Tampilkan postingan dengan label orang tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang tua. Tampilkan semua postingan

Raihan Story Part1

Posted by Nasyithun Izzah Kamis, 17 Januari 2013 0 komentar

Apakah anak Anda begitu berharga? Apakah dia seorang anak yang istimewa?
Orang tua mana sih, yang tidak sayang anak? Yah, kecuali mengalami gangguan jiwa saya yakin setiap orang tua menyayangi anaknya dan menganggap mereka sangat berharga. Bahkan kasus ibu yang mengajak anaknya bunuh diri bisa dikatagorikan menyayangi anaknya meski dalam cara yang salah. Mungkin si Ibu merasa kasihan kalau anaknya menderita di dunia jadi lebih baik dibawa mati saja. Padahal sebagai orang beriman kita tentu tahu bahwa bunuh diri itu besar dosanya apalagi sampai mengajak orang lain.
Kalau sayang sudah pasti, dong! Tapi merasa anak kita istimewa? Hmm, sepertinya tidak banyak orang tua yang merasakan ini. Apa istimewanya coba? Tiap hari Cuma main game, nilai di rapot gak naik-naik, malas beres-beres, keras kepala, suka membantah, dan lain-lain, dan lain-lain.
Tapi sesungguhnya tiap anak pastilah punya keistimewaan, jangan hanya melihat dari nilai akademis saja lho ya. Anak pintar membuat sambal yang enak juga istimewa, anak bisa menjahit bajunya yang robek istimewa, anak bisa membuat mainannya sendiri juga istimewa (bisa saja ia berbakat sebagai pencipta suatu barang yang berguna di masa depan).
Kali ini saya akan bercerita tentang Raihan, anak pertama saya. Tidak ada maksud lain, selain berbagi pengalaman, siapa tahu ada beberapa ibu yang mengalami hal sama.
Saya hamil sebulan setelah menikah, waktu telat datang bulan saya membeli test pack dan hasilnya positif. Lalu kami memeriksa ke dokter kandungan, tapi dari hasil USG belum tampak si janin, kami di suruh datang dua minggu berikutnya. Sebulan kemudian kami datang lagi dan di layar USG nampak seorang janin dengan denyut jantungnya, luar biasa! Saya sangat bersyukur, atas nikmat ini.
Kunjungan ketiga kami melihat janin Raihan berguling kesana-kemari, hingga bu dokter berkata bahwa janin kami sangat aktif. Bulan demi bulan berlalu disertai rasa tidak sabar ingin segera bertemu Raihan di dunia. Tanggal 13 Januari 2011 Raihan lahir dengan berat 2,9 kg dan panjang  49 cm. Seminggu kemudian kami meng-aqiqahinya.
Raihan tumbuh dengan sehat, jarang sakit dan sangat lincah. Umur 6 bulan sudah mencoba berdiri sambil berpegangan, padahal dia belum bisa merangkak. Umur 10 bulan ia sudah bisa berdiri sendiri selama beberapa detik, dan usia 11 bulan Raihan mulai berjalan.
Namun tentu tidak mulus, banyak proses jatuh bangun yang dialaminya, mulai jatuh dari kasur, menabrak tembok, jatuh kebelakang, terpeleset dan lain-lain. Tapi saya tak pernah menolak untuk dijadikan tempat belajar berjalan, meski beberapa orang bilang usia Raihan belum boleh diajari berjalan. Lha anaknya sendiri yang mau, jadi sebaiknya tidak mudah percaya pada orang lain karena kita yang paling tahu keadaan anak kita.
Seperti yang dikatakan dokter Raihan tumbuh menjadi anak yang sangat aktif. Dia suka membuat barang-barang berantakan, melempar mainan, berlari kesana-kemari dan suka sekali berjalan. Kalau sudah keluar dari pagar maka ia akan terus berjalan sampai kakinya merasa capek, kira-kira sehari ia bisa menempuh jarak 2 km (tapi tentu saja harus disiasati sehingga rutenya muter, dan balik ke tempat semula). Kadang ia tidak bisa dikendalikan, dan berjalan sesuai keinginan hatinya kalau sudah begini saya hanya bisa mengikuti di belakang dan bila ia capek maka saya menelepon abinya dan minta dijemput naik motor (kalau harus pulang sambil gendong Raihan bisa pingsan saya).
Terkadang saya mengalami kelelahan yang sangat, seringkali saya harus mandi ketika abinya pulang kantor (ih, seharian bau deh). Bila Raihan tidur maka saya menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah –saya tak punya asisten—seperti mencuci, mengepel, sholat. Setelah itu buru-buru tidur sebelum kedahuluan bangunnya Raihan.
Meski sangat aktif Raihan tak bisa jauh-jauh dari saya, ia akan menangis kalau mendapati ibunya tak ada. Saat jalan-jalan ia tidak mau digendong abinya, terpaksalah saya yang menggendong kesana-kemari. Tapi ada satu sifatnya yang sepertinya bertentangan, ia tidak suka berteman. Kalau ada anak seusianya ia hanya melihat sebentar lalu pergi dan melakukan aktivitasnya sendiri. Raihan tidak suka dekat-dekat dengan anak-anak lain.
Kebanyakan anak merasa senang melihat teman sebayanya, tapi tidak dengan Raihan. Suatu hari dia sedang melihat ikan di kolam tetangga, lalu datang tiga orang balita perempuan yang umurnya hampir sama ingin melihat ikan juga. Raihan lalu memandang sekilas dan tanpa suara pergi begitu saja. Sepertinya ia punya pikiran sendiri, dan pikirannya entah sedang berloncatan kemana.
Raihan tidak suka mainan, saat ada mainan baru jarang sekali terlihat antusias. Ia baru bereaksi kalau mainan itu dimainkan abinya, setelah itu ditinggalkan tergeletak begitu saja. Saat diajak ke toko mainan ia menangis tak mau turun.
Sampai umur dua tahun dia belum bisa berbicara, hanya mengucapkan beberapa kata yang tidak jelas. Tapi satu hal yang sangat disukainya adalah laptop dan video. Ia tak pernah bosan di depan laptop meski video yang ditontonnya sama setiap hari. Saat marah dan menangis, tidak ada yang bisa menenangkan dengan cepat selain laptop. Dia bisa terpaku tanpa kedip, bahkan kata-kata yang sering ia ucapkan (yang lumayan jelas bunyinya) adalah “appa” mungkin terinspirasi dari “Oppa” (Raihan suka sekali upin ipin). Setelah itu bila ingin menunjukkan sesuatu ia berkata “tengok tu, tengok tu”.
Kami punya saudara yang punya anak seusia Raihan, namanya Azzam. Azzam adalah anak yang ceria, ia lahir tiga hari setelah Raihan. Azzam ingin sekali mengajak Raihan bermain pedang-pedangan tapi Raihan hanya memandangnya saja, lalu ia melanjutkan acara bermainnya sendiri, tak peduli siapapun. Raihan lebih suka berlari mengitari rumah, dari depan kebelakang, belakang ke depan, atau berlari berputar-putar di depan TV.
Kami membelikannya sebuah sepeda roda dua dengan dua roda tambahan. Saya sering melihat dia ingin menaiki sepeda anak tetangga yang berusia TK. jadi meski masih kebesaran untuk seusianya (sepeda yang paling kecil ternyata masih kebesaran, sudah dipendekkan tapi kaki Raihan belum sampai ke pedal) kami tetap memutuskan membelinya. Tapi apa yang terjadi? Raihan hanya sebentar melihatnya lalu kembali mencari laptop. Kadang bila sedang ingin bermain dengan sepedanya dia meminta sepedanya dibalik, jadilah rodanya diputar-putar. Akhirnya sepeda itu lebih sering dalam posisi terbalik.
Lalu Saat dipasar minggu ada sebuah persewaan mobil listrik mini, dengan harga sewa 5000 rupiah per dua putaran. Raihan menaikinya dengan wajah nothing to loose tak ada ekspersi kegembiraan atau penasaran. Bila saya melambaikan tangan ia akan tersenyum tapi setelah itu dia diam mungkin sambil merasakan sensasi naik mobil mini yang bergerak. Seringkali saya salah menduga, apa yang biasanya disukai oleh anak seusianya Raihan belum tentu suka. Dia seperti punya standar dan dunia sendiri. Tapi saya bisa katakan dia tidak autis, karena kami masih bisa mengajaknya berkomunikasi dan dia bisa menyampaikan keinginannya. Hanya saja dia bukan tipe yang bisa ditebak.

yuhuuu.. bersambung!


Baca Selengkapnya ....

Mendidik Anak Itu... Penting!

Posted by Nasyithun Izzah 0 komentar

Meski anak adalah harta yang sangat berharga sebagian orang menganggap memilki anak adalah sebuah kewajaran. Ketika dua orang menikah selanjutnya pastilah punya momongan. Apalagi kalau setelah satu dua bulan menikah si istri langsung hamil, jadi tidak perlu merasakan penantian panjang. Bahagia itu pasti, tidak ada orang yang tidak bahagia dengan kehamilan pertama dalam sebuah pernikahan.
Namun seperti yang dikatakan diawal punya anak tidak lebih dari konsekuensi logis sebuah pernikahan. Orang tua lalu melakukakan hal-hal yang biasa dilakukan orang-orang misalnya memeriksakan kandungan setiap bulan, mengikuti pantangan-pantangan yang sering kali tidak terbukti kebenaranannya, melakukan tigabulanan, tujuh bulanan yang semua itu tidak ada dalam syariat islam. Tapi mereka justru melupakan hal yang penting yaitu pendidikan anak.
Pendidikan anak sangat penting untuk direncanakan, bukan hanya menikah. Pola asuh seperti apa yang akan diterapkan pada anak-anak dan bagaimana menyikapi bakat-bakat alami mereka. Sangat tidak adil jika kehidupan mereka—anak-anak yang luar biasa ini—terabaikan, mengubur bakat mereka dan menjadikan mereka manusia-manusia yang hanya menunggu pagi saat malam dan menunggu malam saat pagi.
Banyak yang mengatakan let it flow sajalah atau biarkan mengalir mengikuti air atau arus kehidupan tapi tidaklah sesuatu itu yang mengikuti arus itu kecuali berakhir di comberan.  Jika ingin menjadi pemenang maka yang harus dilakukannya adalah tidak mudah terbawa arus, karena arus itu melenakan dan sedikit demi sedikit membawa pada kehancuran.
Melelahkan memang namun tidak ada keberhasilan tanpa usaha. Setiap usaha tidak selalu berujung keberhasilan, tapi keberhasilan mutlak memerlukan usaha. Demikian juga dalam mengasuh anak, tanpa perencanaan maka anak akan tumbuh apa adanya, tanpa punya prinsip hidup, terhanyut dalam budaya permisif (serba membolehkan) dan pragmatis (mengutamakan kepraktisan tanpa memikikan akibat jangka panjang). Kondisi ini hanya akan melahirkan generasi ‘buruh’ yang mengharapkan mendapatkan pekerjaan, konsumtif, dan mati kreativitasnya.
Saat ditanya apa harapan orang tua bagi anaknya? Banyak yang berkata ingin anaknya menjadi anak yang soleh, berbakti pada orang tua, dan bermanfaat bagi masyarakat. Tapi berapa banyak yang bersungguh-sungguh mewujudkannya? Berapa banyak orang tua yang mau bersusah payah belajar, mempelajari dengan kesabaran bakat-bakat anaknya?
Contoh kecil saja apa yang Anda lakukan jika tiba-tiba anak Anda menumpahkan makanannya, lalu mengacak-ngacaknya dan terakhir mengusapkan pada rambutnya seolah-olah sedang keramas? Berteriak? Marah? Atau panik? Mengatakan bahwa makanan itu tidak boleh dibuat mainan sambil melotot dan mengeluarkan gerutuan sepanjang kereta api?
 Raihan pernah melakukannya. Saat terlepas dari pengawasan dia memasukkan kedua tangannya dalam mangkok menumpahkannya lalu dengan mengusap-usap rambutnya. Terkejut tentu saja, tapi sebenarnya hal itu tidak perlu memancing reaksi berlebihan. Makanan yang tumpah bisa dibersihkan, rambut yang kotor bisa keramas, mudah bukan? Tak perlu mengeluarkan energi lebih dengan marah dan menyalahkan anak, karena hatinya bisa terluka. Ih, masa sih anak dua tahun bisa sakit hati? Tentu saja bisa sodara-sodara! Memang tidak kelihatan tapi itu akan tersimpan dalam alam bawah sadar karena anak usia 0-5 tahun gelombang otaknya berada dalam kondisi alfa. Artinya semua yang Anda lakukan dan katakan direkam tanpa proses penyaringan dan itu baru akan muncul saat pikiran sadarnya mendominasi otak. Jadi jangan heran bila saat SD anak suka membantah dan pemarah pada adiknya, Andalah yang mengajarkan pertama kali padanya.
Salah satu modal utama bagi orang tua dalam mendidik anak adalah jangan marah. Rasulullah bersabda, “Janganlah marah, maka bagimu surga.” Ternyata marah adalah induk semua kejelekan, saat marah seseorang tidak bisa mengontrol dirinya dan melakukan tindakan yang seringkali disesali saat kemarahan reda. Kemarahan orang tua bisa menghancurkan harga diri anak, melukai hatinya, dan menimbulkan dendam. Padahal salah satu amalan yang bisa mengantarkan pada surga adalah doa anak yang shalih, tapi bagaimana bisa mendapatkan doa anak jika anak merasa kecewa pada orang tua?
Mungkin orang tua merasa tidak adil, sebab orang tua sudah melahirkan, membesarkan, menyekolahkan, memberikan pakaian, makanan, perlindungan masa hanya karena dimarahi tidak mau mendoakan orang tua, tidak mau berbakti? Seperti kata pepatah cinta orang tua sepanjang jalan, cinta anak sepanjang galah. Cinta orang tua selalu lebih besar dari anak, demikian juga yang terjadi antara kita dan orang tua kita serta kita dan anak-anak kita. Coba tanya pada diri sendiri saat dimarahi orang tua dulu bagaimana perasaan kita?
Sebenarnya semua anak tidak pernah punya keinginan membuat orang tua marah (betul,kan? Apakah kita sebagai anak punya keinginan membuat orang tua marah?). Marah itu muncul saat anak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan orang tua. Bisa saja orang tua yang benar dan anak yang salah, atau sebaliknya. Tapi meskipun salah tidak sepantasnya orang tua memarahi secara berlebihan (tapi tidak usah mengingat-ingat perlakuan orang tua dulu karena pendidikan yang belum semaju sekarang sehingga berimbas pada ketidak tahuan mereka, sekarang saatnya kita merubah kebiasaan itu). Ketika menjatuhkan piring contohnya seringkali orang tua langsung naik pitam dan mencela anaknya macam-macam, padahal berapa sih harga piring? Apakah sebanding dengan perasaan anak yang kita cintai terluka?
Tapi tentu tidak berarti orang tua menjadi lemah dan memanjakan anak. Menuruti semua keinginan anak dan membiarkannya melakukan kesalahan justru akan menghancurkan hidupnya. Pada hal-hal yang prinsip bersikap tegas itu penting. Misalnya saat anak usia 10 tahun tidak mau solat, tidak mau mengaji dan melalaikan kewajibannya pada agama. Tapi tentu ada caranya, tegas bukan berarti kasar atau marah. Jelaskan padanya kenapa itu dilarang, kenapa harus melakukan ini, kenapa bersikap demikian, bicarakan dengan baik-baik. Anak juga merasa bahagia bila dihargai, dan tidak perlu merasa terpaksa dalam mengikuti perintah orang tua.
 Mendidik anak tidaklah mudah, apalagi bila bakat anak tidak sesuai dengan harapan orang tua. Orang tua ingin anaknya meneruskan bisnis keluarga tapi ternyata dia lebih suka menulis. Seorang ibu ingin anaknya menjadi guru tapi si anak ternyata lebih betah berkutat di dapur, bila tidak ada kesabaran tentu ini bisa menjadi sumber masalah. Bahkan anak dengan bakat khusus yang luar biasa seringkali memilki perilaku yang luar biasa pula, kalau orang tua tidak pandai menyikapi justru akan menghancurkan anak selain kepala yang pusing menghadapi tingkahnya. Mungkin saja seorang anak yang punya kemampuan khusus dalam teknik akan sering membongkar barang-barang di rumah,mainan baru beli dibongkar, jam dibongkar, radio dipreteli, sepeda dilepas satu persatu, bisa Anda bayangkan apa yang terjadi jika orang tua tidak mengerti bakat anaknya?
Anak tidak bisa tumbuh menjadi pribadi yang hebat dengan sendirinya, ada peran orang tua dan lingkungan yang membentuknya. Maka jadilah orang tua yang mengerti, kurangi marah, dan luangkan waktu sejenak untuk mendengarkan keluh-kesahnya, harapan-harapannya, dan ketidaksukaannya. Setelah itu carikanlah lingkungan yang baik, yang menunjang bakatnya, dekatkan denga orang-orang yang berkualitas, sebab seseorang sangat dipengaruhi dengan siapa ia bergaul.
Salam hangat.

Baca Selengkapnya ....

Anak, Pekerjaan, dan Pengasuhan

Posted by Nasyithun Izzah Kamis, 03 Januari 2013 1 komentar

Apakah Anda mencintai anak Anda? Tentu saja! Tidak diragukan lagi setiap orang tua secara fitrah akan mencintai anaknya. Andai perasaan seperti ini tidak ada maka manusia tidak akan ada di dunia ini. orang tua tidak akan sabar memelihara anak-anak mereka, tidak peduli terhadap kebutuhan hidup mereka, cuek saja saat anak sakit. Bahkan kecintaan orang tua begitu besarnya sampai tak pernah terpikir untuk meminta imbalan atau ganti rugi pada anaknya.
Apalagi bagi pasangan yang sudah lama mengharapkan kehadiran buah hati, anak adalah harta yang tak ternilai, jauh lebih berharga dari emas, rumah, tanah, atau mobil. Mereka melakukan berbagai macam cara dari yang realistis sampai mistis. Ada yang menempuh jalan sesuai syariat ada juga yang malah terjerumus pada kemusyrikan. Sungguh luar biasa arti seorang anak, anak yang lahir dari darah daging sendiri.
Lalu ketika sang buah hati lahir apa yang dilakukan orang tua? Pastilah mereka akan merawat dengan sebaik-baiknya, memberikan susu terbaik, membelikan pakaian yang lucu-lucu, mainan berlimpah, hingga mendesain kamar khusus bagi anak. Saat orang tua melihat anaknya tumbuh sehat, gemuk, lincah, berjalan tertatih, belajar bicara, dan bisa menghitung satu –dua-tiga betapa bahagianya. Seolah celotehan balita yang tidak jelas bicaranya lebih merdu dari suara penyanyi terbaik manapun.
Namun sayangnya banyak orangtua yang ‘menelantarkan’ anaknya dalam hal pendidikan dan kasih sayang. Pendidikan dipandang cukup oleh orang tua jika sudah bisa memasukkan anaknya ke TK mahal, SD prestisius, SMP favorit sampai universitas terkenal. Tidak ada yang lebih baik daripada menempatkan anaknya diantara anak-anak pintar dan sekolah terbaik. Salahkah? Tentu tidak, sekolah yang baik tentu sedikit banyak akan membawa pengaruh dalam kehidupannya.
Tapi sebenarnya sekolah pertama dan utama adalah keluarganya, namun disinilah anak tidak mendapat pendidikan yang semestinya. Sekarang ini jamak kita lihat para ibu keluar rumah untuk bekerja, memberikan pengasuhan anak pada sang nenek, baby sitter, atau pembantu. Bahkan kalau dihitung-hitung gaji tiap bulan bila dibayarkan pada baby sitter dan pembantu ternyata hampir impas.
Meski dianggap kuno, secara kodrat ayahlah yang bertugas mencari nafkah. Itu karena para ayah diberikan kelebihan fisik yang kuat, pemikiran yang stabil, tidak mudah terpengaruh emosi, dan bila pulang malam lebih bisa menjaga dirinya (kebayang kan bila wanita pulang larut malam? Jalanan adalah tempat kejahatan). Selain itu ayah cenderung bersifat keras, kurang sabar, dan kasar sangat tidak cocok dalam mengasuh anak-anak. Apalagi anak-anak selalu punya tingkah ‘ajaib’ yang menurut orang tua seringkali tidak masuk akal.
Lalu kalau keadaan ekonomi kurang apakah istri tidak boleh bekerja? Bekerjanya istri harus mendapat ijin suami, dalam syariat islam seorang istri hanya bertugas melayani suami dan mengasuh anak-anaknya. Bahkan jika mampu suami harus mencarikan orang untuk membantu urusan rumah tangga  agar istri lebih fokus mengasuh anak. Kalau seandainya mengalami kekurangan dalam penghasilan lebih utama istri bekerja di rumah, sesuai dengan keterampilannya. Sehingga anak tetap ada dalam pengawasan, karena semua yang terjadi pada anak-anak akan menjadi landasan kehidupannya kelak dewasa.
Kalau tidak punya keterampilan? Tidak mungkin! Allah pasti memberikan kelebihan pada setiap hambaNya. Ada yang pintar masak, menulis, membuat kerajinan, menyulam, merajut, membuat kripik, merias, dan berbagai keterampilan lain. Kalau merasa tidak punya juga coba lihat pendidikan Anda, bagi sarjana psikologi  bisa membuka klinik konsultasi di rumah, bagi yang SMA nilai matematikanya bagus bisa memberi les pada anak SD (secara matematika SD kan belum seruwet matematika SMA hehe), kalau yang prestasi akademik dan keterampilan pas-pasan masih cara lain. Misalnya jadi makelar barang-barang, jadi reseller baju, sepatu, buku, lalu promosi ke komunitas arisan, ibu-ibu tetangga, milis, facebook, twitter, pokoknya banyak cara untuk menambah penghasilan tanpa perlu bekerja di kantor, toko, bank, yang pasti menyita waktu yang amat berharga bagi perkembangan anak.
Kalau dipikir-pikir sebenarnya Allah tidak akan lupa memberi rejeki pada hambaNya, tinggal kita mau bersyukur atau tidak. Bila seorang istri tidak bekerja Allah akan memberikan rejeki itu lewat suaminya. Misalnya suami jadi sering dapat bonus, suami naik jabatan, suami dapat pekerjaan yang lebih baik, atau dagangan suami jadi tambah laris, bisnis maju, karier melesat. Terus karena istri fokus dirumah melayani suami maka suami merasa tenang dan bahagia berdekatan dengan istri, nah pada saat itu biasanya suami jadi loyal, apa yang diminta istri diberikan (asal mintanya nggak keterlaluan ya). Enak kan nggak kerja tapi tetep dapat uang buat beli baju, jajan, sepatu, tas, dll hehe...
Banyak teman saya yang mengeluh betapa repot dan capeknya saat mengasuh anak terutama balita. Mereka lebih nyaman bekerja karena merasa lebih eksis, percaya diri, dan bisa melepaskan kepenatan di rumah. Memang tantangan utama menjadi ibu rumah tangga adalah lelah dan bosan. Bagaimana tidak bosan bila dari membuka mata sampai menutup mata yang dikerjakan sama, bahkan tengah malam harus siap-siap bangun bila anak rewel. Berbeda bila bekerja, bisa bertemu orang-orang, bercanda, makan siang bersama rekan, perjalanan dinas, bahkan rasanya pekerjaan seberat apapun di kantor lebih baik daripada seharian mendekam di rumah bersama anak.
Padahal saat hamil mereka terlihat sangat bahagia, berbagai status berbunga-bunga di jejaring sosial seolah ingin berkata pada dunia “Woi, sebentar lagi gue akan punya bayi!”. Tak sabar menunggu jadwal kunjungan dokter untuk mengintip si dedek yang sedang tumbuh di rahim. Namun ketika anak yang ditunggu-tunggu lahir, tiba-tiba mereka merasa kelelahan, kerepotan, kebosanan, hingga akhirnya bersyukur bisa kembali bekerja.
Saya yakin tidak semua ibu demikian, tapi yang perlu disadari bahwa pengalaman pernah bekerja secara tidak sadar menjadi pembanding dalam mengasuh anak. Sehingga para ibu menjadi tidak sabar dan telaten. Saya pun mengalaminya, saat menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga maka hal yang paling membuat saya tertekan adalah lelah, bosan, dan merasa tidak berguna. Seolah menjadi ibu rumah tangga sangat tidak ada harganya, apalagi bila melihat teman yang kerja di kantor-kantor berpakaian rapi, cantik, dan modis. Sangat berbeda dengan saya yang sering memakai pakaian rumahan, itupun baunya sudah tidak karu-karuan campur baur antara bumbu masakan, keringat, dan ompolnya Raihan. Rambutpun lebih banyak berantakan karena sering jadi ajang mainan anak saya yang luar biasa kelakuannya.
Tapi saya tidak mau lama-lama hanyut dalam perasaan yang membuat saya semakin jatuh. Ketika menikah maka saya sudah siap untuk total di rumah, apalagi ada hadist yang mengatakan bila istri meninggal dan suami ridha kepadanya maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga. Kemudian saya mencoba menikmati peran saya, mengisi waktu disela-sela pekerjaan rumah tangga dan mengasuh Raihan dengan melakukan hobi contohnya menulis di blog seperti ini. Selain itu saya juga suka membuat kue-kue, saya yakin suatu saat kemampuan ini akan berguna dan insya Allah dicatat sebagai amal kebaikan.
Sepertinya tulisan ini sudah terlalu panjang, meski tidak pas lebih baik dipotong di sini saja. Insya Allah dilanjutkan lagi. Apalagi ini adalah kesempatan berharga untuk tidur, karena Raihan pun sedang tidur, lumayanlah merebahkan badan barang setengah jam, sebelum dia bangun dan menguasai laptop untuk main game dan nonton upin ipin.
Salam hangat.

Baca Selengkapnya ....

Trend Masa Kini: Les CALISTUNG

Posted by Nasyithun Izzah Senin, 12 November 2012 0 komentar

Suatu hari saat sedang berhenti di lampu merah, mata saya tak sengaja membaca sebuah poster tentang les calistung (baca tulis hitung). Kawasan perempatan agaknya menjadi primadona dalam memasang berbagai iklan, tidak hanya yang bertiang tapi berbagai spanduk bertebaran di pinggir perempatan.
Di poster  yang bergambar anak sedang belajar itu tertulis -kurang lebih- begini: “Umur 2 tahun waktunya les calistung, Ma. Biar nanti bisa masuk SD favorit.” Di pojok kanan ada tambahan “bonus tas”. Lalu dibagian paling bawah tertera alamat tempat lesnya.
Aneh sekali rasanya, sejak kapan anak usia 2 tahun sudah “dipaksa” ikut les calistung? Saat balita belum bisa memanggil mama-papa dengan benar sudah disodori les membaca, menulis, dan berhitung. Entah metode apa yang digunakan, tapi mengikutkan les bagi anak usia 2 tahun sepertinya terlalu dipaksakan.
Playgroup saja membatasi usia anak 2,5 tahun, itupun “belajar”nya hanya tiga kali seminggu. Suasana belajar dibuat nyaman diisi menyanyi, berdoa, dan bermain. Tidak ada pelajaran menulis, membaca, apalagi berhitung. Anak-anak bebas berlari-lari sesuka hati, bermain dengan mainan yang disukai.
Fenomena apakah ini? apakah hanya sekedar taktik tempat les yang ingin mengeruk keuntungan? Atau memang orangtua jaman sekarang “silau” dengan predikat sekolah favorit, sehingga anak yang belum lengkap akalnya dipaksa mengikuti berbagai les-les yang belum tentu sesuai dengan bakatnya.
Ada anggapan bahwa anak yang bisa membaca, menulis di usia dini dianggap cerdas sehingga para orangtua berlomba-lomba mengikutkan les bagi anak-anak balita mereka. Selain karena ingin anaknya pintar, terselip ambisi orangtua untuk menjadikan anaknya pantas menyandang predikat cerdas. Siapa sih yang tidak bangga punya anak pintar?
Namun agaknya ada yang terlupa, bahwa anak-anak yang dianggap pintar dengan nilai-nilai bagus di sekolahnya saat dewasa nanti tidak lebih berhasil dari anak yang biasa-biasa saja. Padahal kehidupan nyata yang akan dihadapi saat anak dewasa lebih memerlukan kreativitas dan kemampuan menyelesaikan persoalan, bukan dengan deretan angka yang nyaris sempurna. Seseorang tidak akan bisa sukses hanya mengandalkan ijazah dari universitas favorit dengan IPK 4,0.
Memaksa anak usia dini untuk baca, tulis, hitung justru akan membuat kehidupannya menjadi lebih berat. Anak yang otaknya sudah dipenuhi cara berpikir linier akan mengabaikan kreativitas, kemampuan mengelola emosi, dan jiwa seninya pun layu sebelum berkembang. Akhirnya ia tumbuh menjadi manusia robot yang segala sesuatu seperti sudah terprogram, tidak ada tempat untuk mengembangkan ide, inovasi, dan proses kreatif. Dan ini hanya melahirkan generasi pekerja bukan pemberi kerja.
Bahkan menurut penelitian ada kecenderungan anak menjadi malas membaca jika sejak kecil sudah diajari membaca. Agar anak suka membaca bukanlah dengan mengajarinya membaca sejak kecil tapi rasa ingin tahunya yang harus ditumbuhkan. Ketika jiwa ingin tahu anak tinggi maka dia akan mencari informasi dan salah satunya lewat buku, sehingga secara tidak langsung anak terdorong untuk membaca. Berbeda dengan anak yang dipaksa-paksa membaca saat usianya belum siap maka dia akan cepat bosan dan menganggap membaca sangat membosankan.
Lalu kapan usia yang tepat anak belajar membaca? Menurut buku yang saya baca usia yang bagus adalah 7 tahun atau kelas 1 SD. Bahkan, di Amerika anak-anak sekolah dasar baru diajari membaca saat kelas 3. Kelas 1 dan 2 diisi dengan pengetahuan dasar tentang kehidupan dan bermasyarakat, pendek kata kelas-kelas awal adalah pembentukan mental dan karakter.
Tapi yang terjadi sekarang sungguh berbeda, anak usia TK sudah diajari menulis, membaca, dan berhitung. Ujian pun sudah seperti sekolah yang lebih tinggi, yaitu menggunakan kertas lembar jawaban. Sungguh kasian melihat anak yang sedang senang-senangnya bermain harus duduk menekuri kertas, mengernyit memikirkan jawaban, sambil berusaha keras menulis huruf demi huruf.
Sekolah dasarpun  berlaku “kejam” dengan menetapkan peraturan bahwa siswa baru harus bisa membaca dan menulis, dan diberlakukakn tes tertulis. Itulah sebabnya para orangtua berduyun-duyun me-les-kan anaknya agar bisa diterima di sekolah yang dituju. Padahal dalam kurikulum untuk PAUD/TK tidak ada pelajaran membaca dan menulis – karena saya pernah sekolah untuk menjadi guru taman kanak-kanak.
Akhirnya anak-anak yang jadi korban, menjadi objek bagi pemuasan ego orangtua. Bagi anak usia dini tidak ada artinya sekolah mereka favorit atau tidak, tidak terlalu dipikir apakah nanti bisa masuk SD favorit atau tidak. Di pikiran mereka yang terpenting adalah bagaimana bisa bersekolah di tempat yang nyaman dan membuat mereka bahagia.
Dunia tidak akan kiamat karena anak kita tidak bisa masuk sekolah favorit. Tidak ada jaminan bahwa sekolah favorit bisa membuat anak menjadi orang sukses kelak, juga tidak ada aturan bahwa anak yang sekolah di sekolah biasa-biasa saja akan gagal dalam hidupnya. Kebahagiaan dan keberhasilan seseorang lebih ditentukan bagaimana dia bisa memecah persoalan kehidupan yang tidak diajarkan di sekolah-sekolah.
Berapa banyak dari kita yang merasa bahwa pelajaran matematika tentang sincostan, integral, trigonometri berguna dalam kehidupan sehari-hari? Hanya orang-orang tertentu saja yang mengambil spesialisasi di universitas yang menggunakannya itupun dengan catatan mereka bekerja di bidang yang sama dengan jurusan waktu kuliah. Selebihnya matematika digunakan untuk menghitung gaji, belanja, tabungan, dan menghitung kembalian. Tidak jauh-jauh dari uang.
Jadi sebagai orang tua janganlah gampang terpengaruh dengan keadaan dan paradigma yang tengah berkembang. Seringkali terjadi ketimpangan apa yang dibutuhkan anak dengan yang diberikan orangtuanya. Sehingga memunculkan tekanan yang berdampak buruk pada perkemabangan jiwaa anak. Apa yang menurut orang tua baik dan membuat anak bahagia belum tentu sama dengan yang diinginkan anaknya. Kuncinya adalah komunikasi dan tempatkan diri sejajar dengan anak, bukan seperti bos yang kata-katanya harus selalu didengar. Anak-anak juga ingin dihargai dan didengar pendapatnya.
Semoga kita semua bisa menjadi orangtua yang diidolakan anak-anaknya. Salam generasi emas!

Baca Selengkapnya ....
TEMPLATE CREDIT:
Tempat Belajar SEO Gratis Klik Di Sini - Situs Belanja Online Klik Di Sini - Original design by Bamz | Copyright of Ummi Raihan.