Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

Teruntuk Sahabatku, Maafkanlah!

Posted by Nasyithun Izzah Kamis, 21 Februari 2013 0 komentar

Dulu saat masih SD saya punya seorang sahabat. Namanya Inda, seorang gadis manis dan baik hati yang berasal dari keluarga kaya. Meski hanya berteman selama setahun, saya merasa mempunyai ikatan yang istimewa, setidaknya menurut saya pribadi.


Awal perkenalan saat saya baru saja pindah ke sebuah Sekolah Dasar di daerah Cianjur. Karena krisis moneter yang menyerang indonesia tahun 1998 kedua orang tua terpaksa pindah dari Garut ke Cianjur untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Waktu itu saya kelas 5 dan adik kelas 1.
Memasuki awal caturwulan 3 saya menjadi murid baru dengan segala keanehan dan kecanggungannya. Sungguh aneh rasanya saat berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. Semua mata mengarah ke depan, dengan penuh penasaran. Terbata-bata mengatakan nama dan pindahan dari mana. Saat itu Inda tidak masuk sekolah, sakit katanya.
Saya duduk di bangku depan dekat dengan meja guru, tak terlalu masalah karena di sekolah lama selalu duduk di deretan depan. Ketika banyak anak menghindari duduk di depan, apalagi dekat meja guru, saya meras fine-fine saja.
Beberapa hari kemudian Inda masuk sekolah. Ternyata kursi yang saya duduki bersebelahan dengan Inda. Sebelumnya saya tidak begitu tahu siapa di sebelah saya karena waktu pertama kali masuk kelas sedang terjadi penggabungan kelas. Kelas 5 A dan 5B  digabung jadi satu ruangan, sehingga para murid duduk sekenanya. Lalu setelah pemisahan kelas barulah saya sadar kalau teman sebangku Inda pindah sekolah, dan sayalah penggantinya.
Bermodal hubungan yang cukup intens  akibat sebangku kami mulai dekat. Kami sering main bersama, pulang sekolah beli jajan dulu, atau main ke rumahnya yang besar. Beberapa kali Inda main ke kontrakan orang tua saya yang jauh dari kesan mewah. Dengan deretan gerobak bakso di halaman rumah. Ya, orang tua saya adalah pedagang bakso.
“Kenapa, sih, Rika kayaknya tidak suka kalau kita main ke rumah?” tanya Inda suatu kali. Kebetulan hari itu Inda dan seorang teman lagi ingin main ke rumah.
Terus terang saya merasa agak malu dengan keadaan keluarga. Asal usulnya yang dari keluarga berada telah menerebitkan rasa minder. Mungkin Inda akhirnya merasa kenapa tiap kali berniat main ke rumah selalu saya mencari alasan. Meski beberapa kali saya kalah juga dan berat hati mengajaknya ke rumah.
Kalau dipikir-pikir seharusnya saya tidak perlu merasa demikian karena Inda menganggap bahwa perbedaan kami bukanlah masalah. Tapi entah kenapa sejak kecil saya merasa rendah diri ketika berhadapan dengan orang yang status ekonominya berada di atas. Tanpa saya sadari akhirnya jadi menarik diri dari pergaulan.
Lalu setelah Ujian akhir sekolah, dulu masih disebut EBTANAS, saya kembali harus pindah. Orang tua memutuskan kembali ke kampung halaman ayah, sebab dirasa semakin susah mencari rupiah di kota. Sepertinya ayah dan ibu sengaja menunggu EBTANAS sebelum akhirnya pulang kampung.
Tanpa banyak kata akhirnya saya pindah meninggalkan kota Cianjur yang baru saja satu tahun ditinggali. Bahkan saya tidak mengucapkan salam perpisahan pada Inda dan teman-teman lain. Pun tak bisa menerima piala sebagai peraih NEM tertinggi di sekolah, karena acara perpisahan dilakukan setelah kepulangan kami sekeluarga.
Tentu perasaan kehilangan itu ada, tapi pikiran anak-anak yang masih sederhana belum bisa mengartikan sepenuhnya apa arti sebuah perpisahan. Semua dianggap berjalan sebagaimana mestinya tanpa perlu bertanya apalagi protes.
Saya pun mulai disibukkan dengan pendaftaran sebagai murid SMP dan mulai merasakan semangat baru. Membayangkan memakai seragam biru-putih terasa menyenangkan. Dunia anak-anak akan segera ditinggalkan dan beralih ke remaja, meski sebenarnya masih terlalu dini untuk menyebut ‘remaja’. Tapi setidaknya itulah gambaran saya waktu itu.
Perlahan Inda mulai menjadi kenangan, yang tertutup oleh pengalaman-pengalaman baru . Hingga mendekati akhir tahun saya tiba-tiba teringat ‘nasib’ kawan saya itu. Bagaimana kabarnya? Sekarang sekolah dimana? Di kelas apa? Siapa saja yang satu SMP dengannya?
Akhirnya saya menulis surat sekitar 2 lembar dengan tulisan yang awut-awutan. Tapi sialnya saya tidak tahu alamatnya. Lalu saya mengorek-ngorek ingatan, mencoba mengingat saat saya masih sering main ke rumahnya. Hmm.. rumahnya masuk gang dan ada nomor 88 nya di rumah. Ah, mungkin itu! Tanpa pikir panjang saya menuliskannya. Setelah menempel perangko kemudian saya poskan di kantor pos sepulang sekolah. Saya berharap Inda segera membalasnya.
Saya menunggu dan mereke-reka surat itu sudah sampai mana, apakah Inda sudah menulis balasannya, bagaimana perasaannya menerima surat itu? Saya terus menunggu, hingga akhirnya saya lupa berapa lama menunggu dan surat itu seperti hilang di telan bumi. Balasan itu tidak datang, atau bahkan surat itu memang tak pernah Inda terima? Atau jangan-jangan ia marah dan membakar surat itu?
Seperti roda, kehidupan terus berjalan sayapun memutuskan untuk tak lagi memikirkan Inda dan surat itu. Mungkin alamatnya yang salah, percuma menulis lagi kalau alamatnya tak tahu pasti. Kadang saya merasa bersalah, kenapa dulu tak berpamitan dan menanyakan alamatnya.
Bertahun-tahun orang-orang melalui garis takdir yang telah ditetapkan untuknya. Pun kehidupan saya tak berhenti karena Allah memang belum memutuskan untuk menghentikan nafas ini. Perkembangan teknologi dengan segala dampaknya telah membawa perubahan yang sangat besar terutama dalam hal komunikasi yang berkembang begitu cepat.
Sejak penggunaan telepon seluler meluas semua seolah berkembang tanpa batas, dunia menjadi luas dan bisa terkoneksi dengan orang-orang yang sangat jauh, cukup menekan tombol-tombol yang ada di tangan. Lalu ponsel berkembang bukan hanya untuk telepon dan sms, berbagai perangkat telah ditambahkan, kamera, mp3 player, modem, radio, chatting dan menjelajah internet semudah dari komputer.
Begitu juga kehadiran Facebook yang merubah wajah dunia sekarang. Membuat orang begitu mudahnya terhubung dan menjalin komunikasi, dengan teman kuliah, SMA, SMP, SD, bahkan teman imut saat masih di TK dulu. Semua orang punya kesempatan untuk bernostalgia dan mengenang saat berkumpul dengan kawan-kawan. Cukup dengan punya akun facebook maka teman-teman pun bisa dilacak keberadaannya. Bukankah menyengangkan mengetahui kabar teman kita yang dulu masih lugu-lugu itu? Kuliah dimana? Sudah nikah atau belum? Si A nikah sama siapa sih? Si anu sudah punya pasangan belum ya? Ow, Si B punya bayi, ih lucunya! Lho kok si C jadi kayak gini, padahal dulu waktu sekolah pendiem.
Saya pun memanfaatkan facebook untuk mencari teman saya saat masih SD, termasuk Inda. Begitu gembiranya ketika melihat namanya terpampang di salah satu akun facebook, nama lengkapnya membuat saya yakin kalau tidak salah orang. Dengan semangat saya pun menulis pesan dan mengirimkan permintaan pertemanan. Sepertinya dia sekarang sudah lulus kuliah.
Sama seperti dulu saya menunggu dan menunggu balasan pesan saya, berharap dia juga merasa gembira bisa bertemu saya lagi meski hanya lewat dunia maya. Namun kejadian sama terulang lagi dan balasan itu tak pernah saya terima, hanya permintaan pertemanan saja yang di-confirm-nya. Apa ada yang salah? Saya yakin kali ini saya tidak salah alamat, dan saya benar-benar menulis pesan pada akunnya.
Bepikir dan berpikir akhirnya saya merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi antara saya dan Inda. Mungkin sebuah kesalahpahaman sehingga ia tak mau membalas pesan yang saya kirimkan. Lalu saya membongkar lagi ingatan dan kenangan-kenangan, menerka bagian mana yang sudah melukai hatinya atau persahabatan kami. Namun, saya merasa tidak pernah menyakiti hatinya. Tentu saja itu adalah penilaian secara subyektif yang seringkali terjadi sehingga orang merasa tidak bersalah padahal kenyataannya tidak.
Mungkin ada suatu keadaan yang membuatnya marah sedangkan saya tidak menyadarinya, sehingga ia memutuskan menghapus saya dari ingatannya dan daftar temannya.
Saya masih beberapa kali mengunjungi akunnya dan akun adiknya, saya lumayan kenal adiknya meski ia tak terlalu ingat saya karena waktu itu ia masih kelas 2 SD. Tapi adik saya dan adik Inda berteman.  Saya pun menulis pesan pada adiknya agar menyampaikan pada Inda agar membalas pesan saya, adiknya menyanggupi dan berjanji akan bilang pada kakaknya. Saya juga memberitahu adik saya tentang akun adiknya Inda, dan sepertinya mereka berteman.
Saat sedang iseng buka facebook saya berkunjung ke ‘rumah’ Inda. Melihat kabar dan berharap dia baik-baik saja, hingga saya mendapat kabar sekitar 2 tahun lalu adiknya meninggal karena kanker. Saya ikut bersedih tapi tak menulis apa-apa karena takut akan melukai hatinya, bukankah dalam anggapan saya dia marah? Orang sedih tidak baik bertemu dengan orang yang di bencinya.
Saya hanya bercerita pada adik saya, yang tanpa saya ketahui beberapa hari kemudian mengaku chatting dengan Inda dan mengucapkan turut berduka cita. Sampai disana saya menjadi yakin bahwa memang ada sesuatu yang telah saya lakukan sehingga membuat Inda enggan mejawab pesan saya.
Entah yang mana tapi semakin saya mengingatnya pikiran-pikiran buruk semakin membuat saya bersalah. Sehingga seolah-olah semua yang terjadi saat SD dulu telah menyakitinya. Saya pun memutuskan berhenti menduga-duga dan membiarkan semua berjalan hingga mancapai akhir. Meski saya berharap suatu hari bisa bertemu lagi dengan Inda dalam keadaan bahagia.

Baca Selengkapnya ....

Trend Masa Kini: Les CALISTUNG

Posted by Nasyithun Izzah Senin, 12 November 2012 0 komentar

Suatu hari saat sedang berhenti di lampu merah, mata saya tak sengaja membaca sebuah poster tentang les calistung (baca tulis hitung). Kawasan perempatan agaknya menjadi primadona dalam memasang berbagai iklan, tidak hanya yang bertiang tapi berbagai spanduk bertebaran di pinggir perempatan.
Di poster  yang bergambar anak sedang belajar itu tertulis -kurang lebih- begini: “Umur 2 tahun waktunya les calistung, Ma. Biar nanti bisa masuk SD favorit.” Di pojok kanan ada tambahan “bonus tas”. Lalu dibagian paling bawah tertera alamat tempat lesnya.
Aneh sekali rasanya, sejak kapan anak usia 2 tahun sudah “dipaksa” ikut les calistung? Saat balita belum bisa memanggil mama-papa dengan benar sudah disodori les membaca, menulis, dan berhitung. Entah metode apa yang digunakan, tapi mengikutkan les bagi anak usia 2 tahun sepertinya terlalu dipaksakan.
Playgroup saja membatasi usia anak 2,5 tahun, itupun “belajar”nya hanya tiga kali seminggu. Suasana belajar dibuat nyaman diisi menyanyi, berdoa, dan bermain. Tidak ada pelajaran menulis, membaca, apalagi berhitung. Anak-anak bebas berlari-lari sesuka hati, bermain dengan mainan yang disukai.
Fenomena apakah ini? apakah hanya sekedar taktik tempat les yang ingin mengeruk keuntungan? Atau memang orangtua jaman sekarang “silau” dengan predikat sekolah favorit, sehingga anak yang belum lengkap akalnya dipaksa mengikuti berbagai les-les yang belum tentu sesuai dengan bakatnya.
Ada anggapan bahwa anak yang bisa membaca, menulis di usia dini dianggap cerdas sehingga para orangtua berlomba-lomba mengikutkan les bagi anak-anak balita mereka. Selain karena ingin anaknya pintar, terselip ambisi orangtua untuk menjadikan anaknya pantas menyandang predikat cerdas. Siapa sih yang tidak bangga punya anak pintar?
Namun agaknya ada yang terlupa, bahwa anak-anak yang dianggap pintar dengan nilai-nilai bagus di sekolahnya saat dewasa nanti tidak lebih berhasil dari anak yang biasa-biasa saja. Padahal kehidupan nyata yang akan dihadapi saat anak dewasa lebih memerlukan kreativitas dan kemampuan menyelesaikan persoalan, bukan dengan deretan angka yang nyaris sempurna. Seseorang tidak akan bisa sukses hanya mengandalkan ijazah dari universitas favorit dengan IPK 4,0.
Memaksa anak usia dini untuk baca, tulis, hitung justru akan membuat kehidupannya menjadi lebih berat. Anak yang otaknya sudah dipenuhi cara berpikir linier akan mengabaikan kreativitas, kemampuan mengelola emosi, dan jiwa seninya pun layu sebelum berkembang. Akhirnya ia tumbuh menjadi manusia robot yang segala sesuatu seperti sudah terprogram, tidak ada tempat untuk mengembangkan ide, inovasi, dan proses kreatif. Dan ini hanya melahirkan generasi pekerja bukan pemberi kerja.
Bahkan menurut penelitian ada kecenderungan anak menjadi malas membaca jika sejak kecil sudah diajari membaca. Agar anak suka membaca bukanlah dengan mengajarinya membaca sejak kecil tapi rasa ingin tahunya yang harus ditumbuhkan. Ketika jiwa ingin tahu anak tinggi maka dia akan mencari informasi dan salah satunya lewat buku, sehingga secara tidak langsung anak terdorong untuk membaca. Berbeda dengan anak yang dipaksa-paksa membaca saat usianya belum siap maka dia akan cepat bosan dan menganggap membaca sangat membosankan.
Lalu kapan usia yang tepat anak belajar membaca? Menurut buku yang saya baca usia yang bagus adalah 7 tahun atau kelas 1 SD. Bahkan, di Amerika anak-anak sekolah dasar baru diajari membaca saat kelas 3. Kelas 1 dan 2 diisi dengan pengetahuan dasar tentang kehidupan dan bermasyarakat, pendek kata kelas-kelas awal adalah pembentukan mental dan karakter.
Tapi yang terjadi sekarang sungguh berbeda, anak usia TK sudah diajari menulis, membaca, dan berhitung. Ujian pun sudah seperti sekolah yang lebih tinggi, yaitu menggunakan kertas lembar jawaban. Sungguh kasian melihat anak yang sedang senang-senangnya bermain harus duduk menekuri kertas, mengernyit memikirkan jawaban, sambil berusaha keras menulis huruf demi huruf.
Sekolah dasarpun  berlaku “kejam” dengan menetapkan peraturan bahwa siswa baru harus bisa membaca dan menulis, dan diberlakukakn tes tertulis. Itulah sebabnya para orangtua berduyun-duyun me-les-kan anaknya agar bisa diterima di sekolah yang dituju. Padahal dalam kurikulum untuk PAUD/TK tidak ada pelajaran membaca dan menulis – karena saya pernah sekolah untuk menjadi guru taman kanak-kanak.
Akhirnya anak-anak yang jadi korban, menjadi objek bagi pemuasan ego orangtua. Bagi anak usia dini tidak ada artinya sekolah mereka favorit atau tidak, tidak terlalu dipikir apakah nanti bisa masuk SD favorit atau tidak. Di pikiran mereka yang terpenting adalah bagaimana bisa bersekolah di tempat yang nyaman dan membuat mereka bahagia.
Dunia tidak akan kiamat karena anak kita tidak bisa masuk sekolah favorit. Tidak ada jaminan bahwa sekolah favorit bisa membuat anak menjadi orang sukses kelak, juga tidak ada aturan bahwa anak yang sekolah di sekolah biasa-biasa saja akan gagal dalam hidupnya. Kebahagiaan dan keberhasilan seseorang lebih ditentukan bagaimana dia bisa memecah persoalan kehidupan yang tidak diajarkan di sekolah-sekolah.
Berapa banyak dari kita yang merasa bahwa pelajaran matematika tentang sincostan, integral, trigonometri berguna dalam kehidupan sehari-hari? Hanya orang-orang tertentu saja yang mengambil spesialisasi di universitas yang menggunakannya itupun dengan catatan mereka bekerja di bidang yang sama dengan jurusan waktu kuliah. Selebihnya matematika digunakan untuk menghitung gaji, belanja, tabungan, dan menghitung kembalian. Tidak jauh-jauh dari uang.
Jadi sebagai orang tua janganlah gampang terpengaruh dengan keadaan dan paradigma yang tengah berkembang. Seringkali terjadi ketimpangan apa yang dibutuhkan anak dengan yang diberikan orangtuanya. Sehingga memunculkan tekanan yang berdampak buruk pada perkemabangan jiwaa anak. Apa yang menurut orang tua baik dan membuat anak bahagia belum tentu sama dengan yang diinginkan anaknya. Kuncinya adalah komunikasi dan tempatkan diri sejajar dengan anak, bukan seperti bos yang kata-katanya harus selalu didengar. Anak-anak juga ingin dihargai dan didengar pendapatnya.
Semoga kita semua bisa menjadi orangtua yang diidolakan anak-anaknya. Salam generasi emas!

Baca Selengkapnya ....
TEMPLATE CREDIT:
Tempat Belajar SEO Gratis Klik Di Sini - Situs Belanja Online Klik Di Sini - Original design by Bamz | Copyright of Ummi Raihan.