Trend Masa Kini: Les CALISTUNG

Posted by Nasyithun Izzah Senin, 12 November 2012 0 komentar

Suatu hari saat sedang berhenti di lampu merah, mata saya tak sengaja membaca sebuah poster tentang les calistung (baca tulis hitung). Kawasan perempatan agaknya menjadi primadona dalam memasang berbagai iklan, tidak hanya yang bertiang tapi berbagai spanduk bertebaran di pinggir perempatan.
Di poster  yang bergambar anak sedang belajar itu tertulis -kurang lebih- begini: “Umur 2 tahun waktunya les calistung, Ma. Biar nanti bisa masuk SD favorit.” Di pojok kanan ada tambahan “bonus tas”. Lalu dibagian paling bawah tertera alamat tempat lesnya.
Aneh sekali rasanya, sejak kapan anak usia 2 tahun sudah “dipaksa” ikut les calistung? Saat balita belum bisa memanggil mama-papa dengan benar sudah disodori les membaca, menulis, dan berhitung. Entah metode apa yang digunakan, tapi mengikutkan les bagi anak usia 2 tahun sepertinya terlalu dipaksakan.
Playgroup saja membatasi usia anak 2,5 tahun, itupun “belajar”nya hanya tiga kali seminggu. Suasana belajar dibuat nyaman diisi menyanyi, berdoa, dan bermain. Tidak ada pelajaran menulis, membaca, apalagi berhitung. Anak-anak bebas berlari-lari sesuka hati, bermain dengan mainan yang disukai.
Fenomena apakah ini? apakah hanya sekedar taktik tempat les yang ingin mengeruk keuntungan? Atau memang orangtua jaman sekarang “silau” dengan predikat sekolah favorit, sehingga anak yang belum lengkap akalnya dipaksa mengikuti berbagai les-les yang belum tentu sesuai dengan bakatnya.
Ada anggapan bahwa anak yang bisa membaca, menulis di usia dini dianggap cerdas sehingga para orangtua berlomba-lomba mengikutkan les bagi anak-anak balita mereka. Selain karena ingin anaknya pintar, terselip ambisi orangtua untuk menjadikan anaknya pantas menyandang predikat cerdas. Siapa sih yang tidak bangga punya anak pintar?
Namun agaknya ada yang terlupa, bahwa anak-anak yang dianggap pintar dengan nilai-nilai bagus di sekolahnya saat dewasa nanti tidak lebih berhasil dari anak yang biasa-biasa saja. Padahal kehidupan nyata yang akan dihadapi saat anak dewasa lebih memerlukan kreativitas dan kemampuan menyelesaikan persoalan, bukan dengan deretan angka yang nyaris sempurna. Seseorang tidak akan bisa sukses hanya mengandalkan ijazah dari universitas favorit dengan IPK 4,0.
Memaksa anak usia dini untuk baca, tulis, hitung justru akan membuat kehidupannya menjadi lebih berat. Anak yang otaknya sudah dipenuhi cara berpikir linier akan mengabaikan kreativitas, kemampuan mengelola emosi, dan jiwa seninya pun layu sebelum berkembang. Akhirnya ia tumbuh menjadi manusia robot yang segala sesuatu seperti sudah terprogram, tidak ada tempat untuk mengembangkan ide, inovasi, dan proses kreatif. Dan ini hanya melahirkan generasi pekerja bukan pemberi kerja.
Bahkan menurut penelitian ada kecenderungan anak menjadi malas membaca jika sejak kecil sudah diajari membaca. Agar anak suka membaca bukanlah dengan mengajarinya membaca sejak kecil tapi rasa ingin tahunya yang harus ditumbuhkan. Ketika jiwa ingin tahu anak tinggi maka dia akan mencari informasi dan salah satunya lewat buku, sehingga secara tidak langsung anak terdorong untuk membaca. Berbeda dengan anak yang dipaksa-paksa membaca saat usianya belum siap maka dia akan cepat bosan dan menganggap membaca sangat membosankan.
Lalu kapan usia yang tepat anak belajar membaca? Menurut buku yang saya baca usia yang bagus adalah 7 tahun atau kelas 1 SD. Bahkan, di Amerika anak-anak sekolah dasar baru diajari membaca saat kelas 3. Kelas 1 dan 2 diisi dengan pengetahuan dasar tentang kehidupan dan bermasyarakat, pendek kata kelas-kelas awal adalah pembentukan mental dan karakter.
Tapi yang terjadi sekarang sungguh berbeda, anak usia TK sudah diajari menulis, membaca, dan berhitung. Ujian pun sudah seperti sekolah yang lebih tinggi, yaitu menggunakan kertas lembar jawaban. Sungguh kasian melihat anak yang sedang senang-senangnya bermain harus duduk menekuri kertas, mengernyit memikirkan jawaban, sambil berusaha keras menulis huruf demi huruf.
Sekolah dasarpun  berlaku “kejam” dengan menetapkan peraturan bahwa siswa baru harus bisa membaca dan menulis, dan diberlakukakn tes tertulis. Itulah sebabnya para orangtua berduyun-duyun me-les-kan anaknya agar bisa diterima di sekolah yang dituju. Padahal dalam kurikulum untuk PAUD/TK tidak ada pelajaran membaca dan menulis – karena saya pernah sekolah untuk menjadi guru taman kanak-kanak.
Akhirnya anak-anak yang jadi korban, menjadi objek bagi pemuasan ego orangtua. Bagi anak usia dini tidak ada artinya sekolah mereka favorit atau tidak, tidak terlalu dipikir apakah nanti bisa masuk SD favorit atau tidak. Di pikiran mereka yang terpenting adalah bagaimana bisa bersekolah di tempat yang nyaman dan membuat mereka bahagia.
Dunia tidak akan kiamat karena anak kita tidak bisa masuk sekolah favorit. Tidak ada jaminan bahwa sekolah favorit bisa membuat anak menjadi orang sukses kelak, juga tidak ada aturan bahwa anak yang sekolah di sekolah biasa-biasa saja akan gagal dalam hidupnya. Kebahagiaan dan keberhasilan seseorang lebih ditentukan bagaimana dia bisa memecah persoalan kehidupan yang tidak diajarkan di sekolah-sekolah.
Berapa banyak dari kita yang merasa bahwa pelajaran matematika tentang sincostan, integral, trigonometri berguna dalam kehidupan sehari-hari? Hanya orang-orang tertentu saja yang mengambil spesialisasi di universitas yang menggunakannya itupun dengan catatan mereka bekerja di bidang yang sama dengan jurusan waktu kuliah. Selebihnya matematika digunakan untuk menghitung gaji, belanja, tabungan, dan menghitung kembalian. Tidak jauh-jauh dari uang.
Jadi sebagai orang tua janganlah gampang terpengaruh dengan keadaan dan paradigma yang tengah berkembang. Seringkali terjadi ketimpangan apa yang dibutuhkan anak dengan yang diberikan orangtuanya. Sehingga memunculkan tekanan yang berdampak buruk pada perkemabangan jiwaa anak. Apa yang menurut orang tua baik dan membuat anak bahagia belum tentu sama dengan yang diinginkan anaknya. Kuncinya adalah komunikasi dan tempatkan diri sejajar dengan anak, bukan seperti bos yang kata-katanya harus selalu didengar. Anak-anak juga ingin dihargai dan didengar pendapatnya.
Semoga kita semua bisa menjadi orangtua yang diidolakan anak-anaknya. Salam generasi emas!

Baca Selengkapnya ....

Memeluk Mimpi

Posted by Nasyithun Izzah Jumat, 26 Oktober 2012 0 komentar

Setiap orang pasti mempunyai mimpi atau cita-cita. Pepatah mengatakan gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Saya ingat ketika masih kecil, ada yang bertanya, “Apa cita-citamu?” maka dengan yakin saya menjawab, “Aku ingin menjadi guru”. Sementara anak-anak lain bercita-cita menjadi dokter, pilot, arsitek, astronot, presiden, atau ilmuwan. Semua cita-cita itu begitu optimis dan setinggi langit.
Tapi ketika dewasa berapa banyak yang  benar-benar mewujudkan mimpinya? Hanya sedikit sekali, yang banyak terjadi mereka melupakan impian itu dan menganggapnya hanya angan-angan sewaktu kecil. Orang-orang takut mengejar mimpi-mimpi mereka karena merasa tidak pantas untuk mendapatkannya atau  merasa impian itu mustahil diwujudkan.  
Tumbuh dewasa berarti bertambahnya berbagai persoalan kehidupan. Berarti pula semakin realistisnya manusia dalam memandang kemungkinan. Kenyataan hidup yang seringkali bertentangan dengan impian membuat mimpi itu kandas di tengah jalan. Tak banyak orang yang berani mengangkat wajah menentang apa yang ada didepannya, menerobos mencari jalan keluar. Kebanyakan bersembunyi dan memilih untuk menyerah.  
Hati manusia tidak suka menderita. Takut mengalami kesulitan dan ketidakbahagiaan. Takut bila hal yang diharapkannya tidak akan terjadi. Hati manusia benci terluka apalagi sampai berdarah-darah. Namun hukum alam berkata bahwa jalan menuju keberhasilan selalu penuh duri tajam. Setiap kesuksesan selalu menuntut pengorbanan dan airmata.
Sebelum mimpi terwujud dunia akan memberikan halangan dan rintangan kepada Si Pengejar Mimpi. Bukan karena dunia jahat tapi dunia ingin menguji sejauh mana ketangguhan Si Pengejar Mimpi. Semua ujian itu bertujuan agar manusia bisa mengambil pelajaran-pelajaran selama proses mengejar mimpi tersebut berlangsung. Bahkan terkadang proses itu lebih berharga ketimbang mimpi itu sendiri.
Tidak ada kata terlambat untuk mengejar cita-cita. Bila cita-cita itu sudah terkubur maka hal pertama yang harus dilakukan adalah menggalinya kembali. Bila sudah dilupakan maka harus diingat kembali. Seperti yang dilakukan oleh Heinrich Schliemann, penemu reruntuhan Kota Troya.
Troya yang disebutkan dalam kisal Illiad dahulunya hanya dianggap sebagai negeri dongeng dalam mitologi Yunani. Sebuah kisah yang menceritakan tentang Achilles dan penyerangan Kota Troya. Troya yang memiliki benteng kuat sehingga tidak mudah ditembus musuh akhirnya kalah karena taktik kuda kayu. Kisah ini pernah difilmkan pada tahun 2004 dengan judul Troy.
Schliemann yang menyukai kisah dongeng sejak kecil menganggap bahwa Troya benar-benar ada. Semua teman-temannya menertawakan Schliemann dan menanggapnya hanya berkhayal. Tapi Schliemann tetap teguh dengan pendiriannya hingga ia berhasil menemukan reruntuhan itu pada tahun 1869.
Tentu tidak mudah jalan yang dilalui Schliemann untuk menwujudkan impiannya. Ia pernah mengalami sakit parah akibat kerja kasar dan tenggelam di laut karena kapal yang ia tumpangi disapu badai. Namun ia tak menyerah, perlahan bangkit dan terus belajar dan berusaha. Hingga akhirnya Schliemann berhasil mendirikan perusahaan dagang, menjadi kaya raya dan menikahi seorang wanita bangsawan.
Saat berumur 41 tahun Schliemann membubarkan perusahaan dagangnya dan memulai ekspedisi keliling dunia demi mencari reruntuhan Troya. Schliemann rela meninggalkan hidup mewah dan bercerai dari istrinya yang tidak mendukung mimpinya. Ia lalu masuk universitas,  mengambil jurusan arkeologi dan sejarah sekaligus.
Schliemann berhasil menggali dan menemukan reruntuhan Troya saat berumur 47 tahun. Meski reruntuhan Troya tidak terlalu menarik jika dibandingkan dengan Kuil Parthenon, tapi bagi Schliemann reruntuhan itu berarti segalanya. Karena pada akhirnya Ia bisa mewujudkan mimpinya dan membuktikan bahwa Troya bukan sekedar dongeng belaka.
 Bila bermimpi mewujudkan cita-cita maka diri harus siap menghadapi segala kemungkinan, bahkan yang terburuk sekalipun. Karena pada dasarnya sesuatu bisa terwujud jika kita mau terus berusaha dan pantang menyerah. Jangan menganggap sesuatu itu tidak mungkin, selama mimpi itu bukanlah menghidupkan orang yang mati.
Berapapun usia kita sekarang bukan alasan untuk melupakan mimpi dan cita-cita. Bagi yang muda maka kesempatan masih terbuka luas. Berbagai peluang masih bisa diraih. Jangan sia-siakan energi darah muda dalam diri hanya untuk menyerah pada keadaan. Segera tentukan hidup seperti apa yang kita inginkan.
Sedangkan bagi yang sudah melewati masa muda atau sudah merasa lelah untuk berusaha maka bisa membantu orang-orang di sekitarnya untuk mewujudkan mimpinya. Jika telah menjadi orang tua, bantulah putra-putri kita mengejar mimpinya. Biarkan dia memilih cita-cita. Jangan memaksakan kehendak dengan dalih bahwa itu yang terbaik untuknya. Jangan pula cita-cita orang tua yang tak tercapai jadi dibebankan pada anak-anak.

Setiap orang mempunyai kesempatan untuk mewujudkan impiannya. Karena manusia terlahir dengan bakat alami yang unik. Meski manusia terikat takdir tapi kita tidak akan pernah tahu sampai dimana takdir itu bila tidak mencobanya.
Karena itu, sekarang saya sedang meniti jalan penuh tantangan demi menggapai cita-cita. Dibutuhkan banyak pengorbanan dan sifat keras kepala, sebab jalan yang saya tempuh akan menguras tenaga, pikiran, dan harta. Namun ingatan bahwa setiap langkah membuat mimpi semakin nyata kembali mengobarkan semangat. Menguatkan hati yang lelah dan melemah. Saya harus menjaga harapan itu, karena harapan adalah alasan seseorang tetap hidup.

Baca Selengkapnya ....

Penyakit Dipengaruhi Kebiasaan

Posted by Nasyithun Izzah Rabu, 24 Oktober 2012 0 komentar

Banyak orang yang ketika memasuki usia setengah baya atau tua menderita penyakit yang sama dengan orang tua mereka, seperti diabetes, hipertensi, jantung dan kanker. Saat hal ini terjadi, sebagian orang berkata, “Memang tidak mungkin saya terhindar dari kanker karena beberapa orang dalam keluarga saya menderita kanker.” Namun sebenarnya itu tidak benar.

Memang faktor genetis adakalanya berpengaruh tapi hanya dalam intensitas yang kecil dan terbatas. Penyebab terbesar penyakit keturunan adalah mewarisi kebiasaan-kebiasaan penyebab penyakit tersebut.
Kebiasaan-kebiasaan di rumah secara tidak disadari terpatri dalam benak anak-anak selama mereka dibesarkan. Kesukaan akan jenis-jenis makanan tertentu, cara memasak, gaya hidup, dan nilai-nilai beragam antara satu keluarga dan keluarga yang lain. Namun, orang tua dan anak-anak yang tumbuh dalam rumah tangga yang sama memiliki kesukaan yang hampir sama. Dengan kata lain, anak-anak cenderung menderita penyakit yang sama dengan orang tua mereka, bukan karena mereka mewarisi gen yang menyebabkan penyakit itu, melainkan karena mereka mewarisi kebiasaan-kebiasaan gaya hidup yang menyebabkan penyakit tersebut.
Jika mewarisi kebiasaan-kebiasaan yang baik seperti memilih bahan-bahan makanan yang segar dan air yang baik, menjalani gaya hidup jauh dari rokok dan alhkohol, serta tidak banyak minum obat kelak anak akan lebih mudah menjaga kesehatan. Namun dengan mewarisi kebiasan-kebiasaan yang buruk, seperti banyak mengonsumsi makanan yang teroksidasi, terlalu bergantung pada obat-obatan, dan memiliki gaya hidup yang buruk, anak-anak itu akan cenderung tidak sehat bahkan mungkin lebih buruk dari orang tua mereka.
Dengan begitu, anak-anak menwarisi kebiasaan-kebiasaan baik atau buruk dari orang tua mereka. Oarang dewasa yang sejak kecil diperintah orang tua mereka untuk minum susu tiap hari mungkin masih minum susu hingga saat ini, dengan kata-kata orang tua masih terpatri di benak mereka.
Semakin tua usia seserorang semakin sulit mengubah kebiasaannya. Terlebih lagi kebiasaan terpatri dalam benak kita semasa kita mudadan sering memberikan pengaruh yang kuat selama hidup kita. Semakin muda seseorang merokok maka akan semakin sulit untuk melepaskan diri. Selanjutnya anak dari perokok akan mengenal rokok dalam usia yang jauh lebih dini lagi dan persentase menjadi perokok dalam usia remaja semakin besar. Karena itu penting untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik sejak dini.
Cukup banyak penelitian yang lebih dipusatkan pada perkembangan balita, perkembangan otak, dan pengasahan keahlian berkonsentrasi bagi anak-anak yang bahkan masih terlalu muda untuk mengingat berbagai hal. Tetapi pengetahuan yang akurat tentang bagaimana kebiasaan-kebiasaan bisa mempengaruhi kualitas hidup seseorang sangatlah sedikit.
Mungkin masih banyak yang belum percaya, tapi kenyataannya kebiasaan-kebiasaan bisa mengalahkan sifat genetis.
Walaupun orang tua mungkin memilki gen penderita kanker, jika Anda menjaga kesehatan Anda baik-baik, memilki kebiasaan-kebiasaan hidup yang bijaksana, dan menjalani hidup sepanjang rentang usia Anda yang alami, anak-anak Anda mungkin akan mendapati bahwa gen penderita kanker  tidak harus selalu berubah menjadi kanker. Mereka pun dapat meniru Anda dalam mencegah kanker. Dengan cara ini, melalui kebiasaan makan dan gaya hidup yang baik “gen penderita kanker” akan melemah dari generasi ke generasi.
Hanya dengan merenungkan sendiri, berhati-hati atas kebiasaan kita, menguji informasi nutrisi terbaik masa kini, dan bertanggung jawab barulah kita bdapat mewariskan kesehatan yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.
Beberapa contoh gaya hidup yang bijaksana yang layak di pilih:
1.              Hindari sepenuhnya rokok dan alkohol
2.              Jangan makan terlalu banyak
3.              Selalu kunyah sampai halus makanan (sekitar 30-40 kali). Dengan mengunyah yang lama akan meringkan kerja lambung dan usus, selain itu bisa menekan nafsu makan sehingga cocok untuk yang sedang menjalani diet  penurunan berat badan
4.              Minum air putih 8-10 gelas perhari.  Penting diingat untuk minum setengah jam sebelum makan bukan pada saat atau setelah makan. Karena minum pada saat atau setelah makan bisa mengencerkan enzim pencernaan dan menguras persediaan enzim lebih banyak. Jika memang harus minum saat makan cukup ½ gelas saja.
5.              Kurangi gula, produk daging, susu dan olahannya. Konsumsi dalam jumlah terbatas
6.              Konsumsi sayur dan buah segar. Semakin jauh bentuk makanan dari aslinya makan nutrisinya semakin berkurang ata bahkan hilang
7.              Jangan gampang minum obat untuk penyakit ringan seperti flu atau pusing.
Referensi: The Miracle of Enzyme karya Dr. Hiromi Shinya, MD

Baca Selengkapnya ....

Kata Dokter Anak Tentang Campak

Posted by Nasyithun Izzah Rabu, 17 Oktober 2012 5 komentar
Saat berumur 14 bulan Raihan terkena campak atau orang jawa bilang ‘gabag’. Awalnya aku tidak curiga saat badannya mulai sumeng. Kupikir itu karena pileknya. Beberapa hari Raihan pilek dulu sampai aku juga tertular flu. Meski suhu badannya agak hangat Raihan tetap kuajak jalan-jalan di luar rumah dan tetap bermain seperti biasa.
Hari jumat kepalaku pusing dan lemas. Badanku pun rasanya nggak enak. Aku mengira tertular pileknya Raihan, jadi aku banyak tidur dan untungnya Raihan pun tidurnya lama waktu siang. Setelah tidur badanku sudah agak mendingan tapi justru Raihan yang panas. Aku cemas masa ketularan aku? Bukannya aku yang ketularan Raihan?
Namun Raihan tidak segera kubawa ke dokter. Kami memang sudah terbiasa tidak buru-buru membawa Raihan periksa jika badannya panas. Bahkan saat umur 9 bulan Raihan terkena cacar air, aku dan suami tidak pergi ke dokter sama sekali. Kami mengobati sendiri di rumah dengan minum minyak habbatusauda yang diteteskan ke mulut Raihan. Berbekal informasi di mbah google yang mengatakan bahwa cacar disebabkan oleh virus maka kami memutuskan merawat sendiri.
Seperti yang diketahui sampai sekarang belum ada obat untuk membunuh virus. Obat-obatan yang ada hanya bisa meringankan gejala penyakit yang disebabkan virus. Jadi tidak langsung membunuh virusnya. Tubuhlah yang membentuk kekebalan tubuh dan lambat laun menghancurkan virus itu sehingga ketika virus yang sama menyerang lagi tubuh sudah kebal. Makanya penyakit cacar air hanya menyerang sekali seumur hidup.
Jadi cara terbaik melawan penyakit yang disebabkan virus adalah memperkuat daya tahan tubuh misalnya dengan makan yang banyak, mengkonsumsi vitamin, madu atau habbatussauda.
Kembali ke soal campak. Hari Sabtu panasnya semakin naik bahkan saat siang panasnya tinggi. Aku mulai khawatir tapi karena Raihan tidak terlalu rewel dan tidur  aku menunggu perkembangan selanjutnya. Saat sore, setelah bangun tidur, aku membuka bajunya untuk diganti ternyata di badannya ada bintik-bintik merah. Aku menduga ini gejala campak. Tapi karena takut salah diagnosa aku dan suami memutuskan pergi ke dokter.
Untung dokternya tidak terlalu antri. Anehnya walaupun sakit Raihan masih bisa main kuda-kudaan yang ada di ruang tunggu praktik. Dia tertawa-tawa dan melambaikan tangan. Begitu masuk ke ruang pemeriksaan dokter bertanya padaku:
Dokter  : kenapa ini, Bu?
Aku        : ini Dok, anak saya demam dan di badannya ada bintik-bintik merah
Dokter  : o, iya saya periksa dulu
Aku membaringkan Raihan ditempat tidur dan menyingkap bajunya ke atas. Dokter memeriksa dengan stetoskop dada dan perut Raihan.
Dokter  : ini gabag, Bu.
Aku        : gabag? Apa gabag itu sama dengan campak.
Dokter  : (agak gugup) iya sama. Gabag itu ya campak.
Aku        : (berbicara dalam hati: bukannya ada imunisasi campak, tapi kok masih bisa kena campak              ya?) kira-kira berapa lama sembuhnya, ya Dok?
Dokter  : kira-kira 3-5 hari. Apa pilek juga?
Aku        : Iya, sudah beberap hari (raihan) pilek.
Dokter  : Siapa lagi yang pilek di rumah? Apa ada obat penurun panas di rumah?
Aku        : saya pilek juga. Kalau obat penurun panas ada. Dulu dapat resep dari sini (waktu itu Raihan         katanya kena pneumonia)
Dokter  : kalau gitu saya beri resep untuk obat dan vitamin. Ibu tolong diusahakan pakai masker di             rumah.
Aku        : Ini obat buat apa ya?
Dokter  : (dengan wajah yang agak gimana gitu) obat untuk anti campak dan anti pileknya.
Aku manggut-manggut, nggak mau nanya panjang lebar. Walau bukan dokter gini-gini aku juga ngerti tentang penyakit yaa... dikit-dikit lah. Takut dokternya emosi gara-gara kebanyakan tanya. Sebenarnya percakapannya lebih panjang karena aku tanya ini-itu tapi takut yang baca jadi males ya disingkat saja hehe...
Dengan berbekal resep aku dan suami keluar. Kami berunding sebentar kira-kira ditebus nggak obatnya. Apalagi kami akhirnya jadi yakin bahwa Raihan kena campak. Setelah dipikir-pikir kami memutuskan pergi ke apotek tapi nggak langsung nebus, konsultasi dulu sama apotekernya.
 Untung apotekernya seorang wanita muda yang sabar dan ramah. Saat kutanya obat apa yang diresepkan mbak apoteker menjawab dengan sabar. Benar resep itu adalah obat dan vitamin. Obat disini adalah antibiotik untuk mencegah infeksi pilek. Lalu kutanya bisa tidak menebus vitaminnya saja. Mbak apotekernya bilang bisa, jadilah aku hanya menebus vitamin saja.
Sebenarnya aku melakukan itu semua bukan tanpa perhitungan atau nggak mau keluar uang banyak buat beli obat. Tapi karena aku tahu bahwa campak disebabkan oleh virus dan yang bisa membunuh virus adalah tubuh sendiri. Jadi aku berpikir lebih baik memperkuat daya tahan tubuhnya daripada memberikan antibiotik. Aku juga tahu maksud dokter memberi antibiotik supaya tidak ada infeksi sekunder yang disebabkan virus flu karena daya tahan tubuh sedang lemah menghadapi serangan virus campak.
Namun meihat kondisi Raihan yang masih bisa bermain dan masih mau minum ASI (sampai sekarang Raihan masih ASI full tanpa susu formula) aku yakin tubuhnya bisa kuat. Aku tidak mau membiasakan Raihan mengkonsumsi obat kimia karena pasti ada efek sampingnya. Semakin sering minum obat maka efektivitas obat semakin turun, karena tubuh membentuk sistem kekebalan sehingga bila sakit lagi harus menggunakan dosis yang lebih tinggi.
Aku lebih memilih cara tradisional seperti memberikan minyak habba, madu, parutan kunyit, atau air kelapa muda. Keesokan harinya suhu tubuhnya turun dan lusanya sudah tidak demam lagi. Padahal vitamin yang diberi dokter baru diminum satu sendok. Mungkin itu karena daya tahan tubuhnya yang bagus dan jarang terkena obat-obatan kimia. Lagi pula dokter bukan dewa dan bisa saja  memberi obat melebihi kebutuhan. Ada beberapa penyakit yang tidak perlu minum obat jadi tidak usah dipaksakan.
Kini saatnya menjadi pasien cerdas dan jangan hanya menerima begitu saja apa yang dikatakan orang lain, termasuk dokter. Kita perlu mencari second opinion atau opini kedua, agar bisa memutuskan lebih bijaksana. Bagi para Ibu jangan mudah panik saat anak sakit usahakan tenang dan berbicara dengan suami. Terkadang tidak semua penyakit perlu minum obat. Pada saat balita anak memang mudah sakit, namun sakit tersebut justru membuat tubuh kebal sehingga setelah besar nanti tubuh bisa melawan berbagai macam serangan virus, kuman, dan bakteri.
Jadi tidak usah gelisah saat anak sebentar-sebentar panas. Kalau panasnya tidak tinggi atau tidak sampai tiga hari lebih baik dirawat di rumah saja dan diperhatikan asupan gizi makanannya. Semoga pengalaman ini bisa bermanfaat. Selamat berjuang para Mommy!

Baca Selengkapnya ....

Dua Kebiasaan Terburuk: Alkohol dan Tembakau

Posted by Nasyithun Izzah Selasa, 02 Oktober 2012 0 komentar

Dunia medis masih sangat tergantung pada operasi pembedahan dan obat-obatan. Meski sudah diketahui secara luas bahwa penyakit jantung, diabetes, stroke, kanker, dan penyakit degeneratif lainnya disebabkan makanan dan gaya hidup yang buruk, namun tidak banyak dokter yang berusaha meningkatkan kesadaran pasien akan pentingnya mengubah kebiasaan mereka dan memperhatikan apa yang mereka makan.

You are what you eat, adalah slogan yang tepat untuk menggambarkan bahwa makanan membentuk tubuh seseorang. Kesehatan seseorang yang gemar makan sayur dan buah tentu berbeda dengan orang yang tiap hari dijejali makanan manis dan berlemak tinggi. Namun makanan sehatpun masih belum bisa menjaga tubuh dari ancaman penyakit jika kebiasaan yang dijalani adalah kebiasaan buruk. Apalagi yang makanannya tidak sehat ditambah kebiasaan buruk pula, ibarat telur di ujung tanduk tinggal menunggu pecah saja.
Yang terburuk dari kebiasaan-kebiasaan buruk adalah alkohol dan tembakau. Alasan terbesar keduanya dianggap terburuk karena keduanya menyebabkan kecanduan. Banyak orang yang tidak dapat melewatkan satu hari tanpa salah satu atau keduanya sekaligus.
Seorang perokok bisa diketahui lewat wajahnya. Orang yang merokok memiliki warna kulit keabu-abuan yang khas. Kulit Anda menjadi kelabu jika Anda merokok karena selain pembuluh-pembuluh darah kapiler menyempit serta mencegah oksigen dan nutrisi disebarkan ke sel-sel, hasil pembuangan dan pembusukan juga tidak dapat dikeluarkan dari tubuh. Dengan kata lain, perubahan warna kelabu tersebut adalah akibat racun yang terakumulasi dalam sel kulit.
Jika membicarakan bahaya rokok, biasanya hanya terfokus pada TAR yang menumpuk di paru-paru. Namun, satu hal yang juga sama serius dan berbahayanya bagi tubuh adalah penyempitan pembuluh kapiler di seluruh tubuh. Jika cairan tidak dapat mengalir, nutrisi yang dibawa dalam cairan tersebut juga tidak dapat mencapai beberapa bagian tubuh. Sisa hasil pembuangan pun tidak dapat dikeluarkan dari tubuh. Sebagai akibatnya hasil pembuangan menumpuk dan membusuk, serta menghasilkan racun.
Pernah melihat bibir perokok? Warna kehitaman yang muncul adalah akibat akumulasi racun. Tapi ternyata selain muncul di permukaan kulit, hal yang sama juga terjadi di dalam tubuh, pada bagian-bagian yang terhubung dengan ujung pembuluh kapiler.
Pembuluh darah orang yang mengkonsumsi alkohol sering menyempit seperti orang yang merokok setiap hari. Sebagian orang mengatakan bahwa sedikit alkohol bisa melonggarkan pembuluh darah sehingga meningkatkan sirkulasi darah. Bergantung dari jenis alkohol yang dikonsumsi, pembuluh darah hanya bisa melonggar sekitar 2-3 jam. Sebenarnya “pelonggaran pembuluh darah” ini pada akhirnya menyebabkan pembuluh darah menyempit.
Saat mengkonsumsi alkohol pembuluh darah Anda tiba-tiba melebar. Namun sebagai reaksinya tubuh berusaha mengantisipasinya dengan membuatnya menyempit. Jika pembuluh darah menyempit maka nutrisi dan hasil pembuangan tidak dapat diangkut.
Dengan cara ini alkohol dan tembakau menimbulkan sejumlah besar radikal bebas dalam tubuh. Zat antioksidan SOD dan enzim-enzim antioksidan seperti katalase, glutation, dan peroksidase bertugas menetralisir radikal bebas. Telah diketahui secara umum jika Anda sering merokok sejumlah besar vitamin C akan hancur karena vitamin C adalah salah satu zat antioksidan.
Enzim antioksidan dalam jumlah besar digunakan untuk menetralisir radikal bebas. Meski radikal bebas juga ditimbulkan oleh faktor-faktor di luar kendali kita seperti gelombang elektromagnetik dan polusi lingkungan, namun orang-orang masih juga memasukkan radikal bebas ke dalam tubuhnya padahal jika mau mereka bisa menghindarinya, yaitu alkohol dan rokok.
Enzim akan habis jika Anda terus menggunakannya secara cepat, sama seperti Anda akan sangat cepat berhutang banyak jika terus menggunakan kartu kredit tanpa pernah membayarnya. Mengikuti menu makan yang baik dan kebiasaan-kebiasaan yang baik sama halnya dengan menabung secara teratur. Jika setiap hari terus membelanjakan uang dalam jumlah besar, Anda akan menimbun utang yang mengerikan. Pada akhirnya kreditor akan mengejar Anda, dan dalam dunia enzim, ini berarti Anda jatuh sakit. Jika terus membelanjakan uang tanpa membayar hutang akhirnya Anda akan pailit. Dalam bidang kesehatan, kebangkrutan ini memiliki arti lebih serius daripada kebangkrutan finansial. Hasilnya adalah kematian.
Mungkin masih ada yang akan menanggapi bahwa sudah berpuluh tahun merokok masih tetap sehat dan tidak sakit-sakit. Tapi tidak sakit belum tentu sehat, jika yang Anda katakan sehat itu dengan bibir dan kulit menghitam, badan kurus, gigi kuning, dan mata cekung maka Anda adalah orang yang sangat optimis. Saat orang lain prihatin akan kesehatan Anda, Anda tetap merasa sehat dan yakin berumur panjang.
Banyak perdebatan soal tembakau dan alkohol tapi satu yang saya yakin disetujui semua pihak bahwa rokok dan minuman keras tidak bagus bagi kesehatan dan kantong Anda. Semakin banyak Anda merokok dan minum alkohol berarti semakin banyak pengeluaran dan semakin kaya pula pemilik perusahaan rokok dan minuman keras.
Semoga sehat selalu!
(Informasi didapat dari buku yang tengah saya baca: The Miracle of Enzyme)

Baca Selengkapnya ....
TEMPLATE CREDIT:
Tempat Belajar SEO Gratis Klik Di Sini - Situs Belanja Online Klik Di Sini - Original design by Bamz | Copyright of Ummi Raihan.