BANGGA MENJADI IBU RUMAH TANGGA

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 24 Juli 2012 0 komentar

Berapa orang ibu rumah tangga yang bangga saat ditanya apa pekerjaannya? Sedikit sekali. Kebanyakan mereka merasa malu dan rendah diri.
Dewasa ini terjadi pergeseran nilai di masyarakat tentang ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga seringkali tidak dianggap sebagai profesi meski sebenarnya menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier adalah pilihan. Kebanyakan dari kita ‘silau’ saat melihat seorang wanita yang mempunyai karier bagus atau memegang jabatan penting. Padahal menjadi ibu rumah tangga merupakan  pilihan yang mulia.
Kehidupan sosial di zaman globalisasi telah menstigmakan bahwa ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang produktif. Tidak menghasilkan sama-sekali dan bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan.
Sebenarnya pekerjaan ibu rumah tangga sangat berat dan tidak mengenal waktu. Sebelum subuh ia harus bangun menyiapkan sarapan. Paginya memandikan atau menyuapi anak-anaknya, ditambah harus menyiapkan keperluan suami sebelum berangkat kerja. Setelah semua berangkat sekolah atau kerja, ibu memebersihkan rumah atau mencuci. Siangnya anak-anak mulai pulang sekolah dan minta ini-itu. Sorenya suami pulang minta dibuatkan teh manis atau dihangatkan air mandi. Malamnya sebelum tidur masih membacakan dongeng atau meninabobokan anak.
Ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anak. Secara nonmateri ibu rumah tangga sangat produktif dalam mendidik putra-putrinya. Terbentuknya generasi unggulan berawal dari cara mendidik yang benar dari ibunya.
Oleh karena itu tidak perlu merasa sia-sia bila ada seorang wanita yang tinggi pendidikannya kemudian ‘hanya’ berkutat pada persoalan rumah tangga. Ibu yang cerdas dan pintar akan mendidik anaknya lebih baik daripada ibu yang tidak punya modal pengetahuan. Persoalan rumah tangga pun bisa terselesaikan dengan baik.
Meski terlihat sepele persoalan rumah tangga yang tidak segera ditangani bisa membuat seluruh  keluarga menderita. Ada anak yang mengeluh masakan ibunya tidak enak sehingga ia malas makan dan badannya jadi kurus serta gampang sekali sakit. Ia pun malu mengajak teman main ke rumah karena rumah selalu berantakan. Sementara suami mengeluh pakaiannya kusut dan masih kotor di beberapa bagian padahal sudah dicuci.
Bayangkan bila hal itu terjadi setiap hari, ketenangan dalam rumah tidak akan terwujud. Keluarga tidak betah di rumah dan ingin cepat-cepat pergi saja. Beruntung seandainya masih bisa menggaji pembantu rumah tangga, tapi untuk yang ekonominya pas-pasan tentu akan sulit. Meski memiliki pembantu tidak berarti ibu bisa lepas tanggung jawab sepenuhnya.
Bila mau mencermati banyak tokoh besar atau orang penting dunia ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Thomas Alfa Edisson yang dicap bodoh dan dikeluarkan  dari sekolah akhirnya berhasil menemukan bola lampu pijar. Semua itu karena didikan ibunya di rumah.
Ibu rumah tangga mempunyai banyak waktu sehingga bisa mengasuh dan mendidik anak-anaknya lebih optimal. Suami juga merasa tenang karena selalu mendapati istrinya di rumah demi berbagi kelelahan sepulang kerja.
Kurangnya apresiasi peran ibu rumah tangga membuat profesi ini seakan tidak ada artinya. Padahal di setiap keberhasilan laki-laki pasti ada wanita di belakang mereka. Entah ibu atau istrinya. Berapa banyak para petinggi, pengusaha sukses, tokoh masyarakat yang istrinya di rumah? Banyak sekali.
Menjadi ibu rumah tangga berarti memilih jalur pengorbanan yang sepi dari pujian. Naluri manusia yang ingin diakui eksistensinya membuat banyak wanita ingin memiliki profesi lain di luar rumah. Agar bisa lebih ‘dianggap’ dan dihormati. Padahal ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia tidak kalah dengan dokter, pengacara, atau bupati.
Karena itu para ibu rumah tangga mari tegakkan badan dan angkat kepala lalu katakan dengan bangga: saya seorang ibu rumah tangga!

Baca Selengkapnya ....

JANDA DALAM PERSEPSI

Posted by Nasyithun Izzah Minggu, 15 Juli 2012 0 komentar

Suatu pagi saat berbelanja di pasar bersama suami tak sengaja terdengar suara seorang ibu, “Ati-ati lho guyon karo rondo!” Artinya “ Hati-hati lho bercanda dengan janda.”

balihand.com
Sepertinya itu adalah perkataan yang dilontarkan ibu-ibu pedagang sayur kepada temannya yang sama-sama sedang berjualan. Biasanya kalau pembeli tidak akan berkata sekeras itu. Malu. Tapi namanya juga di pasar, sudah menjadi hal yang biasa jika mengobrol segamblang itu, apalagi sesama pedagang.
Sekilas saya melirik suami yang hanya mengangkat alis dan tersenyum, lalu bergegas pergi membawa barang belanjaan, sedangkan saya mengikuti sambil menggendong si kecil.
Janda adalah seorang perempuan yang sudah menikah tapi tidak lagi mempunyai suami, mungkin karena kematian, bercerai, atau ditinggal pergi begitu saja. Menurut saya tidak ada satu pun wanita, yang masih baik akal dan hatinya tentu, yang bercita-cita jadi janda. Saat menikah pasti tidak ada dalam angan-angan bahwa saya akan menjadi janda. Walaupun pada kenyataannya kalau dia tidak meninggal terlebih dulu, pastilah si suami yang akan terlebih dahulu menghadap Illahi.
 Janda bukan hal yang aneh dalan masyarakat. Sejak jaman baheula janda sudah ada. Tapi entah kenapa janda identik dengan hal-hal yang tidak pantas. Apalagi kalau masih muda sudah menjanda. Kata orang-orang mah janda kembang euy...
Ketika seorang wanita menjadi janda merupakan saat –saat yang sulit untuknya. Apalagi kalau dia sangat mencintai si suami. Kesulitan makin terasa jika suami adalah tulang punggung keluarga yang meninggalkan banyak anak dan masih kecil-kecll. Kita tidak berbicara tentang wanita yang menikah dengan seorang laki-laki kaya dan sudah tua. Saat suami meninggal dia akan hidup senang bergelimang uang warisan yang banyak dikisahkan di sinetron-sinetron.
Begitu besar beban yang harus ditanggung  karena kepergian suami. Meski dalam beberapa kasus perceraian istri yang mengajukan gugatan untuk berpisah. Beban mental dan moral harus dipikul selain juga beban materi untuk menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya. Tidak ada wanita yang benar-benar siap saat menghadapi perceraian.
 Belum lagi ditambah anggapan negatif dari masyarakat bahwa janda adalah perusak rumah tangga orang. Bahkan ketika si janda akhirnya menikahi seorang laki-laki bujangan, maka rasa-rasanya mulut gatal kalau tidak ikut berkomentar.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan status janda, yang perlu dibenahi adalah persepsi dan cara pandang masyarakat kita. Tidak semua janda adalah perebut suami orang dan tidak semua suami mau direbut oleh janda (lho?).
Daripada mendeskritkan status janda wanita lain lebih baik berusaha agar suami betah di rumah dan terhindar dari godaan di luar. Jadilah istri shalihah yang menyenangkan bila dipandang, betutur kata lemah lembut, dan mematuhi perintah suami. Dengarkan keluh kesahnya dan tentramkan hatinya. Jangan mudah terpengaruh dengan cerita suami-suami yang suka berbuat ini-itu diluar. Sehingga jadi berpikiran buruk dan memicu pertengkaran yang tidak perlu.
Jadikan rumah adalah tempat istirahat yang tenang dan hangat bagi suami. Semoga suami-suami kita tidak tergoda diluar karena kita sudah lebih dulu ‘menggodanya’ di rumah.

Baca Selengkapnya ....

Hikayat Radio Rusak

Posted by Nasyithun Izzah Kamis, 12 Juli 2012 0 komentar
Apa yang anda lakukan jika tiba-tiba radio Anda rusak? Apakah Anda akan memukul-mukul radio tersebut sembari berharap bisa hidup kembali? Saya yakin kebanyakan kita akan melakukan hal seperti itu. Permasalahannya jika kita melakukan itu setiap kali radio rusak apakah radio bertambah baik atau semakin rusak?
Jika radio sudah mati barulah dibawa ke tukang reparasi untuk dicari penyakitnya. Kenapa kita memukul-mukul radio kita saat radio itu rusak ketimbang mencari tahu dimana letak kerusakannya? Ada beberapa alasan, diantaranya:
1.       Tidak tahu penyebab kerusakannya
2.       Ingin cara mudah dan cepat
3.       Terbawa emosi dan rasa kesal karena terjadi berulang-ulang.
4.       Tidak ingn repot mencari penyebab masalah dan menemukan solusinya
Tanpa sadar seringkali para orang tua memperlakukan anaknya mirip radio rusak. Ketika anak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan orang tua, mereka serta merta dipukul baik dengan tangan atau kata-kata kasar. Jarang ada orang tua yang mau menyempatkan diri mencari tahu kenapa anaknya melakukan hal yang dalam pandangan orang tua dikategorikan ‘nakal’ tersebut.
Setelah si anak tidak dapat diperbaiki barulah dikirim ke pusat rehabilitasi atau penampungan remaja bermasalah, pesantren, bahkan ada yang singgah di Lembaga Pemasyarakatan.  Mudah-mudahan diantara anak kita tidak ada yang mengalami demikian.
Alasan yang mendasari pun hampir sama:
1.       Kebanyakan orang tua tidak tahu kenapa anaknya melakukan hal seprti itu.
2.       Setiap orang tua ingin cara cepat dan mudah untuk mengatasi perilaku anak.
3.       Sebagian besar orang tua didorong perasaan emosi dan marah.
4.       Sedikit orang tua yang mau bersusah payah mencari solusi.
Seperti radio rusak, awalnya akan memberikan reaksi ‘seolah-olah sembuh’. Tetapi lama kelamaan akan muncul tekanan kejiwaan pada diri anak yang berujung pada perlawanan anak pada orang tua. Jika orang tua mengeluh anaknya saat remaja susah diatur dan suka melawan, coba flash back kebelakang bagaimana orang tua selama ini meperlakukan anak mereka.
Alangkah sedihnya hati para anak jika orang tua terus-menerus memperlakukan mereka seperti radio rusak. Bagaimana jadinya masa depan mereka kelak? Anak yang mengalami tekanan kejiwaan apakah bisa berhasil dalam hidupnya?
Bukti-bukti sudah banyak, bukan hanya di kalangan remaja,  anak-anak pun sudah melakukan tindak kekerasan. Bahkan, beberapa waktu lalu kita melihat budaya kekerasan sudah masuk ke dalam rapat anggota dewan yang terhormat.
Anak adalah buah cinta kasih kedua orang tuanya, laksana permata yang begitu berharga. Saking berharganya sekaya apapun kita tak akan pernah bisa membuat seorang anak. Sungguh ironi jika kita memperlakukan sesuatu yang berharga ini seperti barang rusak yang sewaktu-waktu bisa dibuang ke tong sampah.
Seringkali orang tua menganggap sepele tindak kekerasan yang dilakukan pada anaknya, padahal hal itu akan terekam di otaknya dan akan membetuk perilakunya  saat dewasa.
Mari kita belajar mengelola anak secara tepat, memanajemen anak agar kelak anak tidak menjadi ‘radio rusak’ yang banyak ditemui di rumah-rumah negeri ini. Agar orang tua tidak terkaget-kaget bila suatu hari anaknya tumbuh menjadi pembangkang dan gemar bertindak kekerasan.
Disarikan dari: Indonesian Strong From Home, by Ayah Edy

Baca Selengkapnya ....

Ibu Rumah Tangga? Hebat!

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 10 Juli 2012 0 komentar

Halooo... akhirnya bisa nulis lagi. Sudah lama tangan ini nggak menyentuh keyboard. Lumayan kaku juga sih. Yah, beginilah kalau dihinggapi rasa malas, rasanya nggak ingin ada di depan komputer. Pinginnya tuh tiduuuur aja, mumpung ada waktu dan kesempatan.
Raihan yang sekarang sudah berusia 1,5 tahun, begitu menguras tenaga. Siang harus stand by menemani bermain padahal aku juga masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah, yang seringkali harus dilakukan saat raihan tidur. Tidur pagi/siang sekitar 2 jam diisi dengan mencuci, nyapu, beres-beres. Pas giliran selesai kerjaannya pas juga raihan bangun dan acara bermain pun dimulai lagi, nah kapan istirahatnya?
Malam tak pernah tidur nyenyak, harus bangun beberapa kali. Seringkali minta mimik, atau merengek digigit nyamuk. Tau-tau sudah subuh dan kesempatan tidur malam sudah berakhir.
Pernah beberapa kali sambil mengawasi bermain saya tertidur, tapi lima menit kemudian bangun tergagap-gagap karena Raihan nangis atau ditarik-tarik Raihan yang ingin main kuda-kudaan.
Menjadi ibu ternyata tidak mudah. Meski seringkali dianggap tidak produktif, menjadi Ibu rumah tangga lebih berat dari kerja diluar. Saat seorang wanita memutuskan menjadi ibu dan menjalani perannya di rumah maka pekerjaan 24 jam nonstop telah menanti. Pekerjaan-pekerjaan ibu rumah tangga terlihat sepele tapi sangat menguras tenaga dan waktu. Mencuci, mengepel, memasak, membersihkan kaca, mengasuh anak, menyiapkan sarapan, setrika, melipat pakaian adalah contoh agenda rutin ibu rumah tangga.
Apa sih hebatnya pekerjaan seperti itu? Dilihat sekilas memang tidak ada yang perlu dibanggakan apalagi diapresiasi. Seolah-olah pekerjaan itu memang sudah sewajarnya dan tidak perlu dibesar-besarkan. Tapi seperti kebanyakan hal yang ada di dunia ini, baru terasa penting kalau sudah kehilangan. Seandainya si ibu rumah tangga tidak mau lagi menyelesaikan segala macam tetek bengek itu dan memilih pekerjaan lain di luar rumah apa yang terjadi?
Bisa dipastikan rumah jadi kotor, berantakan, dan sangat tidak nyaman untuk dihuni. Si ayah tidak akan menemukan apa-apa di meja makan. Pakaian kotor akan menggunung. Lantai kotor dan licin, rumah berbau tak sedap. Barang-barang berserakan dimana-mana dan si anak akan lebih senang bermain diluar dari pada duduk manis di rumah.
Lalu langkah apa yang akan diambil untuk mengatasi tragedi terbengkalainya pekerjaan rumah? Kalau punya dana lebih pembantu rumah tangga jadi pilihan utama, tak lupa baby sitter untuk mengasuh anak, terkadang ditambah tukang kebun untuk merawat tanaman, potong rumput, dan naik-naik ke atas genting kalau ada yang bocor. Coba hitung berapa uang yang harus dikeluarkan?
Kalau tak ada uang yah terpaksa semua dilakukan sendiri, kebayang nggak sih para ayah harus bangun pagi buta untuk masak dan menyiapkan sarapan? Atau melihat laki-laki pemimpin keluarga menyapu, mengepel, dan mencuci pakaian? Ditambah menggendong anak kesana-kemari demi menyuapi anaknya yang susah makan? Ih, nggak banget deh, jawab para suami dan ayah.
Penilaian yang tidak adil seringkali membuat ibu rumah tangga bukanlah sebagai profesi. Seolah-olah, wuss, ada begitu saja dan tidak perlu diperhatikan. Padahal ibu rumah tangga berarti menghemat pengeluaran keluarga untuk gaji pembantu dan baby sitter. Selain itu ada hal yang lebih penting yang tidak bisa digantikan dengan uang, yaitu kasih sayang bagi anak-anaknya.
Seprofesional apapun, sebaik apapun, sesayang apapun pembantu atau baby sitter pada anak-anak tidak akan pernah menyamai kasih sayang ibu pada anaknya. Ada ikatan batin yang tidak bisa diganti oleh siapapun. Kelembutan dan kasih sayang seorang ibu dalam mengasuh, menyayangi, dan menegur putra-putrinya tidak akan sama dengan orang lain, bahkan oleh sang kakek atau nenek.
Kalau kita memposisikan diri sebagai anak-anak tentu lebih memilih bersama ibu daripada baby sitter. Kenapa? Karena antara anak dan ibu ada ikatan emosi yang kuat. Anak cenderung merasa nyaman dipelukan ibunya bukan orang lain.
Seringkali kita tidak menyadari ini, hingga suatu saat banyak orang tua terperanjat dan bertanya-tanya, kenapa anak saya jadi susah diatur? Kenapa anak saya tidak mau mendengar perkataan orang tuanya? Anak yang tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh cenderung menjadi anak yang bermasalah dalam perliaku dan kehidupan sosialnya.
Seorang teman pernah ‘nekat’ menitipkan anaknya pada tetangga demi melamar kerja. Persoalannya kelihatan sepele tapi bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga, teman saya itu menderita kebosanan dan kejenuhan. Sebelum menikah dia memang aktif bekerja dan menduduki jabatan penting di beberapa organisasi. Setelah menikah dan hamil ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan kegiatan organisasi.
Setelah sang buah hati lahir lambat laun dia mulai merasakan kejenuhan. Dia yang sebelumnya aktif kesana-kemari dengan kegiatan yang padat harus mengurus anak 24 jam. Tahun-tahun pertama seorang anak memang sangat merepotkan, apalagi dia merantau keluar pulau mengikuti suami, tanpa dukungan keluarga dekat. Bisa dibayangkan betapa menderitanya teman saya itu.
Si suami seringkali harus lembur di akhir pekan, sementara menggaji pengasuh bukan pilihan yang memungkinkan. Teman saya yang lain sering memberi semangat padanya agar bersabar sebab anak adalah amanah yang harus dijaga. Penghasilan suami masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup jadi tidak ada hal yang mendesak agar istri ikut bekerja.
 Namun, suatu hari (mungkin saat itu bosannya sudah mencapai ubun-ubun) dia menitipkan anaknya yang berumur 7 bulan ke tetangga agar bisa melamar kerja. Banyak lamaran yang diajukan tapi selalu kandas karena perusahaan tidak mau menerima wanita yang sudah memiliki anak.
Apakah Anda pernah mengalami hal serupa? Merasa jenuh dan tak berarti karena hanya sibuk berkutat di rumah hari ke hari? Ya, saya pernah. Sempat terlintas untuk kerja agar bisa mengurangi kejenuhan. Tapi suami saya melarang dan berkata bahwa saya sebaiknya menekuni wirausaha yang bisa menjalankan bisnis di rumah sekaligus mengasuh anak kami.
Apakah usaha saya berhasil? Yah, sempat jalan sih, tapi harus berhenti karena ternyata mengurus balita sangat-sangat merepotkan. Tiap kali saya di depan komputer (saya berjualan jilbab online) Raihan selalu ikut nimbrung dan membanting keyboard. Dia itu aktif sekali, sementara kami sudah berkomitmen tidak akan menyerahkan pengasuhan Raihan pada baby sitter.
Lalu terpikir kuliah lagi, kan lumayan saat selesai kuliah (kira-kira saat itu Raihan sudah masuk SD) saya bisa menjadi guru seperti cita-cita saya. Tapi keinginan itu harus ditunda karena (lagi-lagi) Raihan tidak bisa berpisah dari saya. Jadi, sementara ini saya bersabar dan menikmati setiap momen perkembangan Raihan sambil sesekali menulis kalau sempat dan tidak malas hehe.. siapa tau juga Allah berkenan memberikan adik buat Raihan.
Memang tidak mudah menjadi seorang ibu tapi jika ingin memiliki anak yang hebat dan sesuai dengan harapan orang tua ada harga yang harus dibayar. Tenaga, waktu, dan pikiran harus dicurahkan penuh demi anak. Tidak orang hebat atau sukses tiba-tiba muncul begitu saja. Ada proses panjang pendidikan dalam kehidupannya, yang bersumber pada bagaimana cara orang tua mendidiknya.
Kebanyakan para ilmuwan, pengusaha sukses, tokoh-tokoh dunia ber-ibu-kan seorang ibu rumah tangga. Ibu mereka memberikan amunisi yang tak bisa diberikan orang lain dan tidak ada di buku-buku, yaitu kasih sayang, semangat, dan harapan. Anak bisa mendapatkan pelajaran, ilmu, uang, dan pengalaman dari luar. Tapi kasih sayang orang tua hanya bisa didapatkan dari orang tuanya sendiri bukan orang lain.
Orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Karena itu, bersemangatlah para mommy yang sedang mengawal perkembangan putra-putrinya, percayalah menjadi ibu adalah pilihan yang mulia.

Baca Selengkapnya ....

Ketika Kita tak Sejalan dengan Mertua

Posted by Nasyithun Izzah Rabu, 16 November 2011 0 komentar
Zaman terus berkembang dan berubah, begitu pula dengan pola pengasuhan anak. cara mendidik anak zaman sekarang sudah tentu berbeda dengan pendidikan saat kita masih kecil. Sehingga tak jarang hal ini menjadi konflik antara kita dan orang tua sebagai kakek neneknya. Bila tak di tangani dengan tepat bisa-bisa berdampak pada renggangnya hubungan kita dengan orang tua, lebih-lebih bila kita diposisi sebagai menantu. Sudah bukan rahasia lagi bahwa hubungan antara menantu dan mertua rawan menimbulkan konflik. hal-hal sepele bisa berdampak besar jika tidak pandai-pandai menyikapinya.
Berikut adalah cuplikan konsultasi yang di muat di majalah mother & baby edisi november 2011.

Pertanyaan:
Ibu mertua saya kerap berbeda pendapat soal pengasuhan anak saya yang baru berusia tiga bulan. saya selalu berusaha menghindari konflik dengan tersenyum saat menerima sarannya. namun, jika ia tahu saran itu tidak saya jalankan, ia akan protes kepada suami saya. bagaimana ya menyelesaikan konflik ini?

Jawaban:
Memang pola asuh Anda seringkali bertentangan dengan cara orang tua Anda atau mertua. Dan, seringkali pertentanga itu menjadi kendala bagi hubungan baik antara anak dengan orangtuanya atau mertua. Sebenarnya bila dipandang dari sisi kakek-nenek, mereka melihat si Kecil sebagai anak dari anaknya yang tercinta. Si kakek-nenek ini hanya ingin menunjukan cinta mereka dan ingin selalu dekat dengan cucunya.
Namun bisa terjadi bhawa cara mereka ini berbeda dengan cara Anda. ini bisa terjadi karena perbedaan generasi, pengetahuan dan zaman. Anda mendidik Si Kecil dengan cara yang Anda anggap benar. Sementara orang tua, yang merasa telah mendidik Anda, juga merasa bahwa caranya benar. Mereka pasti berpikir, toh anak-anaknya tumbuh dewasa dengan baik.
Bila kejadian ini terjadi pada orang tua Anda, mungkin Anda akan lebih mudah membicarakannya. Mungkin awalnya mereka marah dan menentang, namun mereka akan memaklumi alasana Anda. Tetapi kalau terjadi pada mertua, tentu lebih rumit. Karena bila salah berbicara, kemungkinan terjadinya masalah akan lebih besar. Ini terjadi karena beliau belum mengenal Anda dengan baik, dibanding mengenal anaknya sendiri.
Jadi, langkah paling aman adalah dengan membicaraknnya dengan suami. Sepakatlah dulu dengan suami mengenai pola asuh Si Kecil. Apa yang boleh, apa yang tidak serta nilai-nilai apa yang Anda dan suami ingin tanamkandalam keluarga. Kesepakatan bersama, yang diyakini bersama pasti akan lebih ingin dipertahankan. suami pun akan lebih mudah mendukung Anda saat konflik terjadi. Karena keputusannya merupakan keputusan bersama.
Mintalah suami bicara pelan-pelan pada ibunya, dalam suasana tenang, dengan alasan yang dapat diterima oleh ibu mertua Anda. Apapun masalah Anda dengan mertua, suami adalah orang yang paling tepat untuk membantu menyelesaikan. Jangan menaruh suami di tengah-tengah atau pada posisi serba salah dan harus memilih antara Anda atau ibunya.
Kalau Anda tidak serumah dengan mertua dan hanya bertemu sesekali, biarkan saja masalah itu bila tidak terlalu mengganggu. Toh Anda selalu bisa memperbaikinya saat Anda pulang ke rumah sendiri.

Baca Selengkapnya ....
TEMPLATE CREDIT:
Tempat Belajar SEO Gratis Klik Di Sini - Situs Belanja Online Klik Di Sini - Original design by Bamz | Copyright of Ummi Raihan.