-tau sudah subuh dan kesempatan tidur malam sudah berakhir.
Pernah beberapa kali sambil mengawasi bermain saya tertidur, tapi lima menit kemudian bangun tergagap-gagap karena Raihan nangis atau ditarik-tarik Raihan yang ingin main kuda-kudaan.
Menjadi ibu ternyata tidak mudah. Meski seringkali dianggap tidak produktif, menjadi Ibu rumah tangga lebih berat dari kerja diluar. Saat seorang wanita memutuskan menjadi ibu dan menjalani perannya di rumah maka pekerjaan 24 jam nonstop telah menanti. Pekerjaan-pekerjaan ibu rumah tangga terlihat sepele tapi sangat menguras tenaga dan waktu. Mencuci, mengepel, memasak, membersihkan kaca, mengasuh anak, menyiapkan sarapan, setrika, melipat pakaian adalah contoh agenda rutin ibu rumah tangga.
Apa sih hebatnya pekerjaan seperti itu? Dilihat sekilas memang tidak ada yang perlu dibanggakan apalagi diapresiasi. Seolah-olah pekerjaan itu memang sudah sewajarnya dan tidak perlu dibesar-besarkan. Tapi seperti kebanyakan hal yang ada di dunia ini, baru terasa penting kalau sudah kehilangan. Seandainya si ibu rumah tangga tidak mau lagi menyelesaikan segala macam tetek bengek itu dan memilih pekerjaan lain di luar rumah apa yang terjadi?
Bisa dipastikan rumah jadi kotor, berantakan, dan sangat tidak nyaman untuk dihuni. Si ayah tidak akan menemukan apa-apa di meja makan. Pakaian kotor akan menggunung. Lantai kotor dan licin, rumah berbau tak sedap. Barang-barang berserakan dimana-mana dan si anak akan lebih senang bermain diluar dari pada duduk manis di rumah.
Lalu langkah apa yang akan diambil untuk mengatasi tragedi terbengkalainya pekerjaan rumah? Kalau punya dana lebih pembantu rumah tangga jadi pilihan utama, tak lupa baby sitter untuk mengasuh anak, terkadang ditambah tukang kebun untuk merawat tanaman, potong rumput, dan naik-naik ke atas genting kalau ada yang bocor. Coba hitung berapa uang yang harus dikeluarkan?
Kalau tak ada uang yah terpaksa semua dilakukan sendiri, kebayang nggak sih para ayah harus bangun pagi buta untuk masak dan menyiapkan sarapan? Atau melihat laki-laki pemimpin keluarga menyapu, mengepel, dan mencuci pakaian? Ditambah menggendong anak kesana-kemari demi menyuapi anaknya yang susah makan? Ih, nggak banget deh, jawab para suami dan ayah.
Penilaian yang tidak adil seringkali membuat ibu rumah tangga bukanlah sebagai profesi. Seolah-olah, wuss, ada begitu saja dan tidak perlu diperhatikan. Padahal ibu rumah tangga berarti menghemat pengeluaran keluarga untuk gaji pembantu dan baby sitter. Selain itu ada hal yang lebih penting yang tidak bisa digantikan dengan uang, yaitu kasih sayang bagi anak-anaknya.
Seprofesional apapun, sebaik apapun, sesayang apapun pembantu atau baby sitter pada anak-anak tidak akan pernah menyamai kasih sayang ibu pada anaknya. Ada ikatan batin yang tidak bisa diganti oleh siapapun. Kelembutan dan kasih sayang seorang ibu dalam mengasuh, menyayangi, dan menegur putra-putrinya tidak akan sama dengan orang lain, bahkan oleh sang kakek atau nenek.
Kalau kita memposisikan diri sebagai anak-anak tentu lebih memilih bersama ibu daripada baby sitter. Kenapa? Karena antara anak dan ibu ada ikatan emosi yang kuat. Anak cenderung merasa nyaman dipelukan ibunya bukan orang lain.
Seringkali kita tidak menyadari ini, hingga suatu saat banyak orang tua terperanjat dan bertanya-tanya, kenapa anak saya jadi susah diatur? Kenapa anak saya tidak mau mendengar perkataan orang tuanya? Anak yang tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh cenderung menjadi anak yang bermasalah dalam perliaku dan kehidupan sosialnya.
Seorang teman pernah ‘nekat’ menitipkan anaknya pada tetangga demi melamar kerja. Persoalannya kelihatan sepele tapi bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga, teman saya itu menderita kebosanan dan kejenuhan. Sebelum menikah dia memang aktif bekerja dan menduduki jabatan penting di beberapa organisasi. Setelah menikah dan hamil ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan kegiatan organisasi.
Setelah sang buah hati lahir lambat laun dia mulai merasakan kejenuhan. Dia yang sebelumnya aktif kesana-kemari dengan kegiatan yang padat harus mengurus anak 24 jam. Tahun-tahun pertama seorang anak memang sangat merepotkan, apalagi dia merantau keluar pulau mengikuti suami, tanpa dukungan keluarga dekat. Bisa dibayangkan betapa menderitanya teman saya itu.
Si suami seringkali harus lembur di akhir pekan, sementara menggaji pengasuh bukan pilihan yang memungkinkan. Teman saya yang lain sering memberi semangat padanya agar bersabar sebab anak adalah amanah yang harus dijaga. Penghasilan suami masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup jadi tidak ada hal yang mendesak agar istri ikut bekerja.
 Namun, suatu hari (mungkin saat itu bosannya sudah mencapai ubun-ubun) dia menitipkan anaknya yang berumur 7 bulan ke tetangga agar bisa melamar kerja. Banyak lamaran yang diajukan tapi selalu kandas karena perusahaan tidak mau menerima wanita yang sudah memiliki anak.
Apakah Anda pernah mengalami hal serupa? Merasa jenuh dan tak berarti karena hanya sibuk berkutat di rumah hari ke hari? Ya, saya pernah. Sempat terlintas untuk kerja agar bisa mengurangi kejenuhan. Tapi suami saya melarang dan berkata bahwa saya sebaiknya menekuni wirausaha yang bisa menjalankan bisnis di rumah sekaligus mengasuh anak kami.
Apakah usaha saya berhasil? Yah, sempat jalan sih, tapi harus berhenti karena ternyata mengurus balita sangat-sangat merepotkan. Tiap kali saya di depan komputer (saya berjualan jilbab online) Raihan selalu ikut nimbrung dan membanting keyboard. Dia itu aktif sekali, sementara kami sudah berkomitmen tidak akan menyerahkan pengasuhan Raihan pada baby sitter.
Lalu terpikir kuliah lagi, kan lumayan saat selesai kuliah (kira-kira saat itu Raihan sudah masuk SD) saya bisa menjadi guru seperti cita-cita saya. Tapi keinginan itu harus ditunda karena (lagi-lagi) Raihan tidak bisa berpisah dari saya. Jadi, sementara ini saya bersabar dan menikmati setiap momen perkembangan Raihan sambil sesekali menulis kalau sempat dan tidak malas hehe.. siapa tau juga Allah berkenan memberikan adik buat Raihan.
Memang tidak mudah menjadi seorang ibu tapi jika ingin memiliki anak yang hebat dan sesuai dengan harapan orang tua ada harga yang harus dibayar. Tenaga, waktu, dan pikiran harus dicurahkan penuh demi anak. Tidak orang hebat atau sukses tiba-tiba muncul begitu saja. Ada proses panjang pendidikan dalam kehidupannya, yang bersumber pada bagaimana cara orang tua mendidiknya.
Kebanyakan para ilmuwan, pengusaha sukses, tokoh-tokoh dunia ber-ibu-kan seorang ibu rumah tangga. Ibu mereka memberikan amunisi yang tak bisa diberikan orang lain dan tidak ada di buku-buku, yaitu kasih sayang, semangat, dan harapan. Anak bisa mendapatkan pelajaran, ilmu, uang, dan pengalaman dari luar. Tapi kasih sayang orang tua hanya bisa didapatkan dari orang tuanya sendiri bukan orang lain.
Orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Karena itu, bersemangatlah para mommy yang sedang mengawal perkembangan putra-putrinya, percayalah menjadi ibu adalah pilihan yang mulia.

Baca Selengkapnya ....
TEMPLATE CREDIT:
Tempat Belajar SEO Gratis Klik Di Sini - Situs Belanja Online Klik Di Sini - Original design by Bamz | Copyright of Ummi Raihan.