Kata Dokter Anak Tentang Campak

Posted by Nasyithun Izzah Rabu, 17 Oktober 2012 5 komentar
Saat berumur 14 bulan Raihan terkena campak atau orang jawa bilang ‘gabag’. Awalnya aku tidak curiga saat badannya mulai sumeng. Kupikir itu karena pileknya. Beberapa hari Raihan pilek dulu sampai aku juga tertular flu. Meski suhu badannya agak hangat Raihan tetap kuajak jalan-jalan di luar rumah dan tetap bermain seperti biasa.
Hari jumat kepalaku pusing dan lemas. Badanku pun rasanya nggak enak. Aku mengira tertular pileknya Raihan, jadi aku banyak tidur dan untungnya Raihan pun tidurnya lama waktu siang. Setelah tidur badanku sudah agak mendingan tapi justru Raihan yang panas. Aku cemas masa ketularan aku? Bukannya aku yang ketularan Raihan?
Namun Raihan tidak segera kubawa ke dokter. Kami memang sudah terbiasa tidak buru-buru membawa Raihan periksa jika badannya panas. Bahkan saat umur 9 bulan Raihan terkena cacar air, aku dan suami tidak pergi ke dokter sama sekali. Kami mengobati sendiri di rumah dengan minum minyak habbatusauda yang diteteskan ke mulut Raihan. Berbekal informasi di mbah google yang mengatakan bahwa cacar disebabkan oleh virus maka kami memutuskan merawat sendiri.
Seperti yang diketahui sampai sekarang belum ada obat untuk membunuh virus. Obat-obatan yang ada hanya bisa meringankan gejala penyakit yang disebabkan virus. Jadi tidak langsung membunuh virusnya. Tubuhlah yang membentuk kekebalan tubuh dan lambat laun menghancurkan virus itu sehingga ketika virus yang sama menyerang lagi tubuh sudah kebal. Makanya penyakit cacar air hanya menyerang sekali seumur hidup.
Jadi cara terbaik melawan penyakit yang disebabkan virus adalah memperkuat daya tahan tubuh misalnya dengan makan yang banyak, mengkonsumsi vitamin, madu atau habbatussauda.
Kembali ke soal campak. Hari Sabtu panasnya semakin naik bahkan saat siang panasnya tinggi. Aku mulai khawatir tapi karena Raihan tidak terlalu rewel dan tidur  aku menunggu perkembangan selanjutnya. Saat sore, setelah bangun tidur, aku membuka bajunya untuk diganti ternyata di badannya ada bintik-bintik merah. Aku menduga ini gejala campak. Tapi karena takut salah diagnosa aku dan suami memutuskan pergi ke dokter.
Untung dokternya tidak terlalu antri. Anehnya walaupun sakit Raihan masih bisa main kuda-kudaan yang ada di ruang tunggu praktik. Dia tertawa-tawa dan melambaikan tangan. Begitu masuk ke ruang pemeriksaan dokter bertanya padaku:
Dokter  : kenapa ini, Bu?
Aku        : ini Dok, anak saya demam dan di badannya ada bintik-bintik merah
Dokter  : o, iya saya periksa dulu
Aku membaringkan Raihan ditempat tidur dan menyingkap bajunya ke atas. Dokter memeriksa dengan stetoskop dada dan perut Raihan.
Dokter  : ini gabag, Bu.
Aku        : gabag? Apa gabag itu sama dengan campak.
Dokter  : (agak gugup) iya sama. Gabag itu ya campak.
Aku        : (berbicara dalam hati: bukannya ada imunisasi campak, tapi kok masih bisa kena campak              ya?) kira-kira berapa lama sembuhnya, ya Dok?
Dokter  : kira-kira 3-5 hari. Apa pilek juga?
Aku        : Iya, sudah beberap hari (raihan) pilek.
Dokter  : Siapa lagi yang pilek di rumah? Apa ada obat penurun panas di rumah?
Aku        : saya pilek juga. Kalau obat penurun panas ada. Dulu dapat resep dari sini (waktu itu Raihan         katanya kena pneumonia)
Dokter  : kalau gitu saya beri resep untuk obat dan vitamin. Ibu tolong diusahakan pakai masker di             rumah.
Aku        : Ini obat buat apa ya?
Dokter  : (dengan wajah yang agak gimana gitu) obat untuk anti campak dan anti pileknya.
Aku manggut-manggut, nggak mau nanya panjang lebar. Walau bukan dokter gini-gini aku juga ngerti tentang penyakit yaa... dikit-dikit lah. Takut dokternya emosi gara-gara kebanyakan tanya. Sebenarnya percakapannya lebih panjang karena aku tanya ini-itu tapi takut yang baca jadi males ya disingkat saja hehe...
Dengan berbekal resep aku dan suami keluar. Kami berunding sebentar kira-kira ditebus nggak obatnya. Apalagi kami akhirnya jadi yakin bahwa Raihan kena campak. Setelah dipikir-pikir kami memutuskan pergi ke apotek tapi nggak langsung nebus, konsultasi dulu sama apotekernya.
 Untung apotekernya seorang wanita muda yang sabar dan ramah. Saat kutanya obat apa yang diresepkan mbak apoteker menjawab dengan sabar. Benar resep itu adalah obat dan vitamin. Obat disini adalah antibiotik untuk mencegah infeksi pilek. Lalu kutanya bisa tidak menebus vitaminnya saja. Mbak apotekernya bilang bisa, jadilah aku hanya menebus vitamin saja.
Sebenarnya aku melakukan itu semua bukan tanpa perhitungan atau nggak mau keluar uang banyak buat beli obat. Tapi karena aku tahu bahwa campak disebabkan oleh virus dan yang bisa membunuh virus adalah tubuh sendiri. Jadi aku berpikir lebih baik memperkuat daya tahan tubuhnya daripada memberikan antibiotik. Aku juga tahu maksud dokter memberi antibiotik supaya tidak ada infeksi sekunder yang disebabkan virus flu karena daya tahan tubuh sedang lemah menghadapi serangan virus campak.
Namun meihat kondisi Raihan yang masih bisa bermain dan masih mau minum ASI (sampai sekarang Raihan masih ASI full tanpa susu formula) aku yakin tubuhnya bisa kuat. Aku tidak mau membiasakan Raihan mengkonsumsi obat kimia karena pasti ada efek sampingnya. Semakin sering minum obat maka efektivitas obat semakin turun, karena tubuh membentuk sistem kekebalan sehingga bila sakit lagi harus menggunakan dosis yang lebih tinggi.
Aku lebih memilih cara tradisional seperti memberikan minyak habba, madu, parutan kunyit, atau air kelapa muda. Keesokan harinya suhu tubuhnya turun dan lusanya sudah tidak demam lagi. Padahal vitamin yang diberi dokter baru diminum satu sendok. Mungkin itu karena daya tahan tubuhnya yang bagus dan jarang terkena obat-obatan kimia. Lagi pula dokter bukan dewa dan bisa saja  memberi obat melebihi kebutuhan. Ada beberapa penyakit yang tidak perlu minum obat jadi tidak usah dipaksakan.
Kini saatnya menjadi pasien cerdas dan jangan hanya menerima begitu saja apa yang dikatakan orang lain, termasuk dokter. Kita perlu mencari second opinion atau opini kedua, agar bisa memutuskan lebih bijaksana. Bagi para Ibu jangan mudah panik saat anak sakit usahakan tenang dan berbicara dengan suami. Terkadang tidak semua penyakit perlu minum obat. Pada saat balita anak memang mudah sakit, namun sakit tersebut justru membuat tubuh kebal sehingga setelah besar nanti tubuh bisa melawan berbagai macam serangan virus, kuman, dan bakteri.
Jadi tidak usah gelisah saat anak sebentar-sebentar panas. Kalau panasnya tidak tinggi atau tidak sampai tiga hari lebih baik dirawat di rumah saja dan diperhatikan asupan gizi makanannya. Semoga pengalaman ini bisa bermanfaat. Selamat berjuang para Mommy!

Baca Selengkapnya ....

Dua Kebiasaan Terburuk: Alkohol dan Tembakau

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 02 Oktober 2012 0 komentar

Dunia medis masih sangat tergantung pada operasi pembedahan dan obat-obatan. Meski sudah diketahui secara luas bahwa penyakit jantung, diabetes, stroke, kanker, dan penyakit degeneratif lainnya disebabkan makanan dan gaya hidup yang buruk, namun tidak banyak dokter yang berusaha meningkatkan kesadaran pasien akan pentingnya mengubah kebiasaan mereka dan memperhatikan apa yang mereka makan.

You are what you eat, adalah slogan yang tepat untuk menggambarkan bahwa makanan membentuk tubuh seseorang. Kesehatan seseorang yang gemar makan sayur dan buah tentu berbeda dengan orang yang tiap hari dijejali makanan manis dan berlemak tinggi. Namun makanan sehatpun masih belum bisa menjaga tubuh dari ancaman penyakit jika kebiasaan yang dijalani adalah kebiasaan buruk. Apalagi yang makanannya tidak sehat ditambah kebiasaan buruk pula, ibarat telur di ujung tanduk tinggal menunggu pecah saja.
Yang terburuk dari kebiasaan-kebiasaan buruk adalah alkohol dan tembakau. Alasan terbesar keduanya dianggap terburuk karena keduanya menyebabkan kecanduan. Banyak orang yang tidak dapat melewatkan satu hari tanpa salah satu atau keduanya sekaligus.
Seorang perokok bisa diketahui lewat wajahnya. Orang yang merokok memiliki warna kulit keabu-abuan yang khas. Kulit Anda menjadi kelabu jika Anda merokok karena selain pembuluh-pembuluh darah kapiler menyempit serta mencegah oksigen dan nutrisi disebarkan ke sel-sel, hasil pembuangan dan pembusukan juga tidak dapat dikeluarkan dari tubuh. Dengan kata lain, perubahan warna kelabu tersebut adalah akibat racun yang terakumulasi dalam sel kulit.
Jika membicarakan bahaya rokok, biasanya hanya terfokus pada TAR yang menumpuk di paru-paru. Namun, satu hal yang juga sama serius dan berbahayanya bagi tubuh adalah penyempitan pembuluh kapiler di seluruh tubuh. Jika cairan tidak dapat mengalir, nutrisi yang dibawa dalam cairan tersebut juga tidak dapat mencapai beberapa bagian tubuh. Sisa hasil pembuangan pun tidak dapat dikeluarkan dari tubuh. Sebagai akibatnya hasil pembuangan menumpuk dan membusuk, serta menghasilkan racun.
Pernah melihat bibir perokok? Warna kehitaman yang muncul adalah akibat akumulasi racun. Tapi ternyata selain muncul di permukaan kulit, hal yang sama juga terjadi di dalam tubuh, pada bagian-bagian yang terhubung dengan ujung pembuluh kapiler.
Pembuluh darah orang yang mengkonsumsi alkohol sering menyempit seperti orang yang merokok setiap hari. Sebagian orang mengatakan bahwa sedikit alkohol bisa melonggarkan pembuluh darah sehingga meningkatkan sirkulasi darah. Bergantung dari jenis alkohol yang dikonsumsi, pembuluh darah hanya bisa melonggar sekitar 2-3 jam. Sebenarnya “pelonggaran pembuluh darah” ini pada akhirnya menyebabkan pembuluh darah menyempit.
Saat mengkonsumsi alkohol pembuluh darah Anda tiba-tiba melebar. Namun sebagai reaksinya tubuh berusaha mengantisipasinya dengan membuatnya menyempit. Jika pembuluh darah menyempit maka nutrisi dan hasil pembuangan tidak dapat diangkut.
Dengan cara ini alkohol dan tembakau menimbulkan sejumlah besar radikal bebas dalam tubuh. Zat antioksidan SOD dan enzim-enzim antioksidan seperti katalase, glutation, dan peroksidase bertugas menetralisir radikal bebas. Telah diketahui secara umum jika Anda sering merokok sejumlah besar vitamin C akan hancur karena vitamin C adalah salah satu zat antioksidan.
Enzim antioksidan dalam jumlah besar digunakan untuk menetralisir radikal bebas. Meski radikal bebas juga ditimbulkan oleh faktor-faktor di luar kendali kita seperti gelombang elektromagnetik dan polusi lingkungan, namun orang-orang masih juga memasukkan radikal bebas ke dalam tubuhnya padahal jika mau mereka bisa menghindarinya, yaitu alkohol dan rokok.
Enzim akan habis jika Anda terus menggunakannya secara cepat, sama seperti Anda akan sangat cepat berhutang banyak jika terus menggunakan kartu kredit tanpa pernah membayarnya. Mengikuti menu makan yang baik dan kebiasaan-kebiasaan yang baik sama halnya dengan menabung secara teratur. Jika setiap hari terus membelanjakan uang dalam jumlah besar, Anda akan menimbun utang yang mengerikan. Pada akhirnya kreditor akan mengejar Anda, dan dalam dunia enzim, ini berarti Anda jatuh sakit. Jika terus membelanjakan uang tanpa membayar hutang akhirnya Anda akan pailit. Dalam bidang kesehatan, kebangkrutan ini memiliki arti lebih serius daripada kebangkrutan finansial. Hasilnya adalah kematian.
Mungkin masih ada yang akan menanggapi bahwa sudah berpuluh tahun merokok masih tetap sehat dan tidak sakit-sakit. Tapi tidak sakit belum tentu sehat, jika yang Anda katakan sehat itu dengan bibir dan kulit menghitam, badan kurus, gigi kuning, dan mata cekung maka Anda adalah orang yang sangat optimis. Saat orang lain prihatin akan kesehatan Anda, Anda tetap merasa sehat dan yakin berumur panjang.
Banyak perdebatan soal tembakau dan alkohol tapi satu yang saya yakin disetujui semua pihak bahwa rokok dan minuman keras tidak bagus bagi kesehatan dan kantong Anda. Semakin banyak Anda merokok dan minum alkohol berarti semakin banyak pengeluaran dan semakin kaya pula pemilik perusahaan rokok dan minuman keras.
Semoga sehat selalu!
(Informasi didapat dari buku yang tengah saya baca: The Miracle of Enzyme)

Baca Selengkapnya ....

MANFAAT LAIN SAMPAH

Posted by Nasyithun Izzah Sabtu, 29 September 2012 0 komentar
Ada sebuah sungai kecil di dekat rumah kami. Airnya berwarna keruh keabu-abuan. Terkadang menimbulkan bau yang membuat saya harus menahan napas. Sepertinya berasal dari timbunan sampah di pinggir sungai. Sungai itu kelihatan kusam dan meyedihkan.
Para warga biasa membuang sampah begitu saja ke pinggir sungai. Makin lama sampah itu makin menggunung dan membuat siapapun yang lewat jembatan di atas sungai harus menutup hidung.
Setiap hari kita pasti membuang sampah, baik sampah organik maupun anorganik. Ada sisa sayuran, botol, kertas, plastik dan lain-lain. Banyak dari kita yang membuang sampah itu sembarangan. Sehingga sampah terlihat dimana-mana, dan sayangnya hanya sedikit yang merasa bahwa masalah sampah perlu mendapat perhatian ekstra. Padahal sampah plastik baru bisa terurai minimal 100 tahun kemudian.
Kalau kita mau sedikit ‘repot’ sebenarnya kita bisa mengolah sampah dengan bijak. Selain lingkungan bersih kita pun bisa mendapat  uang tambahan. Banyak sampah yang bisa dimanfaatkan kembali atau dijual sebagai barang rongsokan.
Caranya pisahkan sampah menjadi 5 kelompok besar. Pertama sampah organik, meliputi sisa buah-buahan, sayuran, cangkang telur, jeroan ikan, dan makanan basi. Sampah ini bisa diolah menjadi pupuk kompos atau masukkan ke dalam kantong plastik. Bila ada gunakan kantong plastik yang bisa hancur dengan sendirinya.
Kedua sampah plastik seperti kresek, plastik pembungkus makanan, plastik deterjen, dan plastik minyak goreng. Plastik ini sulit terurai dan bisa mencemari tanah.
Ketiga sampah botol termasuk botol plastik, botol kaca, kaleng kue, kaleng susu, dan toples. Kita bisa membuat beraneka kerajinan seperti tempat pensil, tempat garam, bunga plastik, dan lampion.
Keempat sampah kertas dan kardus termasuk kardus sisa nasi kotak, koran, dan buku-buku bekas. Barang-barang ini bisa didaurulang menjadi bubur kertas dan dibuat berbagai kerajinan.
Kelima sampah sisa rumah tangga misalnya sepatu bekas, mainan rusak, barang elektronik, dan besi tua.
Sampah organik dan plastik bisa langsung dibuang di tempat sampah atau sampah plastik dibakar terlebih dahulu untuk mengurangi volume sampah. Sedangkan sampah botol, kaleng, kertas, kardus, dan sisa rumah tangga dijual ke pengepul barang bekas. Mungkin uang hasil penjualan tidak seberapa tapi dampak yang dihasilkan sangat luar biasa.
Sebenarnya dilihat dari kacamata bisnis sampah bisa menjadi peluang usaha. Sayangnya banyak yang memandang sebelah mata pekerjaan mengumpulkan barang bekas atau rongsokan. Bagi ibu rumah tangga yang ingin mendapat penghasilan tambahan bisa mencoba mengumpulkan dari tetangga sekitar rumah. Tidak usah merasa gengsi, toh pekerjaan ini halal dan tidak melanggar hukum.
Selain itu diperlukan ketelatenan dan kesabaran. Hal ini sudah dibuktikan oleh ibu saya yang bisa menjual barang bekas hingga mencapai ratusan ribu rupiah.
Kepedulian kepada sampah berarti kita telah berpasrtisipasi menyelamatkan bumi dari bencana.  Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai masalah yang berkepanjangan. Sekarang dampaknya mungkin belum terlalu tampak, meskipun demikian kita tidak boleh menutup mata dan bersikap acuh tak acuh.
Bagaimanapun menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama bukan perorangan. Karena bumi ini yang kita huni adalah tempat tinggal kita dan anak cucu kita kelak.

Baca Selengkapnya ....

Persamaan Hak dan Kewajiban, are you sure?

Posted by Nasyithun Izzah Rabu, 12 September 2012 0 komentar

Sejak kemunculan kumpulan surat menyurat R.A. Kartini yang diterbitkan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, wacana untuk menuntu kesamaan hak dan kewajiban perempuan terus bergulir. Mendapat sambutan yang luar biasa di kalangan kaum perempuan. Seolah menjadi oase ditengah gurun pasir bagi mereka yang merasa selama ini diperlakukan tidak adil oleh kaum laki-laki.
Kesamaan ini menuntut adanya kebolehan untuk mendapatkan atau melakukan sesuatu yang selama ini di dominasi oleh laki-laki. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, tanggung jawab, maupun peran sosial. Selanjutnya pemikiran ini terus berkembang hingga mencapai taraf menuntut kesetaraan gender.
Apakah laki-laki dan wanita sama?
Pertanyaan yang susah-susah gampang, mengandung jawaban ambigu dan tidak punya kebenaran absolut. Dibilang sama, ya karena memang sama-sama manusianya. Punya otak, mata, kaki, tangan, dan dengkul (podo-podo modal dengkul, kata orang jawa). Dibilang tidak sama juga benar. Dilihat sekilas juga ketahuan mana laki-laki dan mana perempuan, bahkan yang separuh-separuh pun jelas terlihat (itu lho yang suka bilang eike, capcus, yye).
Jadi sebenarnya laki-laki dan perempuan sama nggak sih? Terserah penilaian masing-masing, tapi bagi manusia berakal sehat pasti tahu jawabannya. Karena laki-laki dan wanita diciptakan memang tidak sama. Laki-laki lebih kuat, lebih kasar, dan dominan menggunakan logika. Laki-laki juga tidak punya payudara, rahim, dan tidak berkulit halus seperti wanita.
Sedang wanita cenderung lebih lembut, lemah, perasa, dan ingin dilindungi. Apa jadinya kalau wanita berotot seperti laki-laki? Atau laki-laki jadi seperti wanita cerewet dan suka bergosip? Tentu kacau dunia ini dan rusak tatanan sosial masyarakat.
Meski disana-sini digembar-gemborkan persamaan antara laki-laki dan perempuan (yang lebih banyak didukung oleh kaum perempuan) namun fakta di lapangan perempuan seringkali menuntut adanya hak istimewa dibanding laki-laki. Dalam dunia pendidikan yang katanya sudah memberikan hak yang sama bagi perempuan untuk mencari ilmu, perempuan masih menginginkan adanya ‘keringanan’ karena mereka tidak sama dengan laki-laki. Saat olah raga misalnya, jika murid laki-laki harus keliling lapangan 10 kali maka yang perempuan minta separuhnya saja. Saat harus mengangkat peralatan yang berat-berat untuk acara sekolah, “Pak, masa perempuan disuruh angkat-angkat sih. Laki-laki kan masih banyak.” Lha katanya sama?
Saat ini dalam urusan pekerjaan baik di pemerintahan maupun swasta perempuan bisa menduduki jabatan penting atau posisi yang strategis. Pucuk pimpinan beberapa sudah bisa dipegang oleh perempuan. Itu karena mereka menganggap perempuan punya kesempatan dan kemampuan yang sama. Perempuan juga pintar, bertanggung jawab, dan bisa melakukan tugas laki-laki.
Tapi perempuan juga menuntut hak istimewa contohnya cuti melahirkan atau cuti haid yang tidak didapatkan oleh laki-laki. Perempuan pun jarang yang mau berpanas-panas turun ke lapangan atau melakukan kerja luar di proyek-proyek. Ih, masa perempuan harus kerja seperti tukang bangunan? Lha?
Dan yang lebih aneh lagi meski yang perempuan sudah bekerja dengan penghasilan lumayan mereka juga tidak rela jika peran perempuan dalam rumah tangga diambil alih laki-laki. Tugas laki-laki adalah mencari nafkah untuk keluarganya bukan hanya di rumah mengurus anak-anak.
Terus yang mengurus rumah dan anak-anak siapa? Pembantu yang sama sekali tidak punya kasih sayang, selain demi mendapat gaji tiap bulan? Bagaimana seseorang seperti itu diserahi tugas pengasuhan anak? Padahal anak adalah harta yang sangat berharga. Rumah terbakar bisa dibangun lagi, uang hilang bisa dicari, tapi kalau sampai ada apa-apa dengan anak mau dicari dimana gantinya?
Kedudukan perempuan dalam islam.
Islam menempatkan perempuan dalam posisi yang mulia. Kaum ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Pernah seorang sahabat bertanya pada Rasulullah tentang siapa saja orang yang wajib dihormatinya. Tiga kali Rasulullah menjawab: Ibumu. Baru pada pertanyaan keempat beliau menjawa: Bapakmu.
Islam juga memberikan persamaan hak bagi perempuan dalam beramal shalih.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka pasti akan Kami berikan padanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
Jadi Allah tidak memandang laki-laki dan perempuan ,jika mereka melakukan kebaikan sementara tetap beriman maka balasan Allah sungguh sangat besar. Beramal shalih bisa bermacam-macam bentuknya sesuai dengan kadar kemampuan. Jika laki-laki jihadnya berperang di jalan Allah dan mencari nafkah, maka perempuan berjihad saat melahirkan dan mengasuh anak-anaknya.
Allah tidak akan lalai dan lupa. “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (H.R. Bukhari Muslim)
Selain itu perempuan juga mendapat hak dalam menuntut ilmu. Rasulullah bersabda, “Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim.”(H.R. Ibnu Majah)
Perbedaan peran perempuan dan laki-laki
Allah memang telah menciptakan perempuan berbeda dengan laki-laki untuk saling melengkapi. Masing-masing mempunyai hak, kewajiban, dan peran masing-masing. Mungkin dalam beberapa hal perempuan dan laki-laki bisa bertukar peran tapi hal tersebut tidak lantas dijadikan pijakan bahwa laki-laki dan perempuan bisa saling menggantikan. Pertukaran peran inipun hasilnya tidak akan sesempurna seperti jika dilakukan oleh si empunya.
Perempuan bisa menjadi pemimpin perusahaan tapi perlu diingat bahwa kecenderungan perempuan terpengaruh emosi sangat besar. Sehingga keputusan bisa jadi kurang tepat. Laki-lakipun bisa saja menjadi pengasuh bagi anak-anaknya tapi kepribadian yang kurang lembut dan kurang berperasaan bisa membuat anak tumbuh menjadi orang yang cenderung kasar dan berhati kaku.
Ada beberapa hal yang perlu dikoreksi lagi, tidak ada yang bisa melarang seorang perempuan bekerja atau menduduki jabatan, kecuali suaminya. Namun patut sekiranya disadari bahwa perempuan punya tanggung jawab pada suami, anak-anak, dan harta suaminya. Sesungguhnya saat perempuan beru saha keras untuk menuntut persamaan hak dan kewajiban maka dia telah menambah beban pada punggungny a sendiri. Cukuplah Allah sebagai pemberi rizki yang Terbaik.
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”  (An-Nisa:28)
Tidak ada gunanya menyesali kenapa dilahirkan sebagai perempuan atau kenapa laki-laki diberi berbagai kelebihan, karena semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Laki-laki diberi berbagai kelebihan karena tugasnya lebih banyak dari perempuan, tanggung jawabnya lebih berat dari perempuan, dan pekerjaanya lebih menguras tenaga daripada perempuan.
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karenanya Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...” (An-Nisa: 34)
Allah Maha Adil walau telah menakdirkan beberapa kelebihan bagi laki-laki, tapi dalam beramal dan menuntut ilmu Allah memberi kesempatan yang sama dan sama-sama bisa berbalas surga pada hari kiamat. Karena itu menurut hemat penulis kesetaraan gender adalah sebuah hal yang utopis. Terlihat indah namun jauh, jauh sekali dari kenyataan. Apakah jika kita memiliki anak-anak rela jika anak laki-laki disamakan seutuhnya dengan anak perempuan? Yang laki-laki seperti perempuan atau perempuan diperlakukan seperti laki-laki?
Bersabarlah kaum wanita! Karena Allah telah menetapkan bahwa semua nabi, rasul, dan pemimpin laki-laki berasal dari rahim seorang wanita, kecuali Nabi Adam tentunya.

Baca Selengkapnya ....

Kenapa Program Parenting Ada?

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 07 Agustus 2012 0 komentar

Anak adalah anugerah yang sangat berharga. Banyak orang tua yang rela melakukan berbagai hal termasuk merogoh kantung yang cukup dalam demi mendapatkan sang buah hati. Namun sayangnya ketika anugerah ini datang tak sedikit orang tua yang merasa kebingungan bagaimana cara mendidik anaknya. Sehingga yang terjadi adalah salah pengasuhan yang akan berakibat fatal       bagi sang anak.
Akhir-akhir ini wacana bagaimana mendidik anak dengan baik sudah mulai digulirkan. Bagai bola salju yang terus menggelinding dan membesar, banyak orang tua yang tergugah dan berusaha mencari informasi sebanyak mungkin. Program yang lebih dikenal dengan nama parenting ini mencoba memberikan informasi tentang mendidik anak agar bisa berhasil kelak dalam kehidupannya.
Banyak orangtua yang merasa tidak puas dengan didikan orangtuanya dulu sehingga ingin memberikan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Namun, ada pula yang menyanggah dan mengatakan bahwa program parenting ini tidak perlu. Dia beralasan bahwa orangtuanya dulu tidak pernah ikut program seperti ini, tapi anak-anaknya berhasil dan sukses. Atau paling tidak tetap jadi ‘orang’.
Lalu apa yang membedakan? Kenapa ada anak yang bisa sukses sementara yang lain tidak? Apakah orang tua yang mempunyai anak-anak sukses dan berhasil dulu pernah ikut program semacam ini? Misalnya saja apakah orang tua Presiden pertama kita, Soekarno, pernah mendapat pendidikan parenting sehingga bisa ‘menghasilkan’ anak yang mempunyai talenta luar biasa?
Seorang praktisi pendidikan pernah berkata paling tidak ada dua alasan kenapa orang tua yang tidak pernah ikut program parenting tapi anaknya tetap bisa sukses, yaitu naluri tepat sebagai orang tua dan lingkungan yang membentuk kepribadian anak.
NALURI TEPAT DARI ORANG TUA
Setiap orang tua memiliki naluri mendidik anak masing-masing, yang pada umumnya sebagian besar caranya diwarisi secara turun temurun dari orangtuanya. Selanjutnya naluri ini berkombinasi dengan tipologi kepribadiannya sendiri dan lingkungan sekitar yang membentuknya.
Orang tua yang mewarisi tradisi mendidik yang baik dari orangtuanya ditambah dengan pola kepribadian yang seimbang serta lingkungan yang baik pula, maka akan melahirkan pola mendidik yang baik pada anaknya.
Namun faktanya tidak semua orang tua memiliki kepribadian yang seimbang dan tidak semua orang mewarisi cara mendidik yang baik dari orangtuanya. Itu artinya tidak semua orang memiliki naluri mendidik yang tepat jika hanya mengandalkan pengalaman masa lalunya.
Seorang peneliti perilaku pernah melakukan penelitian terhadap beberapa pimpinan yang otoriter dan tiran, seperti Hitler dan Pol Pot. Dia menemukan bhawa perilaku para pemimpin tiran itu ternyata adalah warisan turun temurun dari pola didik keluarganya, artinya bahwa cara mendidik yang salah akan terus diwariskan kecuali ada satu generasi yang mau mengubahnya.
Karena itulah program parenting mulai diselenggarakan agar kesalahan pola didik tidak terjadi pada generasi selanjutnya.
Orang tua yang bersikap keras dan suka memukul kemungkinan besar karena dia dibesarkan dengan cara yang seperti itu pula. Karena orang tua mempunyai peran besar dalam mendidik anak, bagaimana anak itu tumbuh tidak lain merupakan cerminan kepribadian orangtuanya.
KONDISI LINGKUNGAN YANG BERBEDA
Kita tentu sepakat lingkungan tempat anak kita dibesarkan sekarang sungguh jauh berbeda dengan lingkungan saat kita kecil dulu. Apalagi bila dibandingkan dengan keadaan orangtua kita saat masih era penjajahan. Jadi pola pendidikan harus ikut berubah dan dinamis sesuai tuntutan zaman.
Kesalahan terbesar cara mendidik orang tua adalah selalu menjadikan masa lalu sebagai patokan. Seringkali kita membandingkan anak-anak dengan keadaan kita saat seusia mereka. Kita berharap di usia yang sama, anak bisa melakukan apa yang dulu dilakukan orangtuanya.
Misalnya “Dulu waktu ayah seumur kamu, Ayah bisa naik sepeda roda dua. Kamu masih saja pakai roda bantuan ”, “Dengar ya, Mama dulu umur 7 tahun sudah biasa cuci baju sendiri, nggak kayak kamu suruh beresin mainan aja susah.”
Orang tua mengambil peran 70% dalam membentuk pola perilaku anak, namun jika orang tua tidak melakukan perannya dengan baik maka lingkunganlah yang akan mengambil peran 70% tersebut. Padahal lingkungan sekarang, saat anak kita dibesakan, sangat jauh berbeda dengan lingkungan kita dulu.
 Dahulu saat arus informasi belum sederas ini kita masih bisa terhindar dari tayangan kekerasan, muatan pornografi, narkoba, atau game yang membuat kecanduan dan lupa waktu. Tapi sekarang rasanya mustahil bisa menghindarkan anak 100% dari hal-hal yang mengancam ini. Apakah kita akan mengisolasi mereka di rumah? Tidak membolehkan anak menggunakan teknologi dan perlatan elektronik? Atau mencabut keberadaan TV di rumah?
Disadari atau tidak televisi merupakan sarana masuknya berbagai informasi ke dalam rumah, yang positif dan negatif. Televisi bisa bebas memberikan apapun yang dikandungnya langsung dihadapan anak-anak. Televisi tak bisa membedakan apakah penontonnya anak-anak, remaja, atau orang tua. Tidak ada filter yang menyaring sehingga tayangan orang dewasa bisa dilihat anak-anak. Orangtualah yang membuat saringan itu.
Lalu bagaimana jika karena kesibukan orang tua lupa membatasi informasi yang diterima anak? Apa dampak  pola kehidupan modern yang juga menyeret kaum ibu untuk bekerja sehingga melalaikan pengasuhan anak?
Program parenting diadakan tidak hanya bertujuan membentuk pola didik yang baik tapi juga meredam dampak negatif dari arus informasi. Sementara lingkungan adalah pembentuk perilaku pertama jika orang tua dan guru tidak lagi efektif berperan.
Karena itu kurang bijaksana rasanya jika hanya mengandalkan pengalaman masa lalu dalam mendidik anak-anak jaman sekarang. Kita hidup di era globalisasi dan mengikuti pola hidup modern, tapi dalam mendidik anak masih menggunakan pola didik jaman dahulu. Mirip orang berjalan apakah jadinya jika saat berjalan selalu menoleh ke belakang tanpa melihat ke depan? Anda pasti tahu hasilnya.
Dan sayangnya sekarang bukan lagi saatnya berjalan tapi kita harus berlari, berlari mengejar ketertinggalan agar tak menjadi bangsa yang terus terpuruk. Sudah saatnya anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik agar mereka bisa berhasil di dunia dan akhirat.

Baca Selengkapnya ....
TEMPLATE CREDIT:
Tempat Belajar SEO Gratis Klik Di Sini - Situs Belanja Online Klik Di Sini - Original design by Bamz | Copyright of Ummi Raihan.