MANFAAT LAIN SAMPAH

Posted by Nasyithun Izzah Sabtu, 29 September 2012 0 komentar
Ada sebuah sungai kecil di dekat rumah kami. Airnya berwarna keruh keabu-abuan. Terkadang menimbulkan bau yang membuat saya harus menahan napas. Sepertinya berasal dari timbunan sampah di pinggir sungai. Sungai itu kelihatan kusam dan meyedihkan.
Para warga biasa membuang sampah begitu saja ke pinggir sungai. Makin lama sampah itu makin menggunung dan membuat siapapun yang lewat jembatan di atas sungai harus menutup hidung.
Setiap hari kita pasti membuang sampah, baik sampah organik maupun anorganik. Ada sisa sayuran, botol, kertas, plastik dan lain-lain. Banyak dari kita yang membuang sampah itu sembarangan. Sehingga sampah terlihat dimana-mana, dan sayangnya hanya sedikit yang merasa bahwa masalah sampah perlu mendapat perhatian ekstra. Padahal sampah plastik baru bisa terurai minimal 100 tahun kemudian.
Kalau kita mau sedikit ‘repot’ sebenarnya kita bisa mengolah sampah dengan bijak. Selain lingkungan bersih kita pun bisa mendapat  uang tambahan. Banyak sampah yang bisa dimanfaatkan kembali atau dijual sebagai barang rongsokan.
Caranya pisahkan sampah menjadi 5 kelompok besar. Pertama sampah organik, meliputi sisa buah-buahan, sayuran, cangkang telur, jeroan ikan, dan makanan basi. Sampah ini bisa diolah menjadi pupuk kompos atau masukkan ke dalam kantong plastik. Bila ada gunakan kantong plastik yang bisa hancur dengan sendirinya.
Kedua sampah plastik seperti kresek, plastik pembungkus makanan, plastik deterjen, dan plastik minyak goreng. Plastik ini sulit terurai dan bisa mencemari tanah.
Ketiga sampah botol termasuk botol plastik, botol kaca, kaleng kue, kaleng susu, dan toples. Kita bisa membuat beraneka kerajinan seperti tempat pensil, tempat garam, bunga plastik, dan lampion.
Keempat sampah kertas dan kardus termasuk kardus sisa nasi kotak, koran, dan buku-buku bekas. Barang-barang ini bisa didaurulang menjadi bubur kertas dan dibuat berbagai kerajinan.
Kelima sampah sisa rumah tangga misalnya sepatu bekas, mainan rusak, barang elektronik, dan besi tua.
Sampah organik dan plastik bisa langsung dibuang di tempat sampah atau sampah plastik dibakar terlebih dahulu untuk mengurangi volume sampah. Sedangkan sampah botol, kaleng, kertas, kardus, dan sisa rumah tangga dijual ke pengepul barang bekas. Mungkin uang hasil penjualan tidak seberapa tapi dampak yang dihasilkan sangat luar biasa.
Sebenarnya dilihat dari kacamata bisnis sampah bisa menjadi peluang usaha. Sayangnya banyak yang memandang sebelah mata pekerjaan mengumpulkan barang bekas atau rongsokan. Bagi ibu rumah tangga yang ingin mendapat penghasilan tambahan bisa mencoba mengumpulkan dari tetangga sekitar rumah. Tidak usah merasa gengsi, toh pekerjaan ini halal dan tidak melanggar hukum.
Selain itu diperlukan ketelatenan dan kesabaran. Hal ini sudah dibuktikan oleh ibu saya yang bisa menjual barang bekas hingga mencapai ratusan ribu rupiah.
Kepedulian kepada sampah berarti kita telah berpasrtisipasi menyelamatkan bumi dari bencana.  Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai masalah yang berkepanjangan. Sekarang dampaknya mungkin belum terlalu tampak, meskipun demikian kita tidak boleh menutup mata dan bersikap acuh tak acuh.
Bagaimanapun menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama bukan perorangan. Karena bumi ini yang kita huni adalah tempat tinggal kita dan anak cucu kita kelak.

Baca Selengkapnya ....

Persamaan Hak dan Kewajiban, are you sure?

Posted by Nasyithun Izzah Rabu, 12 September 2012 0 komentar

Sejak kemunculan kumpulan surat menyurat R.A. Kartini yang diterbitkan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, wacana untuk menuntu kesamaan hak dan kewajiban perempuan terus bergulir. Mendapat sambutan yang luar biasa di kalangan kaum perempuan. Seolah menjadi oase ditengah gurun pasir bagi mereka yang merasa selama ini diperlakukan tidak adil oleh kaum laki-laki.
Kesamaan ini menuntut adanya kebolehan untuk mendapatkan atau melakukan sesuatu yang selama ini di dominasi oleh laki-laki. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, tanggung jawab, maupun peran sosial. Selanjutnya pemikiran ini terus berkembang hingga mencapai taraf menuntut kesetaraan gender.
Apakah laki-laki dan wanita sama?
Pertanyaan yang susah-susah gampang, mengandung jawaban ambigu dan tidak punya kebenaran absolut. Dibilang sama, ya karena memang sama-sama manusianya. Punya otak, mata, kaki, tangan, dan dengkul (podo-podo modal dengkul, kata orang jawa). Dibilang tidak sama juga benar. Dilihat sekilas juga ketahuan mana laki-laki dan mana perempuan, bahkan yang separuh-separuh pun jelas terlihat (itu lho yang suka bilang eike, capcus, yye).
Jadi sebenarnya laki-laki dan perempuan sama nggak sih? Terserah penilaian masing-masing, tapi bagi manusia berakal sehat pasti tahu jawabannya. Karena laki-laki dan wanita diciptakan memang tidak sama. Laki-laki lebih kuat, lebih kasar, dan dominan menggunakan logika. Laki-laki juga tidak punya payudara, rahim, dan tidak berkulit halus seperti wanita.
Sedang wanita cenderung lebih lembut, lemah, perasa, dan ingin dilindungi. Apa jadinya kalau wanita berotot seperti laki-laki? Atau laki-laki jadi seperti wanita cerewet dan suka bergosip? Tentu kacau dunia ini dan rusak tatanan sosial masyarakat.
Meski disana-sini digembar-gemborkan persamaan antara laki-laki dan perempuan (yang lebih banyak didukung oleh kaum perempuan) namun fakta di lapangan perempuan seringkali menuntut adanya hak istimewa dibanding laki-laki. Dalam dunia pendidikan yang katanya sudah memberikan hak yang sama bagi perempuan untuk mencari ilmu, perempuan masih menginginkan adanya ‘keringanan’ karena mereka tidak sama dengan laki-laki. Saat olah raga misalnya, jika murid laki-laki harus keliling lapangan 10 kali maka yang perempuan minta separuhnya saja. Saat harus mengangkat peralatan yang berat-berat untuk acara sekolah, “Pak, masa perempuan disuruh angkat-angkat sih. Laki-laki kan masih banyak.” Lha katanya sama?
Saat ini dalam urusan pekerjaan baik di pemerintahan maupun swasta perempuan bisa menduduki jabatan penting atau posisi yang strategis. Pucuk pimpinan beberapa sudah bisa dipegang oleh perempuan. Itu karena mereka menganggap perempuan punya kesempatan dan kemampuan yang sama. Perempuan juga pintar, bertanggung jawab, dan bisa melakukan tugas laki-laki.
Tapi perempuan juga menuntut hak istimewa contohnya cuti melahirkan atau cuti haid yang tidak didapatkan oleh laki-laki. Perempuan pun jarang yang mau berpanas-panas turun ke lapangan atau melakukan kerja luar di proyek-proyek. Ih, masa perempuan harus kerja seperti tukang bangunan? Lha?
Dan yang lebih aneh lagi meski yang perempuan sudah bekerja dengan penghasilan lumayan mereka juga tidak rela jika peran perempuan dalam rumah tangga diambil alih laki-laki. Tugas laki-laki adalah mencari nafkah untuk keluarganya bukan hanya di rumah mengurus anak-anak.
Terus yang mengurus rumah dan anak-anak siapa? Pembantu yang sama sekali tidak punya kasih sayang, selain demi mendapat gaji tiap bulan? Bagaimana seseorang seperti itu diserahi tugas pengasuhan anak? Padahal anak adalah harta yang sangat berharga. Rumah terbakar bisa dibangun lagi, uang hilang bisa dicari, tapi kalau sampai ada apa-apa dengan anak mau dicari dimana gantinya?
Kedudukan perempuan dalam islam.
Islam menempatkan perempuan dalam posisi yang mulia. Kaum ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Pernah seorang sahabat bertanya pada Rasulullah tentang siapa saja orang yang wajib dihormatinya. Tiga kali Rasulullah menjawab: Ibumu. Baru pada pertanyaan keempat beliau menjawa: Bapakmu.
Islam juga memberikan persamaan hak bagi perempuan dalam beramal shalih.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka pasti akan Kami berikan padanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
Jadi Allah tidak memandang laki-laki dan perempuan ,jika mereka melakukan kebaikan sementara tetap beriman maka balasan Allah sungguh sangat besar. Beramal shalih bisa bermacam-macam bentuknya sesuai dengan kadar kemampuan. Jika laki-laki jihadnya berperang di jalan Allah dan mencari nafkah, maka perempuan berjihad saat melahirkan dan mengasuh anak-anaknya.
Allah tidak akan lalai dan lupa. “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (H.R. Bukhari Muslim)
Selain itu perempuan juga mendapat hak dalam menuntut ilmu. Rasulullah bersabda, “Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim.”(H.R. Ibnu Majah)
Perbedaan peran perempuan dan laki-laki
Allah memang telah menciptakan perempuan berbeda dengan laki-laki untuk saling melengkapi. Masing-masing mempunyai hak, kewajiban, dan peran masing-masing. Mungkin dalam beberapa hal perempuan dan laki-laki bisa bertukar peran tapi hal tersebut tidak lantas dijadikan pijakan bahwa laki-laki dan perempuan bisa saling menggantikan. Pertukaran peran inipun hasilnya tidak akan sesempurna seperti jika dilakukan oleh si empunya.
Perempuan bisa menjadi pemimpin perusahaan tapi perlu diingat bahwa kecenderungan perempuan terpengaruh emosi sangat besar. Sehingga keputusan bisa jadi kurang tepat. Laki-lakipun bisa saja menjadi pengasuh bagi anak-anaknya tapi kepribadian yang kurang lembut dan kurang berperasaan bisa membuat anak tumbuh menjadi orang yang cenderung kasar dan berhati kaku.
Ada beberapa hal yang perlu dikoreksi lagi, tidak ada yang bisa melarang seorang perempuan bekerja atau menduduki jabatan, kecuali suaminya. Namun patut sekiranya disadari bahwa perempuan punya tanggung jawab pada suami, anak-anak, dan harta suaminya. Sesungguhnya saat perempuan beru saha keras untuk menuntut persamaan hak dan kewajiban maka dia telah menambah beban pada punggungny a sendiri. Cukuplah Allah sebagai pemberi rizki yang Terbaik.
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”  (An-Nisa:28)
Tidak ada gunanya menyesali kenapa dilahirkan sebagai perempuan atau kenapa laki-laki diberi berbagai kelebihan, karena semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Laki-laki diberi berbagai kelebihan karena tugasnya lebih banyak dari perempuan, tanggung jawabnya lebih berat dari perempuan, dan pekerjaanya lebih menguras tenaga daripada perempuan.
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karenanya Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...” (An-Nisa: 34)
Allah Maha Adil walau telah menakdirkan beberapa kelebihan bagi laki-laki, tapi dalam beramal dan menuntut ilmu Allah memberi kesempatan yang sama dan sama-sama bisa berbalas surga pada hari kiamat. Karena itu menurut hemat penulis kesetaraan gender adalah sebuah hal yang utopis. Terlihat indah namun jauh, jauh sekali dari kenyataan. Apakah jika kita memiliki anak-anak rela jika anak laki-laki disamakan seutuhnya dengan anak perempuan? Yang laki-laki seperti perempuan atau perempuan diperlakukan seperti laki-laki?
Bersabarlah kaum wanita! Karena Allah telah menetapkan bahwa semua nabi, rasul, dan pemimpin laki-laki berasal dari rahim seorang wanita, kecuali Nabi Adam tentunya.

Baca Selengkapnya ....

Kenapa Program Parenting Ada?

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 07 Agustus 2012 0 komentar

Anak adalah anugerah yang sangat berharga. Banyak orang tua yang rela melakukan berbagai hal termasuk merogoh kantung yang cukup dalam demi mendapatkan sang buah hati. Namun sayangnya ketika anugerah ini datang tak sedikit orang tua yang merasa kebingungan bagaimana cara mendidik anaknya. Sehingga yang terjadi adalah salah pengasuhan yang akan berakibat fatal       bagi sang anak.
Akhir-akhir ini wacana bagaimana mendidik anak dengan baik sudah mulai digulirkan. Bagai bola salju yang terus menggelinding dan membesar, banyak orang tua yang tergugah dan berusaha mencari informasi sebanyak mungkin. Program yang lebih dikenal dengan nama parenting ini mencoba memberikan informasi tentang mendidik anak agar bisa berhasil kelak dalam kehidupannya.
Banyak orangtua yang merasa tidak puas dengan didikan orangtuanya dulu sehingga ingin memberikan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Namun, ada pula yang menyanggah dan mengatakan bahwa program parenting ini tidak perlu. Dia beralasan bahwa orangtuanya dulu tidak pernah ikut program seperti ini, tapi anak-anaknya berhasil dan sukses. Atau paling tidak tetap jadi ‘orang’.
Lalu apa yang membedakan? Kenapa ada anak yang bisa sukses sementara yang lain tidak? Apakah orang tua yang mempunyai anak-anak sukses dan berhasil dulu pernah ikut program semacam ini? Misalnya saja apakah orang tua Presiden pertama kita, Soekarno, pernah mendapat pendidikan parenting sehingga bisa ‘menghasilkan’ anak yang mempunyai talenta luar biasa?
Seorang praktisi pendidikan pernah berkata paling tidak ada dua alasan kenapa orang tua yang tidak pernah ikut program parenting tapi anaknya tetap bisa sukses, yaitu naluri tepat sebagai orang tua dan lingkungan yang membentuk kepribadian anak.
NALURI TEPAT DARI ORANG TUA
Setiap orang tua memiliki naluri mendidik anak masing-masing, yang pada umumnya sebagian besar caranya diwarisi secara turun temurun dari orangtuanya. Selanjutnya naluri ini berkombinasi dengan tipologi kepribadiannya sendiri dan lingkungan sekitar yang membentuknya.
Orang tua yang mewarisi tradisi mendidik yang baik dari orangtuanya ditambah dengan pola kepribadian yang seimbang serta lingkungan yang baik pula, maka akan melahirkan pola mendidik yang baik pada anaknya.
Namun faktanya tidak semua orang tua memiliki kepribadian yang seimbang dan tidak semua orang mewarisi cara mendidik yang baik dari orangtuanya. Itu artinya tidak semua orang memiliki naluri mendidik yang tepat jika hanya mengandalkan pengalaman masa lalunya.
Seorang peneliti perilaku pernah melakukan penelitian terhadap beberapa pimpinan yang otoriter dan tiran, seperti Hitler dan Pol Pot. Dia menemukan bhawa perilaku para pemimpin tiran itu ternyata adalah warisan turun temurun dari pola didik keluarganya, artinya bahwa cara mendidik yang salah akan terus diwariskan kecuali ada satu generasi yang mau mengubahnya.
Karena itulah program parenting mulai diselenggarakan agar kesalahan pola didik tidak terjadi pada generasi selanjutnya.
Orang tua yang bersikap keras dan suka memukul kemungkinan besar karena dia dibesarkan dengan cara yang seperti itu pula. Karena orang tua mempunyai peran besar dalam mendidik anak, bagaimana anak itu tumbuh tidak lain merupakan cerminan kepribadian orangtuanya.
KONDISI LINGKUNGAN YANG BERBEDA
Kita tentu sepakat lingkungan tempat anak kita dibesarkan sekarang sungguh jauh berbeda dengan lingkungan saat kita kecil dulu. Apalagi bila dibandingkan dengan keadaan orangtua kita saat masih era penjajahan. Jadi pola pendidikan harus ikut berubah dan dinamis sesuai tuntutan zaman.
Kesalahan terbesar cara mendidik orang tua adalah selalu menjadikan masa lalu sebagai patokan. Seringkali kita membandingkan anak-anak dengan keadaan kita saat seusia mereka. Kita berharap di usia yang sama, anak bisa melakukan apa yang dulu dilakukan orangtuanya.
Misalnya “Dulu waktu ayah seumur kamu, Ayah bisa naik sepeda roda dua. Kamu masih saja pakai roda bantuan ”, “Dengar ya, Mama dulu umur 7 tahun sudah biasa cuci baju sendiri, nggak kayak kamu suruh beresin mainan aja susah.”
Orang tua mengambil peran 70% dalam membentuk pola perilaku anak, namun jika orang tua tidak melakukan perannya dengan baik maka lingkunganlah yang akan mengambil peran 70% tersebut. Padahal lingkungan sekarang, saat anak kita dibesakan, sangat jauh berbeda dengan lingkungan kita dulu.
 Dahulu saat arus informasi belum sederas ini kita masih bisa terhindar dari tayangan kekerasan, muatan pornografi, narkoba, atau game yang membuat kecanduan dan lupa waktu. Tapi sekarang rasanya mustahil bisa menghindarkan anak 100% dari hal-hal yang mengancam ini. Apakah kita akan mengisolasi mereka di rumah? Tidak membolehkan anak menggunakan teknologi dan perlatan elektronik? Atau mencabut keberadaan TV di rumah?
Disadari atau tidak televisi merupakan sarana masuknya berbagai informasi ke dalam rumah, yang positif dan negatif. Televisi bisa bebas memberikan apapun yang dikandungnya langsung dihadapan anak-anak. Televisi tak bisa membedakan apakah penontonnya anak-anak, remaja, atau orang tua. Tidak ada filter yang menyaring sehingga tayangan orang dewasa bisa dilihat anak-anak. Orangtualah yang membuat saringan itu.
Lalu bagaimana jika karena kesibukan orang tua lupa membatasi informasi yang diterima anak? Apa dampak  pola kehidupan modern yang juga menyeret kaum ibu untuk bekerja sehingga melalaikan pengasuhan anak?
Program parenting diadakan tidak hanya bertujuan membentuk pola didik yang baik tapi juga meredam dampak negatif dari arus informasi. Sementara lingkungan adalah pembentuk perilaku pertama jika orang tua dan guru tidak lagi efektif berperan.
Karena itu kurang bijaksana rasanya jika hanya mengandalkan pengalaman masa lalu dalam mendidik anak-anak jaman sekarang. Kita hidup di era globalisasi dan mengikuti pola hidup modern, tapi dalam mendidik anak masih menggunakan pola didik jaman dahulu. Mirip orang berjalan apakah jadinya jika saat berjalan selalu menoleh ke belakang tanpa melihat ke depan? Anda pasti tahu hasilnya.
Dan sayangnya sekarang bukan lagi saatnya berjalan tapi kita harus berlari, berlari mengejar ketertinggalan agar tak menjadi bangsa yang terus terpuruk. Sudah saatnya anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik agar mereka bisa berhasil di dunia dan akhirat.

Baca Selengkapnya ....

Susahnya Berbuat Baik

Posted by Nasyithun Izzah Minggu, 29 Juli 2012 0 komentar

Pernah gak sih kita merasa susah banget jadi orang baik? Adaa aja yang bisa buat kita patah semangat dan ingin menyerah. Usaha yang berliku dan menguras tenaga, salah tanggap dari orang lain, sampai tuduhan kalau cuma ingin cari muka (padahal muka gak pernah ilang ngapain dicari yah?).
intisari-online.com
Jalan kebaikan emang susah, walau jalan kebaikan adalah jalan yang lurus bukan berarti gak ada halangan sama sekali. Lurus sih lurus tapi terjal, bo! Kalau gak punya iman atau semangat segede gunung dijamin bakal tumbang ditengah jalan.
Begitulah berbuat baik tak selamanya mudah, meski yang dilakukan akan membuat orang lain senang. Tapi selalu saja ada orang sirik dan acuh tak acuh yang akan berusaha menghalangi. Kenapa orang acuh tak acuh juga menghalangi kebaikan? Kalau orang sirik kan jelas, dia akan menghalangi dengan segala cara supaya usaha kita gagal, atau paling nggak melontarkan ucapan pedas dan sinis yang membuat down.
 Nah, kalau yang acuh tak acuh dia tidak punya semangat dan memandang yang kita lakukan sia-sia. Kalau kita sering gaul sama orang-orang model begini semangat kita yang tadinya menyala-nyala lama-lama akan redup mirip lampu teplok kehabisan minyak. Tapi giliran kita berhasil dia bakal bilang itu hanya kebetulan. Padahal dia juga ikut merasakan dampak ‘kesuksesan’ kita . Aduh repot juga, yah?
Berbuat baik banyak macamnya, misalnya kita mengingatkan orang-orang agar jangan buang sampah sembarangan, apalagi di tempat umum. Uih, kelihatannya mulia banget, kan? Apalagi di tempat-tempat rekreasi yang akibat ‘pengaruh buruk’ sampah bisa membuat pemandangan jadi rusak.
Tapi kira-kira apa reaksi orang kalau diingatkan begitu? Senang, marah, atau cuek? Kebanyakan sih marah, atau paling nggak sebel, dan menganggap bahwa kita orang yang sok tahu, sok ngatur, cerewet, atau suka ikut campur urusan orang lain. Padahal kalau ditanya mereka suka tempat bersih  atau yang kotor. Yakin deh mereka suka tempat bersih. Tapi saat diingatkan untuk menjaga kebersihan pada sewot aja tuh orang-orang.
Ini nih yang bikin repot. Pengen bersih tapi gak mau ikut bersih-bersih. Mirip orang yang berharap memetik jeruk tapi yang ditanam jagung. Sampai kiamat pun gak akan bisa, kalee.
 Contoh lain kita berusaha mengingatkan para remaja yang hobi pacaran (ternyata bukan cuma mancing, jalan-jalan, atau baca aja yang dijadikan hobi). Mungkin bagi sebagian orang, mudah-mudah ini hanya sebagian kecil aja, menganggap pacaran adalah hal yang lumrah dan wajar. Remaja pacaran bukan hal aneh, malah kalau nggak pacaran dikirain nggak laku (emang dagangan, nggak laku?).
Setiap hari hampir di surat-surat kabar dan di televisi banyak dijumpai kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, atau pembuangan bayi yang baru lahir. Itu semua dari mana? Dimana akar permasalahannya? Ayo buka mata, itu semua berawal dari budaya pacaran!
Karena pacaran orang menganggap biasa deh pegang-pegang, cium ini-itu, raba sini-situ. Akhirnya bagi laki-laki (kebanyakan) yang nafsu lagi tinggi dan nggak bisa nahan lagi terjadilah hubungan di luar nikah. Akibatnya? Si cewek hamil, digugurin gagal, akhirnya pilihan terakhir dibuang pas baru lahir. Ya, ampun sadis banget! Film saw aja sampai kalah sadis. Cuma ayam gila yang ninggalin anak-anaknya. Berarti kalau manusia bisa disebut gila juga nggak, ya?
Mungkin ada yang bilang “saya dulu pacaran, nggak apa-apa kok. Nggak hamil,” atau “Anak saya pacaran, tapi dia masih bisa menjaga diri, kok” atau “lha kalau nggak pacaran gimana bisa dapat suami (atau istri)?”
Saat kita mengingatkan bahaya-bahaya dan dampak buruk pacaran, apa yang kita dapat? Ucapan terima kasih dengan wajah berbinar-binar atau wajah sebal yang menyimpan marah? Apa sih orang ini? ikut campur urusanku saja, bapak bukan, ibu bukan, nenek bukan, pak RT juga bukan. Kira-kira begitulah reaksi para remaja yang sedang bergejolak darahnya.
Seandainya mereka tahu bahwa selain pacaran masih banyak hal yang bisa dilakukan. Usia remaja adalah usia genting untuk menyusun cita-cita dimasa depan. Menempa kemampuan diri agar berhasil saat usia dewasa. Apa jadinya jika energi yang begitu besar dan bisa digunakan untuk mempelajari banyak hal, habis untuk bermelo-melo pacaran?
Ah, seandainya para remaja tahu, kalau orang-orang berhasil dan sukses menghabiskan masa remajanya dengan belajar dan berhati keras menghadapi berbagai kesulitan. Tidak ada orang sukses tiba-tiba berhasil. Ada proses panjang yang dilalui. Mereka rela mengisi masa remaja dengan mimpi-mimpi dan perencanaan masa depan. Mereka tidak menghabiskan waktu hanya memikirkan bagaimana menggaet si anu, malam minggu ini pergi kemana, atau bertanya-tanya kenapa si anu menghiantinya dan berpaling pada orang lain.
Para orang sukses tidak terjebak pada budaya remaja yang cenderung lebay dan mendayu-dayu. Seolah dunia ini hanya dipenuhi bayangan si anu dan hampanya hati bila tak bisa bersama yang disukai.
Sudahlah bakalan panjang kalau ngomongin tentang pacaran, yang jelas meski perjalanan berbuat kebaikan tidak mudah kita tak boleh putus asa. Semakin susah, berarti semakin menantang, dan Insya Allah dapat pahala besar.
Meski tidak banyak, di belahan dunia manapun selalu ada orang yang tergerak untuk menanam kebaikan. Ini adalah orang hebat yang dengan tangannya mampu membuat tanah tandus bisa ditanami. Butuh kesabaran dan keuletan tingkat tinggi. Tidak pernah menyerah pada halangan, tapi justru semakin bersemangat.
Percaya deh, walaupun susah tapi lama kelamaan hasilnya akan terlihat dan saat itu barulah kita menyadari bahwa yang kita lakukan tidak sia-sia. Penting untuk menanamkan pada diri sendiri agar tidak berharap perubahan bisa terjadi dengan instan, itu semua perlu waktu, coy. Banyak orang yang akhirnya menyerah karena tidak sabar menunggu hasil itu muncul.
Ayo tetap semangat, menjadi orang baik memang susah, tapi menjadi orang susah justru lebih tidak baik lagi, makanya pantang menyerah! Dan mulai sekarang mari menebalkan muka dan telinga, agar tidak mudah jatuh oleh pandangan dan omongan orang.

Baca Selengkapnya ....

BANGGA MENJADI IBU RUMAH TANGGA

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 24 Juli 2012 0 komentar

Berapa orang ibu rumah tangga yang bangga saat ditanya apa pekerjaannya? Sedikit sekali. Kebanyakan mereka merasa malu dan rendah diri.
Dewasa ini terjadi pergeseran nilai di masyarakat tentang ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga seringkali tidak dianggap sebagai profesi meski sebenarnya menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier adalah pilihan. Kebanyakan dari kita ‘silau’ saat melihat seorang wanita yang mempunyai karier bagus atau memegang jabatan penting. Padahal menjadi ibu rumah tangga merupakan  pilihan yang mulia.
Kehidupan sosial di zaman globalisasi telah menstigmakan bahwa ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang produktif. Tidak menghasilkan sama-sekali dan bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan.
Sebenarnya pekerjaan ibu rumah tangga sangat berat dan tidak mengenal waktu. Sebelum subuh ia harus bangun menyiapkan sarapan. Paginya memandikan atau menyuapi anak-anaknya, ditambah harus menyiapkan keperluan suami sebelum berangkat kerja. Setelah semua berangkat sekolah atau kerja, ibu memebersihkan rumah atau mencuci. Siangnya anak-anak mulai pulang sekolah dan minta ini-itu. Sorenya suami pulang minta dibuatkan teh manis atau dihangatkan air mandi. Malamnya sebelum tidur masih membacakan dongeng atau meninabobokan anak.
Ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anak. Secara nonmateri ibu rumah tangga sangat produktif dalam mendidik putra-putrinya. Terbentuknya generasi unggulan berawal dari cara mendidik yang benar dari ibunya.
Oleh karena itu tidak perlu merasa sia-sia bila ada seorang wanita yang tinggi pendidikannya kemudian ‘hanya’ berkutat pada persoalan rumah tangga. Ibu yang cerdas dan pintar akan mendidik anaknya lebih baik daripada ibu yang tidak punya modal pengetahuan. Persoalan rumah tangga pun bisa terselesaikan dengan baik.
Meski terlihat sepele persoalan rumah tangga yang tidak segera ditangani bisa membuat seluruh  keluarga menderita. Ada anak yang mengeluh masakan ibunya tidak enak sehingga ia malas makan dan badannya jadi kurus serta gampang sekali sakit. Ia pun malu mengajak teman main ke rumah karena rumah selalu berantakan. Sementara suami mengeluh pakaiannya kusut dan masih kotor di beberapa bagian padahal sudah dicuci.
Bayangkan bila hal itu terjadi setiap hari, ketenangan dalam rumah tidak akan terwujud. Keluarga tidak betah di rumah dan ingin cepat-cepat pergi saja. Beruntung seandainya masih bisa menggaji pembantu rumah tangga, tapi untuk yang ekonominya pas-pasan tentu akan sulit. Meski memiliki pembantu tidak berarti ibu bisa lepas tanggung jawab sepenuhnya.
Bila mau mencermati banyak tokoh besar atau orang penting dunia ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Thomas Alfa Edisson yang dicap bodoh dan dikeluarkan  dari sekolah akhirnya berhasil menemukan bola lampu pijar. Semua itu karena didikan ibunya di rumah.
Ibu rumah tangga mempunyai banyak waktu sehingga bisa mengasuh dan mendidik anak-anaknya lebih optimal. Suami juga merasa tenang karena selalu mendapati istrinya di rumah demi berbagi kelelahan sepulang kerja.
Kurangnya apresiasi peran ibu rumah tangga membuat profesi ini seakan tidak ada artinya. Padahal di setiap keberhasilan laki-laki pasti ada wanita di belakang mereka. Entah ibu atau istrinya. Berapa banyak para petinggi, pengusaha sukses, tokoh masyarakat yang istrinya di rumah? Banyak sekali.
Menjadi ibu rumah tangga berarti memilih jalur pengorbanan yang sepi dari pujian. Naluri manusia yang ingin diakui eksistensinya membuat banyak wanita ingin memiliki profesi lain di luar rumah. Agar bisa lebih ‘dianggap’ dan dihormati. Padahal ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia tidak kalah dengan dokter, pengacara, atau bupati.
Karena itu para ibu rumah tangga mari tegakkan badan dan angkat kepala lalu katakan dengan bangga: saya seorang ibu rumah tangga!

Baca Selengkapnya ....
TEMPLATE CREDIT:
Tempat Belajar SEO Gratis Klik Di Sini - Situs Belanja Online Klik Di Sini - Original design by Bamz | Copyright of Ummi Raihan.