Kenapa Program Parenting Ada?

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 07 Agustus 2012 0 komentar

Anak adalah anugerah yang sangat berharga. Banyak orang tua yang rela melakukan berbagai hal termasuk merogoh kantung yang cukup dalam demi mendapatkan sang buah hati. Namun sayangnya ketika anugerah ini datang tak sedikit orang tua yang merasa kebingungan bagaimana cara mendidik anaknya. Sehingga yang terjadi adalah salah pengasuhan yang akan berakibat fatal       bagi sang anak.
Akhir-akhir ini wacana bagaimana mendidik anak dengan baik sudah mulai digulirkan. Bagai bola salju yang terus menggelinding dan membesar, banyak orang tua yang tergugah dan berusaha mencari informasi sebanyak mungkin. Program yang lebih dikenal dengan nama parenting ini mencoba memberikan informasi tentang mendidik anak agar bisa berhasil kelak dalam kehidupannya.
Banyak orangtua yang merasa tidak puas dengan didikan orangtuanya dulu sehingga ingin memberikan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Namun, ada pula yang menyanggah dan mengatakan bahwa program parenting ini tidak perlu. Dia beralasan bahwa orangtuanya dulu tidak pernah ikut program seperti ini, tapi anak-anaknya berhasil dan sukses. Atau paling tidak tetap jadi ‘orang’.
Lalu apa yang membedakan? Kenapa ada anak yang bisa sukses sementara yang lain tidak? Apakah orang tua yang mempunyai anak-anak sukses dan berhasil dulu pernah ikut program semacam ini? Misalnya saja apakah orang tua Presiden pertama kita, Soekarno, pernah mendapat pendidikan parenting sehingga bisa ‘menghasilkan’ anak yang mempunyai talenta luar biasa?
Seorang praktisi pendidikan pernah berkata paling tidak ada dua alasan kenapa orang tua yang tidak pernah ikut program parenting tapi anaknya tetap bisa sukses, yaitu naluri tepat sebagai orang tua dan lingkungan yang membentuk kepribadian anak.
NALURI TEPAT DARI ORANG TUA
Setiap orang tua memiliki naluri mendidik anak masing-masing, yang pada umumnya sebagian besar caranya diwarisi secara turun temurun dari orangtuanya. Selanjutnya naluri ini berkombinasi dengan tipologi kepribadiannya sendiri dan lingkungan sekitar yang membentuknya.
Orang tua yang mewarisi tradisi mendidik yang baik dari orangtuanya ditambah dengan pola kepribadian yang seimbang serta lingkungan yang baik pula, maka akan melahirkan pola mendidik yang baik pada anaknya.
Namun faktanya tidak semua orang tua memiliki kepribadian yang seimbang dan tidak semua orang mewarisi cara mendidik yang baik dari orangtuanya. Itu artinya tidak semua orang memiliki naluri mendidik yang tepat jika hanya mengandalkan pengalaman masa lalunya.
Seorang peneliti perilaku pernah melakukan penelitian terhadap beberapa pimpinan yang otoriter dan tiran, seperti Hitler dan Pol Pot. Dia menemukan bhawa perilaku para pemimpin tiran itu ternyata adalah warisan turun temurun dari pola didik keluarganya, artinya bahwa cara mendidik yang salah akan terus diwariskan kecuali ada satu generasi yang mau mengubahnya.
Karena itulah program parenting mulai diselenggarakan agar kesalahan pola didik tidak terjadi pada generasi selanjutnya.
Orang tua yang bersikap keras dan suka memukul kemungkinan besar karena dia dibesarkan dengan cara yang seperti itu pula. Karena orang tua mempunyai peran besar dalam mendidik anak, bagaimana anak itu tumbuh tidak lain merupakan cerminan kepribadian orangtuanya.
KONDISI LINGKUNGAN YANG BERBEDA
Kita tentu sepakat lingkungan tempat anak kita dibesarkan sekarang sungguh jauh berbeda dengan lingkungan saat kita kecil dulu. Apalagi bila dibandingkan dengan keadaan orangtua kita saat masih era penjajahan. Jadi pola pendidikan harus ikut berubah dan dinamis sesuai tuntutan zaman.
Kesalahan terbesar cara mendidik orang tua adalah selalu menjadikan masa lalu sebagai patokan. Seringkali kita membandingkan anak-anak dengan keadaan kita saat seusia mereka. Kita berharap di usia yang sama, anak bisa melakukan apa yang dulu dilakukan orangtuanya.
Misalnya “Dulu waktu ayah seumur kamu, Ayah bisa naik sepeda roda dua. Kamu masih saja pakai roda bantuan ”, “Dengar ya, Mama dulu umur 7 tahun sudah biasa cuci baju sendiri, nggak kayak kamu suruh beresin mainan aja susah.”
Orang tua mengambil peran 70% dalam membentuk pola perilaku anak, namun jika orang tua tidak melakukan perannya dengan baik maka lingkunganlah yang akan mengambil peran 70% tersebut. Padahal lingkungan sekarang, saat anak kita dibesakan, sangat jauh berbeda dengan lingkungan kita dulu.
 Dahulu saat arus informasi belum sederas ini kita masih bisa terhindar dari tayangan kekerasan, muatan pornografi, narkoba, atau game yang membuat kecanduan dan lupa waktu. Tapi sekarang rasanya mustahil bisa menghindarkan anak 100% dari hal-hal yang mengancam ini. Apakah kita akan mengisolasi mereka di rumah? Tidak membolehkan anak menggunakan teknologi dan perlatan elektronik? Atau mencabut keberadaan TV di rumah?
Disadari atau tidak televisi merupakan sarana masuknya berbagai informasi ke dalam rumah, yang positif dan negatif. Televisi bisa bebas memberikan apapun yang dikandungnya langsung dihadapan anak-anak. Televisi tak bisa membedakan apakah penontonnya anak-anak, remaja, atau orang tua. Tidak ada filter yang menyaring sehingga tayangan orang dewasa bisa dilihat anak-anak. Orangtualah yang membuat saringan itu.
Lalu bagaimana jika karena kesibukan orang tua lupa membatasi informasi yang diterima anak? Apa dampak  pola kehidupan modern yang juga menyeret kaum ibu untuk bekerja sehingga melalaikan pengasuhan anak?
Program parenting diadakan tidak hanya bertujuan membentuk pola didik yang baik tapi juga meredam dampak negatif dari arus informasi. Sementara lingkungan adalah pembentuk perilaku pertama jika orang tua dan guru tidak lagi efektif berperan.
Karena itu kurang bijaksana rasanya jika hanya mengandalkan pengalaman masa lalu dalam mendidik anak-anak jaman sekarang. Kita hidup di era globalisasi dan mengikuti pola hidup modern, tapi dalam mendidik anak masih menggunakan pola didik jaman dahulu. Mirip orang berjalan apakah jadinya jika saat berjalan selalu menoleh ke belakang tanpa melihat ke depan? Anda pasti tahu hasilnya.
Dan sayangnya sekarang bukan lagi saatnya berjalan tapi kita harus berlari, berlari mengejar ketertinggalan agar tak menjadi bangsa yang terus terpuruk. Sudah saatnya anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik agar mereka bisa berhasil di dunia dan akhirat.

Baca Selengkapnya ....

Susahnya Berbuat Baik

Posted by Nasyithun Izzah Minggu, 29 Juli 2012 0 komentar

Pernah gak sih kita merasa susah banget jadi orang baik? Adaa aja yang bisa buat kita patah semangat dan ingin menyerah. Usaha yang berliku dan menguras tenaga, salah tanggap dari orang lain, sampai tuduhan kalau cuma ingin cari muka (padahal muka gak pernah ilang ngapain dicari yah?).
intisari-online.com
Jalan kebaikan emang susah, walau jalan kebaikan adalah jalan yang lurus bukan berarti gak ada halangan sama sekali. Lurus sih lurus tapi terjal, bo! Kalau gak punya iman atau semangat segede gunung dijamin bakal tumbang ditengah jalan.
Begitulah berbuat baik tak selamanya mudah, meski yang dilakukan akan membuat orang lain senang. Tapi selalu saja ada orang sirik dan acuh tak acuh yang akan berusaha menghalangi. Kenapa orang acuh tak acuh juga menghalangi kebaikan? Kalau orang sirik kan jelas, dia akan menghalangi dengan segala cara supaya usaha kita gagal, atau paling nggak melontarkan ucapan pedas dan sinis yang membuat down.
 Nah, kalau yang acuh tak acuh dia tidak punya semangat dan memandang yang kita lakukan sia-sia. Kalau kita sering gaul sama orang-orang model begini semangat kita yang tadinya menyala-nyala lama-lama akan redup mirip lampu teplok kehabisan minyak. Tapi giliran kita berhasil dia bakal bilang itu hanya kebetulan. Padahal dia juga ikut merasakan dampak ‘kesuksesan’ kita . Aduh repot juga, yah?
Berbuat baik banyak macamnya, misalnya kita mengingatkan orang-orang agar jangan buang sampah sembarangan, apalagi di tempat umum. Uih, kelihatannya mulia banget, kan? Apalagi di tempat-tempat rekreasi yang akibat ‘pengaruh buruk’ sampah bisa membuat pemandangan jadi rusak.
Tapi kira-kira apa reaksi orang kalau diingatkan begitu? Senang, marah, atau cuek? Kebanyakan sih marah, atau paling nggak sebel, dan menganggap bahwa kita orang yang sok tahu, sok ngatur, cerewet, atau suka ikut campur urusan orang lain. Padahal kalau ditanya mereka suka tempat bersih  atau yang kotor. Yakin deh mereka suka tempat bersih. Tapi saat diingatkan untuk menjaga kebersihan pada sewot aja tuh orang-orang.
Ini nih yang bikin repot. Pengen bersih tapi gak mau ikut bersih-bersih. Mirip orang yang berharap memetik jeruk tapi yang ditanam jagung. Sampai kiamat pun gak akan bisa, kalee.
 Contoh lain kita berusaha mengingatkan para remaja yang hobi pacaran (ternyata bukan cuma mancing, jalan-jalan, atau baca aja yang dijadikan hobi). Mungkin bagi sebagian orang, mudah-mudah ini hanya sebagian kecil aja, menganggap pacaran adalah hal yang lumrah dan wajar. Remaja pacaran bukan hal aneh, malah kalau nggak pacaran dikirain nggak laku (emang dagangan, nggak laku?).
Setiap hari hampir di surat-surat kabar dan di televisi banyak dijumpai kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, atau pembuangan bayi yang baru lahir. Itu semua dari mana? Dimana akar permasalahannya? Ayo buka mata, itu semua berawal dari budaya pacaran!
Karena pacaran orang menganggap biasa deh pegang-pegang, cium ini-itu, raba sini-situ. Akhirnya bagi laki-laki (kebanyakan) yang nafsu lagi tinggi dan nggak bisa nahan lagi terjadilah hubungan di luar nikah. Akibatnya? Si cewek hamil, digugurin gagal, akhirnya pilihan terakhir dibuang pas baru lahir. Ya, ampun sadis banget! Film saw aja sampai kalah sadis. Cuma ayam gila yang ninggalin anak-anaknya. Berarti kalau manusia bisa disebut gila juga nggak, ya?
Mungkin ada yang bilang “saya dulu pacaran, nggak apa-apa kok. Nggak hamil,” atau “Anak saya pacaran, tapi dia masih bisa menjaga diri, kok” atau “lha kalau nggak pacaran gimana bisa dapat suami (atau istri)?”
Saat kita mengingatkan bahaya-bahaya dan dampak buruk pacaran, apa yang kita dapat? Ucapan terima kasih dengan wajah berbinar-binar atau wajah sebal yang menyimpan marah? Apa sih orang ini? ikut campur urusanku saja, bapak bukan, ibu bukan, nenek bukan, pak RT juga bukan. Kira-kira begitulah reaksi para remaja yang sedang bergejolak darahnya.
Seandainya mereka tahu bahwa selain pacaran masih banyak hal yang bisa dilakukan. Usia remaja adalah usia genting untuk menyusun cita-cita dimasa depan. Menempa kemampuan diri agar berhasil saat usia dewasa. Apa jadinya jika energi yang begitu besar dan bisa digunakan untuk mempelajari banyak hal, habis untuk bermelo-melo pacaran?
Ah, seandainya para remaja tahu, kalau orang-orang berhasil dan sukses menghabiskan masa remajanya dengan belajar dan berhati keras menghadapi berbagai kesulitan. Tidak ada orang sukses tiba-tiba berhasil. Ada proses panjang yang dilalui. Mereka rela mengisi masa remaja dengan mimpi-mimpi dan perencanaan masa depan. Mereka tidak menghabiskan waktu hanya memikirkan bagaimana menggaet si anu, malam minggu ini pergi kemana, atau bertanya-tanya kenapa si anu menghiantinya dan berpaling pada orang lain.
Para orang sukses tidak terjebak pada budaya remaja yang cenderung lebay dan mendayu-dayu. Seolah dunia ini hanya dipenuhi bayangan si anu dan hampanya hati bila tak bisa bersama yang disukai.
Sudahlah bakalan panjang kalau ngomongin tentang pacaran, yang jelas meski perjalanan berbuat kebaikan tidak mudah kita tak boleh putus asa. Semakin susah, berarti semakin menantang, dan Insya Allah dapat pahala besar.
Meski tidak banyak, di belahan dunia manapun selalu ada orang yang tergerak untuk menanam kebaikan. Ini adalah orang hebat yang dengan tangannya mampu membuat tanah tandus bisa ditanami. Butuh kesabaran dan keuletan tingkat tinggi. Tidak pernah menyerah pada halangan, tapi justru semakin bersemangat.
Percaya deh, walaupun susah tapi lama kelamaan hasilnya akan terlihat dan saat itu barulah kita menyadari bahwa yang kita lakukan tidak sia-sia. Penting untuk menanamkan pada diri sendiri agar tidak berharap perubahan bisa terjadi dengan instan, itu semua perlu waktu, coy. Banyak orang yang akhirnya menyerah karena tidak sabar menunggu hasil itu muncul.
Ayo tetap semangat, menjadi orang baik memang susah, tapi menjadi orang susah justru lebih tidak baik lagi, makanya pantang menyerah! Dan mulai sekarang mari menebalkan muka dan telinga, agar tidak mudah jatuh oleh pandangan dan omongan orang.

Baca Selengkapnya ....

BANGGA MENJADI IBU RUMAH TANGGA

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 24 Juli 2012 0 komentar

Berapa orang ibu rumah tangga yang bangga saat ditanya apa pekerjaannya? Sedikit sekali. Kebanyakan mereka merasa malu dan rendah diri.
Dewasa ini terjadi pergeseran nilai di masyarakat tentang ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga seringkali tidak dianggap sebagai profesi meski sebenarnya menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier adalah pilihan. Kebanyakan dari kita ‘silau’ saat melihat seorang wanita yang mempunyai karier bagus atau memegang jabatan penting. Padahal menjadi ibu rumah tangga merupakan  pilihan yang mulia.
Kehidupan sosial di zaman globalisasi telah menstigmakan bahwa ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang produktif. Tidak menghasilkan sama-sekali dan bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan.
Sebenarnya pekerjaan ibu rumah tangga sangat berat dan tidak mengenal waktu. Sebelum subuh ia harus bangun menyiapkan sarapan. Paginya memandikan atau menyuapi anak-anaknya, ditambah harus menyiapkan keperluan suami sebelum berangkat kerja. Setelah semua berangkat sekolah atau kerja, ibu memebersihkan rumah atau mencuci. Siangnya anak-anak mulai pulang sekolah dan minta ini-itu. Sorenya suami pulang minta dibuatkan teh manis atau dihangatkan air mandi. Malamnya sebelum tidur masih membacakan dongeng atau meninabobokan anak.
Ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anak. Secara nonmateri ibu rumah tangga sangat produktif dalam mendidik putra-putrinya. Terbentuknya generasi unggulan berawal dari cara mendidik yang benar dari ibunya.
Oleh karena itu tidak perlu merasa sia-sia bila ada seorang wanita yang tinggi pendidikannya kemudian ‘hanya’ berkutat pada persoalan rumah tangga. Ibu yang cerdas dan pintar akan mendidik anaknya lebih baik daripada ibu yang tidak punya modal pengetahuan. Persoalan rumah tangga pun bisa terselesaikan dengan baik.
Meski terlihat sepele persoalan rumah tangga yang tidak segera ditangani bisa membuat seluruh  keluarga menderita. Ada anak yang mengeluh masakan ibunya tidak enak sehingga ia malas makan dan badannya jadi kurus serta gampang sekali sakit. Ia pun malu mengajak teman main ke rumah karena rumah selalu berantakan. Sementara suami mengeluh pakaiannya kusut dan masih kotor di beberapa bagian padahal sudah dicuci.
Bayangkan bila hal itu terjadi setiap hari, ketenangan dalam rumah tidak akan terwujud. Keluarga tidak betah di rumah dan ingin cepat-cepat pergi saja. Beruntung seandainya masih bisa menggaji pembantu rumah tangga, tapi untuk yang ekonominya pas-pasan tentu akan sulit. Meski memiliki pembantu tidak berarti ibu bisa lepas tanggung jawab sepenuhnya.
Bila mau mencermati banyak tokoh besar atau orang penting dunia ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Thomas Alfa Edisson yang dicap bodoh dan dikeluarkan  dari sekolah akhirnya berhasil menemukan bola lampu pijar. Semua itu karena didikan ibunya di rumah.
Ibu rumah tangga mempunyai banyak waktu sehingga bisa mengasuh dan mendidik anak-anaknya lebih optimal. Suami juga merasa tenang karena selalu mendapati istrinya di rumah demi berbagi kelelahan sepulang kerja.
Kurangnya apresiasi peran ibu rumah tangga membuat profesi ini seakan tidak ada artinya. Padahal di setiap keberhasilan laki-laki pasti ada wanita di belakang mereka. Entah ibu atau istrinya. Berapa banyak para petinggi, pengusaha sukses, tokoh masyarakat yang istrinya di rumah? Banyak sekali.
Menjadi ibu rumah tangga berarti memilih jalur pengorbanan yang sepi dari pujian. Naluri manusia yang ingin diakui eksistensinya membuat banyak wanita ingin memiliki profesi lain di luar rumah. Agar bisa lebih ‘dianggap’ dan dihormati. Padahal ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia tidak kalah dengan dokter, pengacara, atau bupati.
Karena itu para ibu rumah tangga mari tegakkan badan dan angkat kepala lalu katakan dengan bangga: saya seorang ibu rumah tangga!

Baca Selengkapnya ....

JANDA DALAM PERSEPSI

Posted by Nasyithun Izzah Minggu, 15 Juli 2012 0 komentar

Suatu pagi saat berbelanja di pasar bersama suami tak sengaja terdengar suara seorang ibu, “Ati-ati lho guyon karo rondo!” Artinya “ Hati-hati lho bercanda dengan janda.”

balihand.com
Sepertinya itu adalah perkataan yang dilontarkan ibu-ibu pedagang sayur kepada temannya yang sama-sama sedang berjualan. Biasanya kalau pembeli tidak akan berkata sekeras itu. Malu. Tapi namanya juga di pasar, sudah menjadi hal yang biasa jika mengobrol segamblang itu, apalagi sesama pedagang.
Sekilas saya melirik suami yang hanya mengangkat alis dan tersenyum, lalu bergegas pergi membawa barang belanjaan, sedangkan saya mengikuti sambil menggendong si kecil.
Janda adalah seorang perempuan yang sudah menikah tapi tidak lagi mempunyai suami, mungkin karena kematian, bercerai, atau ditinggal pergi begitu saja. Menurut saya tidak ada satu pun wanita, yang masih baik akal dan hatinya tentu, yang bercita-cita jadi janda. Saat menikah pasti tidak ada dalam angan-angan bahwa saya akan menjadi janda. Walaupun pada kenyataannya kalau dia tidak meninggal terlebih dulu, pastilah si suami yang akan terlebih dahulu menghadap Illahi.
 Janda bukan hal yang aneh dalan masyarakat. Sejak jaman baheula janda sudah ada. Tapi entah kenapa janda identik dengan hal-hal yang tidak pantas. Apalagi kalau masih muda sudah menjanda. Kata orang-orang mah janda kembang euy...
Ketika seorang wanita menjadi janda merupakan saat –saat yang sulit untuknya. Apalagi kalau dia sangat mencintai si suami. Kesulitan makin terasa jika suami adalah tulang punggung keluarga yang meninggalkan banyak anak dan masih kecil-kecll. Kita tidak berbicara tentang wanita yang menikah dengan seorang laki-laki kaya dan sudah tua. Saat suami meninggal dia akan hidup senang bergelimang uang warisan yang banyak dikisahkan di sinetron-sinetron.
Begitu besar beban yang harus ditanggung  karena kepergian suami. Meski dalam beberapa kasus perceraian istri yang mengajukan gugatan untuk berpisah. Beban mental dan moral harus dipikul selain juga beban materi untuk menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya. Tidak ada wanita yang benar-benar siap saat menghadapi perceraian.
 Belum lagi ditambah anggapan negatif dari masyarakat bahwa janda adalah perusak rumah tangga orang. Bahkan ketika si janda akhirnya menikahi seorang laki-laki bujangan, maka rasa-rasanya mulut gatal kalau tidak ikut berkomentar.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan status janda, yang perlu dibenahi adalah persepsi dan cara pandang masyarakat kita. Tidak semua janda adalah perebut suami orang dan tidak semua suami mau direbut oleh janda (lho?).
Daripada mendeskritkan status janda wanita lain lebih baik berusaha agar suami betah di rumah dan terhindar dari godaan di luar. Jadilah istri shalihah yang menyenangkan bila dipandang, betutur kata lemah lembut, dan mematuhi perintah suami. Dengarkan keluh kesahnya dan tentramkan hatinya. Jangan mudah terpengaruh dengan cerita suami-suami yang suka berbuat ini-itu diluar. Sehingga jadi berpikiran buruk dan memicu pertengkaran yang tidak perlu.
Jadikan rumah adalah tempat istirahat yang tenang dan hangat bagi suami. Semoga suami-suami kita tidak tergoda diluar karena kita sudah lebih dulu ‘menggodanya’ di rumah.

Baca Selengkapnya ....

Hikayat Radio Rusak

Posted by Nasyithun Izzah Kamis, 12 Juli 2012 0 komentar
Apa yang anda lakukan jika tiba-tiba radio Anda rusak? Apakah Anda akan memukul-mukul radio tersebut sembari berharap bisa hidup kembali? Saya yakin kebanyakan kita akan melakukan hal seperti itu. Permasalahannya jika kita melakukan itu setiap kali radio rusak apakah radio bertambah baik atau semakin rusak?
Jika radio sudah mati barulah dibawa ke tukang reparasi untuk dicari penyakitnya. Kenapa kita memukul-mukul radio kita saat radio itu rusak ketimbang mencari tahu dimana letak kerusakannya? Ada beberapa alasan, diantaranya:
1.       Tidak tahu penyebab kerusakannya
2.       Ingin cara mudah dan cepat
3.       Terbawa emosi dan rasa kesal karena terjadi berulang-ulang.
4.       Tidak ingn repot mencari penyebab masalah dan menemukan solusinya
Tanpa sadar seringkali para orang tua memperlakukan anaknya mirip radio rusak. Ketika anak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan orang tua, mereka serta merta dipukul baik dengan tangan atau kata-kata kasar. Jarang ada orang tua yang mau menyempatkan diri mencari tahu kenapa anaknya melakukan hal yang dalam pandangan orang tua dikategorikan ‘nakal’ tersebut.
Setelah si anak tidak dapat diperbaiki barulah dikirim ke pusat rehabilitasi atau penampungan remaja bermasalah, pesantren, bahkan ada yang singgah di Lembaga Pemasyarakatan.  Mudah-mudahan diantara anak kita tidak ada yang mengalami demikian.
Alasan yang mendasari pun hampir sama:
1.       Kebanyakan orang tua tidak tahu kenapa anaknya melakukan hal seprti itu.
2.       Setiap orang tua ingin cara cepat dan mudah untuk mengatasi perilaku anak.
3.       Sebagian besar orang tua didorong perasaan emosi dan marah.
4.       Sedikit orang tua yang mau bersusah payah mencari solusi.
Seperti radio rusak, awalnya akan memberikan reaksi ‘seolah-olah sembuh’. Tetapi lama kelamaan akan muncul tekanan kejiwaan pada diri anak yang berujung pada perlawanan anak pada orang tua. Jika orang tua mengeluh anaknya saat remaja susah diatur dan suka melawan, coba flash back kebelakang bagaimana orang tua selama ini meperlakukan anak mereka.
Alangkah sedihnya hati para anak jika orang tua terus-menerus memperlakukan mereka seperti radio rusak. Bagaimana jadinya masa depan mereka kelak? Anak yang mengalami tekanan kejiwaan apakah bisa berhasil dalam hidupnya?
Bukti-bukti sudah banyak, bukan hanya di kalangan remaja,  anak-anak pun sudah melakukan tindak kekerasan. Bahkan, beberapa waktu lalu kita melihat budaya kekerasan sudah masuk ke dalam rapat anggota dewan yang terhormat.
Anak adalah buah cinta kasih kedua orang tuanya, laksana permata yang begitu berharga. Saking berharganya sekaya apapun kita tak akan pernah bisa membuat seorang anak. Sungguh ironi jika kita memperlakukan sesuatu yang berharga ini seperti barang rusak yang sewaktu-waktu bisa dibuang ke tong sampah.
Seringkali orang tua menganggap sepele tindak kekerasan yang dilakukan pada anaknya, padahal hal itu akan terekam di otaknya dan akan membetuk perilakunya  saat dewasa.
Mari kita belajar mengelola anak secara tepat, memanajemen anak agar kelak anak tidak menjadi ‘radio rusak’ yang banyak ditemui di rumah-rumah negeri ini. Agar orang tua tidak terkaget-kaget bila suatu hari anaknya tumbuh menjadi pembangkang dan gemar bertindak kekerasan.
Disarikan dari: Indonesian Strong From Home, by Ayah Edy

Baca Selengkapnya ....
TEMPLATE CREDIT:
Tempat Belajar SEO Gratis Klik Di Sini - Situs Belanja Online Klik Di Sini - Original design by Bamz | Copyright of Ummi Raihan.